Bulatan Times – Jack Miller menilai tekanan ban yang meningkat terlalu tinggi membuat Yamaha YZR-M1 sulit dikendalikan saat balapan utama MotoGP Jepang 2026 di Mobility Resort Motegi, Minggu (4/10/2026).
Pembalap Prima Pramac Yamaha itu memulai balapan dari posisi ke-20. Pada lap-lap awal, Miller berada di kelompok bersama Alex Rins, Toprak Razgatlioglu, dan Somkiat Chantra sebelum mulai kesulitan mempertahankan ritme.
Menurut Miller, tekanan ban depan dan belakang meningkat ketika ia berada di belakang pembalap lain. Kondisi tersebut membuat motor lebih mudah mengalami penguncian roda dan mengurangi rasa percaya diri saat pengereman.
“Masalah terbesar adalah tekanan. Motor menjadi sulit dikendarai,” kata Miller, dikutip dari Crash.
Miller menilai tim terlalu konservatif menentukan tekanan awal ban. Ia berangkat dari barisan belakang, sehingga sejak awal sudah memperkirakan akan berada di tengah lalu lintas dan menerima panas dari motor lain.
Baca Juga: Quartararo Kritik Pembalap MotoGP karena Abaikan Ban Hard di Motegi
Pace Warm-up Hilang saat Balapan
Perbedaan performa paling terasa jika dibandingkan dengan sesi warm-up pada Minggu pagi.
Miller menggunakan ban depan yang sebelumnya sudah menempuh 15 lap pada Sprint, dipasangkan dengan ban belakang hard baru. Dengan kombinasi tersebut, ia mampu menjaga catatan waktu di kisaran 1 menit 44 detik dan menutup stint dengan 1 menit 44,1 detik.
Saat Grand Prix, kecepatannya justru turun. Miller mengaku kesulitan menembus catatan 1 menit 45 detik karena motor tidak memberikan rasa yang sama seperti pada warm-up.
Masalah itu berlanjut hingga lap ke-19 dari total 24 lap. Miller akhirnya terjatuh, tetapi masih dapat kembali ke lintasan dan meneruskan balapan.
Setelah kembali dalam kondisi lintasan yang lebih kosong, ia merasakan perilaku ban belakang membaik. Miller mengaitkannya dengan temperatur dan tekanan ban yang sempat turun setelah tidak lagi berada di tengah rombongan.
Data resmi MotoGP mencatat Miller tetap mencapai garis finis di posisi ke-19 dengan selisih 1 menit 11,127 detik dari Marc Marquez yang memenangi balapan.
Ban Hard Berubah dari Pilihan Terakhir
Persoalan ban sudah menjadi perhatian sejak Sprint sehari sebelumnya. Miller merupakan salah satu dari hanya dua pembalap yang memakai ban belakang medium dan menemukan blistering atau kerusakan akibat panas pada bannya.
Michelin kemudian mencabut ban soft dari alokasi untuk Grand Prix. Ban medium tetap tersedia, sedangkan ban hard dengan konstruksi yang lebih tahan panas direkomendasikan untuk race Minggu.
Ban hard tersebut bahkan belum digunakan seorang pun pada Jumat dan Sabtu. MotoGP kemudian memperpanjang warm-up dari 10 menjadi 20 menit agar para pembalap memiliki waktu untuk mencobanya sebelum race.
Penilaian Miller terhadap ban itu berubah setelah warm-up. Sebelum akhir pekan berlangsung, ia sempat meragukan kegunaan konstruksi hard di Motegi. Setelah mencobanya, Miller justru menilai performanya jauh lebih baik dari perkiraan.
Pada akhirnya, seluruh grid memilih kombinasi ban depan medium dan belakang hard untuk balapan utama.
Baca Juga: Aprilia Belum Yakin Ban Hard Atasi Blistering di MotoGP Jepang 2026
Yamaha Masih Kesulitan di Motegi
Miller bukan pembalap Yamaha terbaik pada balapan tersebut. Fabio Quartararo menjadi rider Yamaha dengan posisi tertinggi setelah finis ke-12, sedangkan pembalap YZR-M1 lainnya berada di luar zona poin.
Miller juga menyoroti tenaga motor dan kemampuan Yamaha memberikan beban ke ban belakang sebagai bagian yang masih perlu ditingkatkan. Ia berharap karakter ban dengan konstruksi diperkuat dapat bekerja lebih baik ketika MotoGP berlanjut ke Indonesia.
MotoGP Indonesia dijadwalkan berlangsung di Pertamina Mandalika International Circuit pada 9–11 Oktober 2026.









