Bulatan Times – Fabio Quartararo menilai para pembalap MotoGP melakukan kesalahan dengan mengabaikan ban belakang hard sepanjang Jumat dan Sabtu di MotoGP Jepang 2026. Ban yang semula dianggap sebagai pilihan cadangan itu justru dipakai seluruh pembalap pada balapan utama di Mobility Resort Motegi.
Perubahan terjadi setelah masalah blistering dan temperatur tinggi muncul pada ban belakang ketika Sprint. Michelin kemudian menarik ban soft dari alokasi balapan Minggu, tetap menyediakan medium, dan merekomendasikan hard dengan konstruksi carcass yang diperkuat.
Ban hard tersebut belum pernah digunakan selama sesi Jumat maupun Sabtu. Para pembalap baru mencobanya pada warm-up Minggu pagi setelah durasi sesi diperpanjang dari 10 menjadi 20 menit.
“Saya pikir kami agak bodoh karena tidak mempertimbangkan ban ini,” kata Quartararo, dikutip dari Crash.net.
Baca Juga: Aprilia Belum Yakin Ban Hard Atasi Blistering di MotoGP Jepang 2026
Ban Hard Baru Dicoba pada Warm-up
Michelin membawa tiga pilihan ban belakang ke Motegi karena karakter aspal baru membuat data sebelumnya tidak sepenuhnya bisa dijadikan acuan. Soft dan medium menggunakan konstruksi standar, sedangkan opsi hard memakai carcass yang lebih kaku dan tahan terhadap beban panas.
Label hard juga tidak berarti lapisan karetnya sekadar lebih keras. Pada spesifikasi yang dibawa ke Motegi, perbedaan penting berada pada konstruksi ban, sementara komposisi lapisan karetnya memiliki kesamaan dengan opsi soft.
Sebelum Sprint, pilihan tersebut dipandang sebagai ban cadangan. Tidak ada pembalap yang menggunakannya dalam sesi Jumat atau Sabtu.
Situasi berubah setelah beberapa pembalap mengalami kerusakan ban belakang pada Sprint. Michelin mencoret soft untuk Grand Prix dan memberi tambahan waktu warm-up agar seluruh grid bisa menguji hard sebelum balapan 24 lap.
Marc Marquez menjadi yang tercepat pada warm-up menggunakan ban belakang hard. Quartararo berada di posisi keempat dalam sesi tersebut.
Seluruh pembalap kemudian memilih kombinasi ban depan medium dan belakang hard untuk balapan utama.
Quartararo Nilai Ban Hard Cocok untuk Yamaha
Quartararo melihat manfaat ban tersebut tidak hanya untuk daya tahan saat race. Menurutnya, karakter carcass yang lebih kaku juga mengurangi gerakan naik-turun atau pumping pada Yamaha YZR-M1 ketika berakselerasi.
Kondisi itu membuatnya merasa motor berpotensi menggunakan tenaga lebih besar ketika keluar tikungan. Quartararo bahkan menilai ban tersebut mungkin bisa menjadi pilihan yang lebih baik untuk mengejar waktu satu lap dibanding soft dalam karakter motornya di Motegi.
Penilaian serupa muncul dari Francesco Bagnaia. Pembalap Ducati itu mengakui para rider keliru karena tidak mencoba spesifikasi hard lebih awal sepanjang akhir pekan.
Hasil Grand Prix memperkuat perubahan penilaian tersebut. Marquez memenangi balapan dengan ban belakang hard, diikuti Jorge Martin dan Marco Bezzecchi.
Baca Juga: Marc Marquez Menang MotoGP Jepang 2026, Jarak ke Martin Tinggal 2 Poin
Masalah Bahan Bakar Batasi Quartararo
Pilihan ban yang bekerja lebih baik tidak langsung menghasilkan posisi tinggi bagi Quartararo. Pembalap Monster Energy Yamaha itu finis ke-12 dengan selisih 30,867 detik dari Marquez.
Quartararo mengalami persoalan konsumsi bahan bakar sejak sekitar lap ketujuh. Ia harus mengurangi bukaan gas di sejumlah bagian lintasan agar dapat membawa motor hingga garis finis.
Pada beberapa lintasan lurus, Quartararo menyebut hanya menggunakan sekitar 70 persen bukaan gas. Kondisi itu membuatnya kehilangan kecepatan sekalipun ia merasa performanya saat mengendarai motor cukup baik.
Masalah konsumsi bahan bakar juga bukan pertama kalinya muncul pada Yamaha dalam beberapa seri terakhir. Quartararo sebelumnya menghadapi kendala serupa di Misano.











