Bulatan Times – Influenza A kembali mendapat perhatian setelah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melaporkan peningkatan pasien influenza di sejumlah ruang perawatan anak. Bayi, balita, dan anak dengan kondisi medis tertentu menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih karena infeksi dapat berkembang menjadi komplikasi.
Sekretaris Umum IDAI Hikari Ambara Sjakti mengatakan peningkatan pasien terlihat di sejumlah rumah sakit di kota besar. IDAI mendorong pemetaan lebih lanjut untuk mengetahui daerah yang mengalami kenaikan kasus serta pola penyebaran virus.
Data nasional Kementerian Kesehatan memberi konteks berbeda. Laporan surveilans yang diperbarui 19 September menyatakan aktivitas influenza secara nasional berada pada kategori rendah dan situasinya masih terkendali. Pemantauan dilakukan melalui 39 puskesmas, 35 rumah sakit, serta 14 Balai Karantina Kesehatan.
Laporan peningkatan pasien di sejumlah rumah sakit tersebut tidak berarti seluruh wilayah Indonesia mengalami lonjakan dengan tingkat yang sama.
Baca Juga: Abu Vulkanik Anak Krakatau Bisa Ganggu Kesehatan, Ini Imbauan Kemenkes
Anak Lebih Rentan Terinfeksi Influenza
Anak termasuk kelompok yang lebih mudah tertular influenza. Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI, Anggraini Alam, menyebut risiko terutama perlu diperhatikan pada anak berusia di bawah lima tahun.
Kelompok lain yang membutuhkan perhatian antara lain anak yang berada di tempat penitipan dengan kepadatan tinggi dan ventilasi kurang baik, anak dengan kelainan neurologis atau tumbuh kembang, serta mereka yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang atau lingkungan padat.
IDAI juga mencatat anak dapat melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan dalam periode lebih lama. Kondisi tersebut membuat penularan di rumah maupun sekolah perlu diperhatikan.
Data Kemenkes yang diberitakan ANTARA menunjukkan anak cukup banyak muncul dalam surveilans terbaru. Hingga 19 September 2026, sebanyak 42 persen kasus influenza yang terdeteksi berasal dari kelompok usia 0–4 tahun.
Influenza Bisa Memicu Pneumonia hingga Gangguan Otak
Influenza pada sebagian besar orang dapat sembuh, tetapi risiko komplikasi meningkat pada kelompok tertentu.
Pada anak dengan faktor risiko, IDAI mengingatkan kemungkinan munculnya pneumonia, perburukan asma, miokarditis atau peradangan otot jantung, hingga ensefalopati yang memengaruhi fungsi otak.
Risiko rawat inap juga lebih tinggi pada anak berusia sangat muda. Data yang dipaparkan IDAI menyebut sekitar 5 persen anak yang terinfeksi influenza memerlukan rawat inap. Dari kelompok tersebut, sekitar 80 persen berusia di bawah dua tahun dan separuhnya berusia kurang dari enam bulan.
Kemenkes mencatat pneumonia sebagai salah satu komplikasi influenza. Pada kondisi berat, infeksi dapat berkembang menjadi sepsis dan gangguan organ, serta memperburuk penyakit yang sudah dimiliki pasien seperti asma maupun penyakit jantung dan paru.
Gejala yang memburuk, kesulitan bernapas, kondisi anak yang tampak sangat lemah, atau masalah lain yang mengkhawatirkan perlu mendapat evaluasi tenaga medis.
Baca Juga: 3 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
H3N2 Subclade K Sudah Ditemukan di 13 Provinsi
Salah satu virus yang belakangan mendapat perhatian adalah Influenza A(H3N2) subclade K, yang kerap disebut “super flu”.
Istilah tersebut tidak berarti virus ini merupakan penyakit baru. Data Kementerian Kesehatan menyebut subclade K pertama kali terdeteksi di Indonesia pada September 2025. Hingga 10 Januari 2026, tercatat 74 kasus di 13 provinsi dan mayoritas menunjukkan gejala ringan hingga sedang.
Dalam surveilans terbaru, H3N2 subclade K masih terdeteksi di 13 provinsi. Namun, H3N2 bukan satu-satunya influenza yang beredar.
Data hingga 19 September mencatat 86 kasus positif influenza dari 185 spesimen yang diperiksa. Sebanyak 76 di antaranya merupakan Influenza A(H1N1)pdm09, delapan A(H3N2), dan dua Influenza B Victoria.
Komposisi tersebut membuat peningkatan influenza tidak bisa otomatis disamakan dengan penyebaran H3N2 subclade K saja.
IDAI Ingatkan Vaksinasi dan Pencegahan Penularan
IDAI merekomendasikan vaksinasi influenza tahunan sebagai salah satu langkah perlindungan, termasuk bagi anak mulai usia enam bulan sesuai rekomendasi medis.
Pencegahan sehari-hari tetap relevan. Anak yang sedang sakit sebaiknya tidak dibawa ke sekolah atau tempat bermain sampai kondisinya pulih. Etika batuk, mencuci tangan, penggunaan masker ketika diperlukan, dan menjaga asupan cairan juga dianjurkan.
IDAI menyebut anak dapat menularkan virus sejak sekitar 24 jam sebelum gejala muncul hingga beberapa hari setelahnya. Mengurangi kontak ketika sakit membantu membatasi penularan di sekolah dan keluarga.
Untuk diagnosis dan pengobatan, keputusan tetap perlu mengikuti pemeriksaan tenaga kesehatan. IDAI menyebut pemeriksaan molekuler seperti RT-PCR dapat digunakan untuk mengidentifikasi virus, sedangkan antivirus seperti oseltamivir mempunyai manfaat terbesar bila diberikan sejak awal pada pasien yang memang memiliki indikasi.











