Bulatan Times – Influenza A dan Influenza B sama-sama menjadi penyebab flu musiman pada manusia. Gejalanya pun sering sulit dibedakan hanya dari keluhan yang dirasakan, karena keduanya dapat menyebabkan demam, batuk, sakit tenggorokan, pilek, nyeri otot, sakit kepala, dan tubuh terasa lemas.
Meski terdengar mirip, kedua virus ini memiliki karakter yang berbeda. Influenza A mempunyai variasi virus yang lebih luas dan menjadi tipe yang berpotensi memicu pandemi, sedangkan Influenza B terutama beredar sebagai influenza musiman pada manusia.
Lalu, apakah itu berarti Influenza A selalu lebih berbahaya? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Baca Juga: Influenza A pada Anak Perlu Diwaspadai, IDAI Ingatkan Risiko Komplikasi
Influenza A Memiliki Banyak Subtipe
Influenza A dibagi berdasarkan dua protein pada permukaan virus, yaitu hemaglutinin atau H dan neuraminidase atau N. Dua subtipe yang saat ini rutin beredar pada manusia adalah A(H1N1) dan A(H3N2).
Virus Influenza A juga ditemukan pada sejumlah hewan. Kemampuannya mengalami perubahan genetik dan pertukaran materi genetik membuat tipe ini mempunyai potensi menghasilkan virus baru yang sangat berbeda dari virus yang sebelumnya beredar pada manusia.
Karakter tersebut membuat Influenza A menjadi satu-satunya tipe influenza yang diketahui dapat menyebabkan pandemi. Pandemi H1N1 pada 2009 merupakan salah satu contohnya, dan keturunan virus tersebut masih beredar sebagai influenza musiman sampai sekarang.
Influenza A juga tidak mempunyai tingkat keparahan yang sama pada setiap subtipe. Sejumlah penelitian sebelumnya menemukan musim yang didominasi A(H3N2) dapat memberikan beban rawat inap dan kematian yang lebih tinggi dibanding beberapa musim influenza lainnya. Namun, pola itu tidak berarti setiap pasien yang terkena Influenza A pasti mengalami penyakit yang lebih berat.
Influenza B Bukan Flu Ringan
Berbeda dengan Influenza A, Influenza B tidak dibagi menjadi subtipe H dan N. Virus ini diklasifikasikan berdasarkan garis keturunan atau lineage.
Dalam beberapa tahun terakhir, B/Victoria menjadi garis keturunan Influenza B yang masih terdeteksi. WHO menyatakan tidak ada kasus alami B/Yamagata yang tercatat sejak Maret 2020, sehingga komponen tersebut tidak lagi dinilai perlu dalam rekomendasi vaksin influenza trivalen untuk musim 2026.
Walaupun tidak memiliki potensi pandemi seperti Influenza A, Influenza B tetap tidak boleh dianggap sebagai flu yang selalu ringan.
Infeksi Influenza B dapat menyebabkan penyakit ringan hingga berat. Pada anak-anak, terutama mereka yang masih kecil atau memiliki penyakit tertentu, komplikasi serius tetap dapat terjadi. Tinjauan mengenai Influenza B pada anak menunjukkan penyakit ini dapat memberikan beban klinis yang cukup besar meskipun sebagian besar kasus pada anak sehat bersifat ringan sampai sedang.
Jadi, Mana yang Lebih Berisiko?
Jika dilihat dari risiko bagi populasi secara luas, Influenza A mempunyai potensi yang lebih besar karena dapat membentuk subtipe baru dan menyebabkan pandemi.
Namun, jika yang dinilai adalah risiko pada satu pasien, tidak tepat menyimpulkan Influenza A pasti lebih berat daripada Influenza B.
Sebuah tinjauan sistematis yang membandingkan Influenza A dan B menemukan hanya sedikit perbedaan konsisten dalam gambaran klinis dan tingkat keparahan. Para peneliti menyimpulkan bahwa tipe atau subtipe virus bukan satu-satunya penentu apakah seseorang akan mengalami penyakit berat.
Risiko komplikasi justru sangat dipengaruhi usia, kondisi kesehatan, kehamilan, daya tahan tubuh, serta adanya penyakit kronis.
Anak berusia di bawah lima tahun, terutama yang berusia kurang dari dua tahun, orang berusia 65 tahun ke atas, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung, paru-paru, diabetes, gangguan ginjal, atau sistem imun yang lemah termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami komplikasi influenza.
Baca Juga: Mengenal Etomidate, Obat Anestesi yang Berbahaya jika Disalahgunakan
Gejalanya Sulit Dibedakan Tanpa Pemeriksaan
Influenza A dan B dapat menimbulkan gejala yang sangat mirip. Demam yang muncul mendadak, batuk, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, pilek, serta rasa lelah merupakan keluhan yang umum pada influenza musiman.
Karena kemiripan tersebut, jenis influenza tidak dapat dipastikan hanya dari gejala. Pemeriksaan laboratorium diperlukan jika dokter memang membutuhkan identifikasi virus untuk pertimbangan diagnosis atau penanganan.
Sebagian besar orang dapat pulih tanpa memerlukan perawatan khusus. Namun, influenza juga dapat berkembang menjadi pneumonia, memperburuk penyakit kronis, atau menyebabkan komplikasi lain pada kelompok rentan.
Orang yang termasuk kelompok berisiko tinggi dan mulai mengalami gejala influenza dianjurkan menghubungi tenaga kesehatan lebih awal. Obat antivirus memberikan manfaat terbesar ketika diberikan sejak awal penyakit pada pasien yang memang mempunyai indikasi.
Vaksin Tetap Melindungi dari Influenza A dan B
Vaksin influenza musiman dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap virus Influenza A dan B yang diperkirakan beredar pada suatu musim.
Untuk vaksin influenza trivalen musim 2026 di belahan bumi selatan, WHO merekomendasikan komponen A(H1N1)pdm09, A(H3N2), dan Influenza B dari lineage Victoria. Komposisi vaksin influenza diperbarui secara berkala karena virus terus mengalami perubahan.
Selain vaksinasi, mengurangi kontak ketika sedang sakit, menjaga kebersihan tangan, serta menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin tetap membantu mengurangi penularan influenza.











