BULATANTIMES.COM — Sebanyak 2.945 titik panas atau hotspot terdeteksi di Pulau Sumatra pada Senin (24/8/2026). Data tersebut merupakan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru hingga pukul 07.00 WIB.
Hotspot tersebut tersebar di 10 provinsi. Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 1.429 titik.
Baca Juga: Prabowo Tiba di Riau, Pastikan Karhutla Tuntas
Sementara itu, Riau berada di posisi kedua dengan 491 titik panas.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Gita Dewi S, mengatakan sebaran hotspot di Sumatra saat ini cukup tinggi dan tersebar di sejumlah wilayah.
“Wilayah lain yang turut menyumbang angka tinggi adalah Provinsi Riau dengan 491 titik, Jambi 437 titik, Lampung 203 titik dan Bangka Belitung dengan 115 titik,” kata Gita, dikutip dari ANTARA.
Riau Catat 491 Hotspot
Dari total 491 titik panas yang terdeteksi di Riau, sebarannya terdapat di sejumlah kabupaten dan kota.
Pelalawan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 239 titik. Berikutnya Indragiri Hilir dengan 166 titik.
Baca Juga: Istana Bantah Haji Isam Jadi Koordinator Utama Pemadaman Karhutla
Sementara itu, 30 titik panas terdeteksi di Bengkalis. Indragiri Hulu mencatat 13 titik, Rokan Hulu 12 titik, dan Kampar sembilan titik.
Hotspot juga terpantau di Rokan Hilir sebanyak delapan titik, Siak tujuh titik, Kuantan Singingi empat titik, serta Kota Dumai tiga titik.
Data tersebut menunjukkan bahwa Pelalawan dan Indragiri Hilir menjadi dua wilayah yang paling banyak menyumbang titik panas di Riau.
Kondisi Udara Pekanbaru Mulai Terdampak
Meningkatnya jumlah titik panas juga berdampak terhadap kondisi udara di Pekanbaru.
Pada Minggu (23/8/2026) malam, jarak pandang di wilayah tersebut dilaporkan hanya sekitar 2,5 kilometer dalam kondisi berasap.
Kondisi kualitas udara juga sempat memburuk. Berdasarkan parameter PM2,5, kualitas udara pada dini hari hingga pagi hari masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat selama beberapa jam.
Situasi tersebut menjadi perhatian karena asap dari kebakaran hutan dan lahan dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, terutama kelompok yang rentan terhadap gangguan kualitas udara.
Sekolah di Pekanbaru Beralih ke Pembelajaran Daring
Dampak kondisi udara tersebut juga dirasakan sektor pendidikan.
Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru menerapkan pembelajaran jarak jauh atau daring dari rumah bagi peserta didik pada Senin (24/8/2026).
Kebijakan tersebut berlaku untuk sejumlah jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah pertama.
Pembelajaran daring dilakukan sebagai langkah untuk mengurangi aktivitas siswa di luar ruangan ketika kondisi udara belum memungkinkan untuk kegiatan belajar tatap muka.
Karhutla Riau Hanguskan Ratusan Hektare
Selain tingginya jumlah hotspot, kebakaran lahan di Riau dalam beberapa hari terakhir juga telah menyebabkan ratusan hektare lahan terbakar.
Data Manggala Agni mencatat luas lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 800 hektare.
Indragiri Hulu menjadi daerah dengan luasan kebakaran terbesar, mencapai sekitar 471 hektare. Pelalawan menyusul dengan luas sekitar 300 hektare, sedangkan Kampar mencatat kebakaran dalam luasan puluhan hektare.
Baca Juga: 25 Agustus 2026 Libur Apa? Cek Tanggal Merah dan Cuti Bersama
Besarnya area yang terdampak membuat penanganan karhutla di Riau membutuhkan koordinasi berbagai pihak.
Hotspot Tidak Selalu Berarti Kebakaran
Meski jumlah hotspot menjadi indikator penting dalam pemantauan kebakaran, titik panas tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan kejadian kebakaran.
Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu yang terdeteksi melalui pemantauan satelit. Karena itu, titik yang terdeteksi tetap perlu diverifikasi oleh petugas di lapangan.
Verifikasi diperlukan untuk memastikan apakah titik tersebut benar-benar merupakan kebakaran, sekaligus mengetahui lokasi dan luas area yang terdampak.
Sumber: BMKG Stasiun Pekanbaru, ANTARA, Manggala Agni, dan TIMES Indonesia.











