Bulatan Times – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan. Pada perdagangan Selasa (29/9/2026), rupiah di pasar spot sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Posisi itu menjadi perhatian karena pelemahan rupiah tidak hanya berpengaruh pada pasar keuangan. Jika berlangsung cukup lama, dampaknya dapat merambat ke biaya impor, harga barang yang menggunakan komponen luar negeri, hingga biaya pengadaan bahan bakar minyak.
Meski demikian, melemahnya rupiah tidak berarti seluruh harga barang langsung naik pada hari yang sama. Dampaknya bergantung pada jenis barang, stok yang tersedia, kontrak pembelian, kebijakan perusahaan, serta apakah produsen melakukan lindung nilai terhadap perubahan kurs.
Bank Indonesia mencatat JISDOR pada Senin (28/9/2026) berada di Rp17.965 per dolar AS. Angka tersebut berbeda dengan kurs spot intraday maupun kurs jual yang digunakan bank dan money changer untuk transaksi langsung.
Baca Juga: Kurs Rupiah Hari Ini 23 September 2026, Pasar Menanti Keputusan Bank Indonesia
Mengapa Rupiah Rp18.000 Membuat Impor Lebih Mahal?
Perusahaan yang membeli barang atau bahan baku dari luar negeri umumnya membutuhkan valuta asing untuk membayar pemasok.
Ketika rupiah melemah, jumlah rupiah yang diperlukan untuk memperoleh dolar menjadi lebih besar.
Sebagai gambaran, kebutuhan impor sebesar US$100.000 membutuhkan Rp1,75 miliar jika kurs berada di Rp17.500 per dolar AS. Pada kurs Rp18.000, kebutuhan rupiahnya menjadi Rp1,8 miliar.
Selisihnya mencapai Rp50 juta sebelum memperhitungkan biaya pengiriman, asuransi, bea masuk, dan komponen lainnya.
Tekanan seperti ini tidak selalu langsung diteruskan kepada konsumen. Perusahaan dapat menggunakan persediaan lama, melakukan lindung nilai, menekan margin, atau menunggu sebelum mengubah harga jual. Namun jika pelemahan kurs bertahan, ruang untuk menahan kenaikan biaya akan semakin kecil.
Apakah Harga BBM Bisa Ikut Naik?
Dampaknya berbeda antara BBM subsidi dan nonsubsidi.
Pemerintah sebelumnya memastikan harga BBM bersubsidi tidak dinaikkan hingga akhir 2026. Karena itu, pelemahan rupiah tidak otomatis membuat harga Pertalite dan Biosolar berubah di SPBU.
Tekanan justru lebih terbuka pada BBM nonsubsidi.
Harga produk nonsubsidi mempertimbangkan sejumlah komponen, termasuk harga minyak dan produk BBM di pasar internasional, MOPS atau Argus, serta pergerakan nilai tukar rupiah.
Situasinya menjadi lebih berat ketika rupiah melemah pada saat harga minyak dunia juga tinggi. Pada Selasa, Brent berada di sekitar US$105,91 per barel di tengah kekhawatiran terhadap pasokan dari Timur Tengah.
Artinya, badan usaha menghadapi dua tekanan sekaligus: kebutuhan dolar menjadi lebih mahal dan harga komoditas yang dibeli juga berada pada level tinggi.
Namun, kondisi tersebut belum dapat digunakan untuk memastikan harga Pertamax, Pertamax Turbo, Dexlite, atau Pertamina Dex akan naik pada periode berikutnya. Keputusan harga tetap menunggu evaluasi resmi masing-masing badan usaha.
Baca Juga: Harga BBM Oktober 2026 Bakal Naik? Ini Faktor yang Perlu Dicermati
Barang Impor Apa yang Paling Terasa Dampaknya?
Barang jadi yang langsung diimpor biasanya menjadi kelompok yang paling mudah terkena perubahan kurs.
Gawai, laptop, elektronik rumah tangga, kendaraan tertentu, suku cadang, kosmetik impor, serta berbagai produk bermerek luar negeri dapat menghadapi biaya pengadaan yang lebih tinggi ketika dolar menguat.
Dampak juga dapat muncul pada produk buatan dalam negeri yang masih memakai bahan baku impor.
Industri farmasi, misalnya, masih bergantung pada bahan baku, bahan penolong, dan sejumlah mesin yang berasal dari luar negeri. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi sebelum akhirnya memengaruhi margin perusahaan atau harga produk.
Hal serupa berlaku pada sektor pangan yang menggunakan gandum, kedelai, gula mentah, susu, atau bahan penolong impor.
Karena itu, barang yang terlihat diproduksi di Indonesia belum tentu sepenuhnya bebas dari pengaruh kurs dolar.
Pelemahan Rupiah Bisa Memicu Imported Inflation
Bank Indonesia menilai stabilitas nilai tukar penting untuk membatasi risiko imported inflation, yakni tekanan harga di dalam negeri yang berasal dari meningkatnya biaya barang dan bahan baku impor.
Risiko tersebut meningkat ketika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan kenaikan harga komoditas global.
Tekanan kurs juga berpengaruh terhadap keuangan negara jika pemerintah memilih mempertahankan harga energi bersubsidi.
Kementerian Keuangan sebelumnya mencatat belanja subsidi dan kompensasi mencapai Rp331,4 triliun hingga akhir Agustus 2026. Pergerakan harga minyak dan depresiasi rupiah termasuk faktor yang memengaruhi besarnya pengeluaran tersebut.
Dengan harga BBM subsidi tetap, sebagian tekanan harga energi tidak langsung berpindah ke konsumen, tetapi dapat lebih dahulu masuk ke beban subsidi dan kompensasi pemerintah.
Tembus Rp18.000 Bukan Berarti Semua Harga Langsung Berubah
Level Rp18.000 lebih tepat dibaca sebagai tanda tekanan nilai tukar semakin besar, bukan titik yang otomatis mengubah seluruh harga barang.
Kurs transaksi masyarakat juga bisa berbeda.
Sebagai contoh, kurs e-rate BCA pada Selasa pagi tercatat Rp17.905 untuk kurs beli dolar AS dan Rp17.995 untuk kurs jual. Sementara kurs jual TT Counter sudah berada di Rp18.050.
Perbedaan tersebut terjadi karena kurs spot, JISDOR, kurs bank, dan kurs money changer memiliki fungsi dan waktu pembaruan yang berbeda.
Dampak yang lebih besar terhadap harga konsumen akan bergantung pada seberapa lama rupiah berada di level lemah, perkembangan minyak dunia, keputusan harga badan usaha, serta kemampuan produsen dan importir menahan kenaikan biaya.











