JAKARTA, BULATAN TIMES – PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) membukukan laba bersih sebesar Rp. 21 miliar hingga akhir September 2026. Pada periode yang sama, tabungan digital perseroan tumbuh 35,6 persen secara tahunan menjadi Rp. 2,4 triliun.
Pertumbuhan layanan digital juga terlihat dari aktivitas nasabah melalui Aplikasi Raya. Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, jumlah transaksi mencapai 4,9 juta atau meningkat 44,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski bisnis digital berkembang, laba Bank Raya masih lebih rendah dibandingkan sembilan bulan pertama 2025 yang mencapai Rp. 41,97 miliar.
Direktur Utama Bank Raya Ida Bagus Ketut Subagia menyampaikan bahwa perusahaan terus memperkuat layanan digital, mengelola sumber pendanaan, dan menjaga kualitas kredit untuk mendukung kinerja bisnis.
Baca Juga: IHSG Variatif, Investor Tunggu The Fed dan Kinerja Bank
Tabungan Digital Naik, Dana Murah Meningkat
Pertumbuhan tabungan digital turut memperbaiki komposisi dana pihak ketiga Bank Raya.
Rasio dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) mencapai 35,83 persen pada akhir September 2026. Angka tersebut meningkat dari 29,78 persen pada periode yang sama tahun lalu.
CASA menunjukkan porsi dana giro dan tabungan dalam penghimpunan dana bank. Peningkatan rasio ini berarti kontribusi kedua jenis simpanan tersebut terhadap struktur pendanaan Bank Raya semakin besar.
Selain memperluas penghimpunan dana, Bank Raya mengembangkan transaksi dan pengelolaan keuangan nasabah melalui Aplikasi Raya.
Baca Juga: Kartu Kredit Indonesia Resmi Diluncurkan: Pengertian, Fungsi, Bank Penerbit, dan Cara Pakainya
Penyaluran Kredit Digital Capai Rp. 24,73 Triliun
Dari sisi pembiayaan, akumulasi penyaluran kredit digital Bank Raya mencapai Rp. 24,73 triliun hingga September 2026, meningkat 20 persen secara tahunan.
Sementara itu, saldo kredit digital yang masih berjalan atau outstanding tercatat Rp. 3,04 triliun, tumbuh 11,3 persen dibandingkan September 2025.
Salah satu penyumbang penyaluran kredit digital adalah Pinang Dana Talangan, produk pembiayaan bagi agen BRILink dan agen gadai.
Sepanjang sembilan bulan pertama 2026, penyaluran Pinang Dana Talangan mencapai Rp. 22,01 triliun kepada lebih dari 72.000 agen. Nilai penyaluran tersebut tumbuh 25,3 persen secara tahunan, sedangkan saldo kredit yang masih berjalan mencapai Rp. 1,2 triliun.
Produk pembiayaan lainnya, Pinang Maksima, mencatat outstanding sebesar Rp. 1 triliun, meningkat 47,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kredit Bermasalah Menurun
Di tengah pertumbuhan pembiayaan digital, Bank Raya juga mencatat penurunan rasio kredit bermasalah.
Rasio kredit bermasalah bruto atau Non Performing Loan (NPL) gross turun menjadi 2,53 persen, berkurang 2,03 poin persentase dibandingkan September 2025.
Adapun NPL net turun menjadi 0,41 persen, atau lebih rendah 1,31 poin persentase secara tahunan.
Dari sisi pendapatan bunga, Net Interest Margin (NIM) meningkat menjadi 5,83 persen, naik 0,83 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Bank Raya juga mencatat rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 42,35 persen pada akhir September 2026.





