Bulatan Times –Mengonsumsi makanan cepat sajiatau makanan tidak sehat secara sering dapat menyebabkan individu mengalami penurunan daya ingat dengan cepat.
Riset terkini yang dilakukan oleh University of Sydney mengindikasikan bahwa pola konsumsi makanan yang kaya akan lemak dan gula dapat mengganggu fungsi otak. Ini terutama pada area yang bertanggung jawab dalam memori dan orientasi arah.
“Kita sudah lama tahu jika mengonsumsi terlalu banyak gula olahan dan lemak jenuh bisa meningkatkan risiko obesitas, penyakit metabolik, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker. Semua orang juga tahu kebiasaan makan yang tidak sehat dapat mempercepat timbulnya penurunan kognitif terkait usia. Ini terutama pada orang dewasa tengah dan lanjut usia,” jelas pemimpin studi ini, Dr. Dominic Tran dari Faculty of Science’s School of Psychology, melansir Science Daily, Sabtu (4/10/2025).
Tran menambahkan, studi ini menunjukkan bahwa pola makan mempunyai peran penting dalam kesehatan otak selama masa awal kedewasaan. Ini adalah suatu waktu di mana fungsi kognitif biasanya masih dalam kondisi baik.
Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal International Journal of Obesity, mengevaluasi korelasi antara pola konsumsi tinggi lemak dan tinggi gula (dikenal juga sebagai HFHS) dengan kemampuan otak untuk melakukan navigasi spasial.
Studi mengenai efek konsumsi fast food secara rutin terhadap otak

Dalam studi ini, 55 mahasiswa yang berusia antara 18 hingga 38 tahun turut serta. Mereka ditugaskan untuk menyelesaikan kuesioner yang berkaitan dengan pola konsumsi makanan mereka sehari-hari, termasuk makanan tinggi gula dan berlemak tinggi.
Setelahnya, diharapkan para peserta untuk melalui tes memori dan navigasi menggunakan realitas maya.
Dalam simulasi itu, peserta dituntut untuk mencari harta karun dalam labirin virtual sampai dengan enam kali. Titik awal dan tempat harta karun berada tetap tidak berubah dalam setiap percobaannya.
Orang-orang yang sering mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak dan gula yang tinggi, cenderung memiliki kesulitan yang lebih sering dalam mengenang letak harta. Ini dibandingkan dengan orang-orang yang jarang mengonsumsi jenis makanan tersebut.
Dalam uji coba yang ketujuh, tempat harta karun dihilangkan dari peta dan para peserta ditugaskan untuk menandainya berdasarkan memori mereka. Ternyata, peserta yang biasa mengkonsumsi makanan cepat saji dan makanan manis cenderung lebih sering melakukan kesalahan dalam menentukan lokasi tersebut.
Tran menjelaskan bahwa makanan cepat saji yang kaya akan lemak jenuh dan gula dapat mempengaruhi fungsi hipokampus. Bagian otak ini berperan penting dalam memori dan penentuan arah.
Apakah kerusakan memori yang terjadi akibat sering mengonsumsi makanan cepat saji dapat dipulihkan?
Situasi ini tidak bersifat tetap. Jika Anda mulai mengurangi asupan fast food dan meningkatkan konsumsi makanan sehat, termasuk sayuran, buah, serta protein yang seimbang, fungsi otak dapat dipulihkan.
“Kabar bagusnya, kami sangat yakin ini mudah dipulihkan. Perubahan pola makan mampu meningkatkan kesehatan hipokampus. Kemampuan kita untuk menavigasi lingkungan sekitar juga dapat kembali. Ini terutama ketika saat kita menjelajahi kota baru atau mempelajari rute pulang yang baru,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, ada kemungkinan hasil penelitian ini akan lebih signifikan jika diaplikasikan pada populasi yang lebih luas.
Alasan peneliti memilih mahasiswa sebagai subjek penelitian karena mereka umumnya memiliki gaya hidup yang lebih sehat. Ini dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.







