Bulatan Times – Perdebatan mengenai video mindfulness Maudy Ayunda memasuki babak baru setelah penyanyi dan aktris tersebut mengakui bahwa kemampuan seseorang untuk mengambil jarak dari arus berita merupakan sebuah privilese.
Pernyataan itu disampaikan Maudy melalui komentar yang disematkan pada video YouTube “Mindfulness in the Age of Bad News”. Video tersebut sebenarnya telah tayang sejak 21 Agustus 2026, tetapi kembali menjadi pembicaraan luas di media sosial pada September setelah sebagian pengguna internet menilai pendekatan yang disampaikan kurang mempertimbangkan pengalaman orang-orang yang terkena dampak langsung berbagai persoalan.
Baca Juga: Abah Didi Viral di Media Sosial, Isu Kehidupan Pribadi Belum Terverifikasi
Maudy kemudian meminta maaf karena perspektif tersebut belum cukup ia refleksikan ketika membuat video.
“Being able to step away from the news is itself a privilege.”
Ia menambahkan bahwa tidak semua orang mempunyai pilihan untuk menjauh, khususnya ketika sebuah peristiwa berdampak langsung terhadap kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitas mereka.
Video Awalnya Berangkat dari Pengalaman Pribadi
Pembahasan Maudy pada mulanya bukan tentang berhenti mengikuti persoalan sosial. Ia menceritakan pengalaman pribadi menghadapi derasnya informasi negatif yang menurutnya membuat kondisi emosional ikut terkuras.
Dalam video tersebut, Maudy mengaku dapat merasa kewalahan, tidak berdaya, menangis, hingga marah ketika menerima kabar buruk secara terus-menerus. Pertanyaan yang ingin ia bahas adalah bagaimana seseorang tetap mengikuti keadaan dan mempertahankan kepedulian tanpa membuat dirinya kehilangan kemampuan untuk berfungsi.
Salah satu cara yang ia terapkan adalah membatasi konsumsi informasi. Maudy memilih sumber yang dianggap dapat dipercaya, lebih menyukai pembahasan yang komprehensif dibanding potongan informasi, serta mencari penjelasan dari orang yang dinilai memahami persoalan tertentu.
Strategi semacam itulah yang kemudian banyak dibaca sebagai “diet berita”.
Persoalannya, pesan tersebut diterima dalam situasi ketika sejumlah masalah yang dibicarakan bukan sekadar informasi dari kejauhan bagi sebagian masyarakat. Kritik kemudian muncul karena pilihan untuk mematikan layar atau berhenti membaca berita tidak serta-merta menghilangkan dampak persoalan dari kehidupan orang yang mengalaminya langsung.
Mengapa Muncul Kritik “Tak Napak Tanah”?
Istilah seperti “tone deaf” dan “tak napak tanah” muncul dari reaksi sebagian pengguna media sosial, bukan merupakan kesimpulan faktual tentang pribadi Maudy.
Inti kritiknya terutama tertuju pada kesenjangan pengalaman: sesuatu yang dapat diperlakukan sebagai paparan informasi bagi satu orang dapat menjadi kondisi sehari-hari bagi orang lain.
Perdebatan berkembang karena sebagian warganet menilai framing mengenai bad news dan langkah mengambil jarak dari informasi tidak sepenuhnya menangkap posisi masyarakat yang menghadapi persoalan tersebut secara langsung.
Pembahasan yang semula berkaitan dengan kesehatan mental kemudian bergeser menjadi diskusi mengenai privilese dan kepekaan sosial seorang figur publik.
Baca Juga: Raditya Dika Hapus Podcast Bersama Nagita Slavina
Perbedaan konteks ini penting karena tidak semua kritik terhadap video tersebut berarti menolak gagasan menjaga kesehatan mental. Yang dipersoalkan sebagian audiens justru adalah apakah solusi berupa mengambil jarak dapat disampaikan tanpa terlebih dahulu membedakan antara orang yang hanya menyaksikan suatu krisis dan mereka yang hidup di dalam dampaknya.
Maudy Ayunda: Mindfulness Bukan Alasan untuk Berhenti Peduli
Dalam tanggapannya, Maudy menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menjadikan mindfulness sebagai alasan untuk menjauh dari kenyataan atau berhenti peduli.
Ia mengatakan video tersebut berangkat dari pergulatan pribadinya untuk tetap mengikuti keadaan sambil menjaga kemampuan dirinya agar tetap bisa hadir dan terlibat secara berarti. Maudy juga menyebut berbagai situasi sulit, termasuk kebakaran hutan dan lahan, gempa, serta kebijakan atau program yang berdampak langsung kepada masyarakat.
Maudy menyampaikan bahwa mindfulness yang dimaksudnya justru seharusnya membantu seseorang tetap hadir dan peka terhadap orang yang terdampak, bukan membuat keadaan seolah baik-baik saja.
Ia kemudian berterima kasih atas kritik dan perspektif tambahan yang diterimanya serta mengatakan dirinya mendengarkan dan belajar dari masukan tersebut.
Polemiknya Bukan Sekadar soal Mindfulness
Perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa cara menyampaikan pesan mengenai kesehatan mental dapat berubah makna ketika bertemu dengan konteks sosial.
Membatasi paparan informasi bisa menjadi strategi pribadi bagi seseorang yang merasa kewalahan. Namun, strategi individual itu tidak otomatis dapat diterapkan dengan kondisi yang sama kepada setiap orang.
Bagi mereka yang terdampak langsung oleh bencana, masalah ekonomi, kebijakan publik, atau persoalan lain, berita dapat menjadi informasi yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan dalam kehidupan nyata.
Respons terbaru Maudy pada akhirnya menyentuh titik tersebut. Ia tidak menarik kembali seluruh gagasan mengenai mindfulness, tetapi mengakui bahwa ada dimensi privilese yang sebelumnya belum cukup masuk dalam refleksinya.
Dengan begitu, polemik yang awalnya berkembang melalui label “tak napak tanah” kini memiliki konteks yang lebih lengkap: bermula dari refleksi pribadi mengenai kelelahan menghadapi arus informasi, mendapat kritik karena dianggap kurang memasukkan pengalaman masyarakat terdampak, lalu direspons Maudy dengan permintaan maaf dan pengakuan atas keterbatasan perspektif tersebut.











