21 °c
Ashburn
14 ° Sel
14 ° Rab
Selasa, Oktober 6, 2026
  • Login
Bulatan Times
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • ENTERTAINMENT
  • KULINER
  • GAME
  • OTOMOTIF
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • ENTERTAINMENT
  • KULINER
  • GAME
  • OTOMOTIF
No Result
View All Result
Bulatan Times
No Result
View All Result
Home ENTERTAINMENT

Maudy Ayunda Akui Ada Privilese di Balik “Diet Berita” setelah Konten Mindfulness Dikritik

Maudy Ayunda mengakui kemampuan menjauh dari arus berita merupakan sebuah privilese setelah video mindfulness miliknya memicu perdebatan di media sosial.

Redaksi Bulatan Times by Redaksi Bulatan Times
3 minggu ago
in ENTERTAINMENT
0
Maudy Ayunda dalam unggahan video di media sosial

Maudy Ayunda. Foto: Instagram

1
SHARES
9
VIEWS

Bulatan Times – Perdebatan mengenai video mindfulness Maudy Ayunda memasuki babak baru setelah penyanyi dan aktris tersebut mengakui bahwa kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dari arus berita merupakan sebuah privilese.

Pernyataan itu disampaikan Maudy melalui komentar yang disematkan pada video YouTube “Mindfulness in the Age of Bad News”. Video tersebut sebenarnya telah tayang sejak 21 Agustus 2026, tetapi kembali menjadi pembicaraan luas di media sosial pada September setelah sebagian pengguna internet menilai pendekatan yang disampaikan kurang mempertimbangkan pengalaman orang-orang yang terkena dampak langsung berbagai persoalan.

Baca Juga: Abah Didi Viral di Media Sosial, Isu Kehidupan Pribadi Belum Terverifikasi

Maudy kemudian meminta maaf karena perspektif tersebut belum cukup ia refleksikan ketika membuat video.

“Being able to step away from the news is itself a privilege.”

Ia menambahkan bahwa tidak semua orang mempunyai pilihan untuk menjauh, khususnya ketika sebuah peristiwa berdampak langsung terhadap kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka.

Video Awalnya Berangkat dari Pengalaman Pribadi

Pembahasan Maudy pada mulanya bukan tentang berhenti mengikuti persoalan sosial. Ia menceritakan pengalaman pribadi menghadapi derasnya informasi negatif yang menurutnya membuat kondisi emosional ikut terkuras.

Dalam video tersebut, Maudy mengaku dapat merasa kewalahan, tidak berdaya, menangis, hingga marah ketika menerima kabar buruk secara terus-menerus. Pertanyaan yang ingin ia bahas adalah bagaimana seseorang tetap mengikuti keadaan dan mempertahankan kepedulian tanpa membuat dirinya kehilangan kemampuan untuk berfungsi.

Salah satu cara yang ia terapkan adalah membatasi konsumsi informasi. Maudy memilih sumber yang dianggap dapat dipercaya, lebih menyukai pembahasan yang komprehensif dibanding potongan informasi, serta mencari penjelasan dari orang yang dinilai memahami persoalan tertentu.

Strategi semacam itulah yang kemudian banyak dibaca sebagai “diet berita”.

Persoalannya, pesan tersebut diterima dalam situasi ketika sejumlah masalah yang dibicarakan bukan sekadar informasi dari kejauhan bagi sebagian masyarakat. Kritik kemudian muncul karena pilihan untuk mematikan layar atau berhenti membaca berita tidak serta-merta menghilangkan dampak persoalan dari kehidupan orang yang mengalaminya langsung.

Mengapa Muncul Kritik “Tak Napak Tanah”?

Istilah seperti “tone deaf” dan “tak napak tanah” muncul dari reaksi sebagian pengguna media sosial, bukan merupakan kesimpulan faktual tentang pribadi Maudy.

Inti kritiknya terutama tertuju pada kesenjangan pengalaman: sesuatu yang dapat diperlakukan sebagai paparan informasi bagi satu orang dapat menjadi kondisi sehari-hari bagi orang lain.

Perdebatan berkembang karena sebagian warganet menilai framing mengenai bad news dan langkah mengambil jarak dari informasi tidak sepenuhnya menangkap posisi masyarakat yang menghadapi persoalan tersebut secara langsung.

Pembahasan yang semula berkaitan dengan kesehatan mental kemudian bergeser menjadi diskusi mengenai privilese dan kepekaan sosial seorang figur publik.

Baca Juga: Raditya Dika Hapus Podcast Bersama Nagita Slavina

Perbedaan konteks ini penting karena tidak semua kritik terhadap video tersebut berarti menolak gagasan menjaga kesehatan mental. Yang dipersoalkan sebagian audiens justru adalah apakah solusi berupa mengambil jarak dapat disampaikan tanpa terlebih dahulu membedakan antara orang yang hanya menyaksikan suatu krisis dan mereka yang hidup di dalam dampaknya.

Maudy Ayunda: Mindfulness Bukan Alasan untuk Berhenti Peduli

Dalam tanggapannya, Maudy menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menjadikan mindfulness sebagai alasan untuk menjauh dari kenyataan atau berhenti peduli.

Ia mengatakan video tersebut berangkat dari pergulatan pribadinya untuk tetap mengikuti keadaan sambil menjaga kemampuan dirinya agar tetap bisa hadir dan terlibat secara berarti. Maudy juga menyebut berbagai situasi sulit, termasuk kebakaran hutan dan lahan, gempa, serta kebijakan atau program yang berdampak langsung kepada masyarakat.

Maudy menyampaikan bahwa mindfulness yang dimaksudnya justru seharusnya membantu seseorang tetap hadir dan peka terhadap orang yang terdampak, bukan membuat keadaan seolah baik-baik saja.

Ia kemudian berterima kasih atas kritik dan perspektif tambahan yang diterimanya serta mengatakan dirinya mendengarkan dan belajar dari masukan tersebut.

Polemiknya Bukan Sekadar soal Mindfulness

Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa cara menyampaikan pesan mengenai kesehatan mental dapat berubah makna ketika bertemu dengan konteks sosial.

Membatasi paparan informasi bisa menjadi strategi pribadi bagi seseorang yang merasa kewalahan. Namun, strategi individual itu tidak otomatis dapat diterapkan dengan kondisi yang sama kepada setiap orang.

Bagi mereka yang terdampak langsung oleh bencana, masalah ekonomi, kebijakan publik, atau persoalan lain, berita dapat menjadi informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan dalam kehidupan nyata.

Respons terbaru Maudy pada akhirnya menyentuh titik tersebut. Ia tidak menarik kembali seluruh gagasan mengenai mindfulness, tetapi mengakui bahwa ada dimensi privilese yang sebelumnya belum cukup masuk dalam refleksinya.

Dengan begitu, polemik yang awalnya berkembang melalui label “tak napak tanah” kini memiliki konteks yang lebih lengkap: bermula dari refleksi pribadi mengenai kelelahan menghadapi arus informasi, mendapat kritik karena dianggap kurang memasukkan pengalaman masyarakat terdampak, lalu direspons Maudy dengan permintaan maaf dan pengakuan atas keterbatasan perspektif tersebut.

Source: Maudy Ayunda/YouTube, Tirto
Tags: Maudy Ayunda

Related Posts

Seorang perempuan dan pria berpose bersama di dalam ruangan
ENTERTAINMENT

Kuasa Hukum Sarwendah Ungkap Alasan Anak Belum Mau Bertemu Ruben Onsu

Oktober 3, 2026
Jerome Polin dan Gracia Caroline berpose dengan latar Gunung Fuji
ENTERTAINMENT

Jerome Polin Lamar Gracia Caroline di Jepang, Gunung Fuji Jadi Latar Momen Pertunangan

September 27, 2026
Indra Kenz
ENTERTAINMENT

Indra Kenz Keluar dari Lapas Cibinong, Bebas Bersyarat dan Wajib Lapor hingga 2030

September 25, 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Presiden Prabowo Subianto saat menjadi inspektur upacara HUT ke-81 TNI

Prabowo Pimpin HUT ke-81 TNI, Resmikan 204 Satuan Baru dan Enam Kodam

Oktober 5, 2026
Kereta Api Nusantara Explorer milik KAI

Harga Nusantara Explorer, Rute, Fasilitas dan Cara Naik Kereta Wisata Premium KAI

September 29, 2026
harga emas hari ini 5 Oktober 2026 yang bergerak naik

Harga Emas Hari Ini Senin 5 Oktober 2026: Antam Naik Rp. 6.000 Jadi Rp. 2,58 Juta

Oktober 5, 2026
Puan Maharani menghadiri upacara HUT ke-81 TNI di Mabes TNI

Puan Ingatkan TNI Tetap Berpihak pada Rakyat di Tengah Modernisasi Pertahanan

Oktober 5, 2026
Logo Gemini

Mulai 9 Oktober, Pengguna Gemini Gratis Hanya Bisa Pakai Flash-Lite

John Herdman pelatih Timnas Indonesia

John Herdman Ubah Taktik di Final, Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Timnas Indonesia merayakan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Kalahkan Thailand 4-2 Lewat Adu Penalti

Sirkuit Mandalika jelang MotoGP Indonesia 2026

Sirkuit Mandalika 99,5 Persen Siap untuk MotoGP Indonesia 2026

Logo Gemini

Mulai 9 Oktober, Pengguna Gemini Gratis Hanya Bisa Pakai Flash-Lite

Oktober 6, 2026
John Herdman pelatih Timnas Indonesia

John Herdman Ubah Taktik di Final, Timnas Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026

Oktober 6, 2026
Timnas Indonesia merayakan gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026

Indonesia Juara FIFA ASEAN Cup 2026, Kalahkan Thailand 4-2 Lewat Adu Penalti

Oktober 5, 2026
Sirkuit Mandalika jelang MotoGP Indonesia 2026

Sirkuit Mandalika 99,5 Persen Siap untuk MotoGP Indonesia 2026

Oktober 5, 2026

Tentang Kami

BulatanTimes.com

Situs berita digital yang meliput peristiwa dan menuliskannya secara berimbang.

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Penghapusan Data Pengguna
  • Ketentuan Layanan
  • Kebijakan Privasi
  • Indeks
  • Pedoman Media Siber

Newsletter

© 2026 BulatanTimes.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Kelola Persetujuan

Kami Menggunakan Cookie
Bulatan Times menggunakan cookie dan teknologi serupa untuk membantu menjalankan situs, memahami penggunaan website, meningkatkan pengalaman pembaca, serta mendukung penayangan iklan yang relevan. Anda dapat menerima, menolak, atau mengatur preferensi cookie.

Fungsional Selalu aktif
Penyimpanan atau akses teknis yang diperlukan untuk menjalankan layanan dan fungsi dasar website.
Preferences
The technical storage or access is necessary for the legitimate purpose of storing preferences that are not requested by the subscriber or user.
Statistik
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk memahami penggunaan website dan meningkatkan layanan. The technical storage or access that is used exclusively for anonymous statistical purposes. Without a subpoena, voluntary compliance on the part of your Internet Service Provider, or additional records from a third party, information stored or retrieved for this purpose alone cannot usually be used to identify you.
Pemasaran
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk mendukung penayangan iklan dan mengukur efektivitasnya.
  • Kelola pilihan
  • Kelola layanan
  • Kelola {vendor_count} vendor
  • Baca selengkapnya tentang tujuan ini
Lihat Preferensi
  • {title}
  • {title}
  • {title}
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
      • Liga Indonesia
      • Liga Inggris
      • Liga Italia
      • Liga Spanyol
    • MOTOGP
    • F1
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • ENTERTAINMENT
  • KULINER
  • GAME
  • OTOMOTIF

© 2026 Bulatan Times