Bulatan Times – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 12 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen dialami anak usia 0–5 tahun.
Data terbaru itu disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Kasus tersebut tercatat di 63 kabupaten dan kota yang masuk dalam pemantauan kesehatan wilayah karhutla. Angka itu merupakan laporan kasus ISPA di daerah terdampak, bukan berarti seluruh kasus telah terbukti secara langsung disebabkan oleh asap kebakaran.
Tujuh provinsi yang selama ini menjadi fokus pemantauan Kemenkes meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Ganggu Kesehatan Warga dan Sekolah, DPR Desak Perlindungan
Sebanyak 62.400 Kasus ISPA Dialami Balita
Besarnya jumlah kasus pada balita menjadi perhatian karena anak usia dini lebih rentan terhadap gangguan kesehatan akibat polusi udara.
Menurut Kemenkes, asap karhutla mengandung partikel halus berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil, yang dikenal sebagai PM2.5, serta berbagai zat pencemar lain yang berbahaya bagi kesehatan.
Partikel tersebut dapat terhirup hingga bagian dalam paru-paru. Paparan asap dapat memicu batuk dan sesak napas, memperburuk asma, serta meningkatkan risiko gangguan pernapasan pada kelompok rentan.
Anak-anak lebih rentan karena paru-paru mereka masih dalam tahap perkembangan. Selain balita, kelompok yang membutuhkan perlindungan tambahan adalah ibu hamil, lansia, serta penderita asma dan penyakit paru kronis.
Kemenkes mengingatkan orang tua agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami napas cepat, sesak, atau kesulitan menyusu dan minum.
Penggunaan nebulizer atau alat terapi uap obat juga harus mengikuti indikasi dan petunjuk tenaga medis. Alat tersebut tidak dianjurkan digunakan sembarangan tanpa pemeriksaan.
Kemenkes Kerahkan 2.106 Tenaga Kesehatan
Untuk memperkuat pelayanan di wilayah terdampak, Kemenkes bersama pemerintah daerah telah memobilisasi 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan hingga 12 Oktober 2026.
Dukungan logistik juga disalurkan melalui pemerintah pusat dan daerah, termasuk lebih dari 2,8 juta masker untuk membantu perlindungan masyarakat.
Langkah tersebut disertai penguatan pemantauan penyakit, kesiapan fasilitas kesehatan, dan pelayanan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Sejumlah daerah telah menyiapkan ruang dengan udara lebih bersih dan fasilitas pendukung pernapasan. Kemenkes juga mendorong pemerintah daerah mengoptimalkan ruang perlindungan dari asap, terutama bagi bayi, balita, dan ibu hamil.
Penyediaan ruang tersebut perlu mempertimbangkan kondisi kualitas udara setempat serta koordinasi antara dinas kesehatan, badan penanggulangan bencana, dan perangkat daerah lainnya.
Baca Juga: Kabut Asap Memburuk, Sekolah di Pekanbaru Kembali Belajar dari Rumah 14–15 Oktober
Warga Diminta Mengurangi Paparan Asap Karhutla
Kemenkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap.
Jika harus keluar, masyarakat dianjurkan menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus.
Perlindungan bagi bayi dan balita lebih diutamakan dengan mengurangi paparan asap secara langsung, bukan mengandalkan pemakaian masker. Masker maupun respirator tidak boleh dipakaikan kepada anak berusia di bawah dua tahun.
Saat kondisi udara di luar memburuk, keluarga dianjurkan menjaga udara di dalam rumah tetap lebih bersih, mengurangi masuknya asap, dan menggunakan penyaring udara jika tersedia.
Selain gangguan pernapasan, paparan kabut asap berkepanjangan juga dapat memengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Gangguan sekolah, pekerjaan, dan aktivitas sehari-hari dapat menambah tekanan serta kecemasan, termasuk pada anak-anak.
Kemenkes meminta keluarga memperhatikan perubahan perilaku, pola tidur, dan pola makan anak selama kabut asap berlangsung.
Apabila keluhan kesehatan menetap atau semakin berat, masyarakat dianjurkan segera menghubungi fasilitas kesehatan tanpa menunggu kondisi memburuk.











