Bulatan Times – Flu akibat infeksi virus influenza umumnya dapat ditangani di rumah dengan istirahat cukup, menjaga asupan cairan, dan menggunakan obat pereda gejala bila diperlukan. Namun, orang dengan kondisi kesehatan tertentu perlu mendapat penanganan lebih awal untuk mencegah komplikasi.
Gejala influenza biasanya muncul secara mendadak. Penderitanya dapat mengalami demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, hingga tubuh terasa sangat lemas.
Influenza berbeda dengan pilek biasa atau selesma. Meski sama-sama menyerang saluran pernapasan, influenza cenderung menimbulkan keluhan yang lebih berat. Jenis infeksinya juga tidak dapat dipastikan hanya dari gejala tanpa pemeriksaan yang sesuai.
Menurut Kementerian Kesehatan, sebagian besar penderita influenza dapat pulih tanpa perawatan khusus. Meski demikian, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan selama masa pemulihan.
Baca Juga: Perbedaan Influenza A dan B, Mana yang Lebih Berisiko?
Istirahat yang Cukup dan Perbanyak Minum
Ketika mengalami flu, tubuh membutuhkan waktu untuk pulih. Mengurangi aktivitas berat dan tidur yang cukup dapat membantu penderita beristirahat selama mengalami demam, nyeri badan, atau kelelahan.
Tidak perlu memaksakan diri bekerja atau berolahraga ketika kondisi tubuh masih lemah. Aktivitas sehari-hari dapat kembali dilakukan secara bertahap setelah gejala membaik.
Asupan cairan juga perlu dijaga, terutama jika flu disertai demam dan banyak berkeringat.
Air putih menjadi pilihan paling sederhana. Sup hangat atau makanan berkuah juga bisa membantu menambah asupan cairan, terutama ketika tenggorokan terasa tidak nyaman atau nafsu makan berkurang.
Perhatikan pula tanda kekurangan cairan, seperti mulut kering, urine yang semakin pekat, atau frekuensi buang air kecil yang berkurang.
Selama sakit, usahakan tetap mengonsumsi makanan bergizi sesuai kemampuan tubuh. Pilih makanan yang mudah disantap jika nafsu makan sedang menurun.
Gunakan Obat untuk Meredakan Gejala Flu
Tidak semua keluhan influenza membutuhkan obat khusus. Pada kasus ringan, pengobatan biasanya bertujuan mengurangi rasa tidak nyaman ketika tubuh sedang melawan infeksi.
Paracetamol dapat digunakan untuk membantu menurunkan demam dan meredakan sakit kepala atau nyeri otot. Ibuprofen juga merupakan pilihan bagi orang yang tidak memiliki kondisi medis yang membuat obat tersebut perlu dihindari.
Penggunaan obat harus mengikuti aturan pada kemasan atau petunjuk tenaga kesehatan. Jika sedang hamil, mempunyai penyakit tertentu, atau rutin mengonsumsi obat lain, konsultasikan pilihan obat terlebih dahulu.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan obat flu kombinasi.
Sebagian produk obat batuk dan pilek sudah mengandung paracetamol. Mengonsumsinya bersamaan dengan paracetamol tambahan tanpa memperhatikan dosis dapat menyebabkan jumlah obat yang diminum melebihi batas aman.
Untuk anak-anak, pemilihan obat perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi kesehatannya. Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak dan remaja yang mengalami atau diduga mengalami influenza karena berkaitan dengan risiko sindrom Reye, komplikasi langka yang dapat membahayakan otak dan hati.
Kapan Flu Memerlukan Obat Antivirus?
Obat antivirus berbeda dari obat penurun panas atau pereda batuk. Antivirus bekerja melawan virus influenza dan dapat membantu mempersingkat penyakit serta menurunkan risiko komplikasi pada pasien tertentu.
Salah satu antivirus yang digunakan untuk influenza adalah oseltamivir. Obat ini diberikan berdasarkan penilaian dokter, bukan untuk dikonsumsi sendiri setiap kali mengalami batuk atau pilek.
Antivirus memberikan manfaat terbesar jika pengobatan dimulai dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul.
Meski demikian, batas waktu tersebut bukan berarti obat tidak lagi berguna setelah dua hari. Pasien dengan gejala berat, yang memerlukan perawatan rumah sakit, atau memiliki risiko komplikasi tinggi masih dapat memperoleh manfaat dari pengobatan yang dimulai lebih lambat.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih awal meliputi anak kecil, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis seperti asma, diabetes, atau gangguan jantung.
Sementara itu, antibiotik tidak dapat membunuh virus influenza. Obat ini hanya digunakan jika dokter menemukan adanya infeksi bakteri yang memang membutuhkan antibiotik.
Baca Juga: Influenza A pada Anak Perlu Diwaspadai, IDAI Ingatkan Risiko Komplikasi
Hindari Menularkan Flu kepada Orang Lain
Penderita influenza dapat menularkan virus kepada orang lain, terutama pada hari-hari awal sakit.
Selama gejala masih berlangsung, sebaiknya kurangi kontak dekat dengan anggota keluarga atau orang lain, terutama bayi, lansia, dan mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah.
Gunakan masker saat harus berinteraksi dengan orang lain, tutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, serta biasakan mencuci tangan dengan sabun.
Ruangan dengan sirkulasi udara yang baik juga membantu mengurangi penumpukan partikel pernapasan di dalam ruangan.
Aktivitas normal dapat kembali dilakukan ketika gejala secara keseluruhan mulai membaik dan penderita sudah tidak demam selama sedikitnya 24 jam tanpa menggunakan obat penurun panas.
Setelah kembali beraktivitas, tindakan pencegahan seperti memakai masker dan menjaga kebersihan tetap dianjurkan selama lima hari berikutnya karena penularan masih mungkin terjadi.
Kapan Penderita Flu Harus ke Dokter?
Flu yang tidak kunjung membaik setelah sekitar satu minggu perlu diperiksakan, terutama jika keluhan semakin berat atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan juga tidak perlu ditunda bagi orang yang termasuk kelompok berisiko tinggi, meskipun gejalanya pada awalnya terlihat ringan.
Beberapa kondisi memerlukan pertolongan medis segera, seperti sesak napas, nyeri dada, kebingungan, kejang, sangat sulit dibangunkan, atau tanda dehidrasi berat.
Pada anak-anak, orang tua perlu memperhatikan napas yang menjadi cepat, tarikan dinding dada saat bernapas, kesulitan minum, atau berkurangnya respons anak ketika diajak berinteraksi.
Demam maupun batuk yang sempat membaik tetapi kemudian kembali memburuk juga perlu dievaluasi karena dapat menandakan munculnya komplikasi.
Kementerian Kesehatan turut mengingatkan agar masyarakat segera mencari pertolongan medis jika demam tinggi tidak turun selama lebih dari tiga hari atau kondisi tubuh semakin lemah.











