Bulatan Times – Tadalafil dikenal sebagai salah satu obat untuk menangani disfungsi ereksi dengan durasi kerja yang relatif panjang. Namun, anggapan bahwa efeknya dapat bertahan sampai tiga hari perlu diluruskan.
Informasi resmi obat menyebut tadalafil dapat membantu fungsi ereksi hingga sekitar 36 jam setelah diminum. Artinya, rentang waktunya memang lebih panjang dibandingkan beberapa obat disfungsi ereksi lain, tetapi bukan berarti seseorang mengalami ereksi terus-menerus selama 36 jam, apalagi selama tiga hari.
Tadalafil termasuk kelompok obat penghambat phosphodiesterase type 5 atau PDE5 inhibitor. Obat ini membantu meningkatkan aliran darah ke penis ketika terdapat rangsangan seksual. Tanpa stimulasi seksual, tadalafil tidak dengan sendirinya memicu ereksi.
Baca Juga: Mengenal Etomidate, Obat Anestesi yang Berbahaya jika Disalahgunakan
Mengapa Efek Tadalafil Bisa Bertahan Lebih Lama?
Tadalafil memang memiliki karakter kerja yang lebih panjang dibandingkan sebagian obat lain dalam kelompok PDE5 inhibitor.
Untuk penggunaan sesuai kebutuhan pada disfungsi ereksi, informasi resmi menyebut obat dapat mulai digunakan sebelum aktivitas seksual dan memberikan peningkatan fungsi ereksi hingga sekitar 36 jam setelah dosis diminum. Rentang ini memberi waktu yang lebih fleksibel, bukan membuat tubuh terus berada dalam kondisi ereksi.
Rangsangan seksual tetap diperlukan. Jika tidak ada stimulasi, mekanisme fisiologis yang menghasilkan ereksi tidak berlangsung hanya karena tadalafil masih berada di dalam tubuh.
Karena itu, istilah “efek bertahan 36 jam” lebih tepat dipahami sebagai jendela waktu ketika obat masih dapat membantu respons ereksi, bukan lamanya ereksi itu sendiri.
Klaim Efek sampai 72 Jam Tidak Sesuai Informasi Resmi Obat
Artikel VOI yang menjadi referensi awal menyebut durasi sekitar 36 hingga 72 jam. Namun, angka 72 jam tersebut tidak sesuai dengan informasi produk resmi yang ditemukan dari DailyMed/FDA, EMA, NHS, maupun dokumen BPOM.
Informasi produk resmi secara konsisten menyebut tadalafil untuk penggunaan sesuai kebutuhan dapat meningkatkan fungsi ereksi hingga sekitar 36 jam setelah dosis.
Dengan demikian, klaim bahwa satu dosis tadalafil secara umum efektif selama tiga hari tidak sebaiknya digunakan sebagai patokan medis.
Respons tiap orang juga dapat berbeda. Kondisi kesehatan, obat lain yang digunakan, serta respons tubuh terhadap tadalafil dapat memengaruhi manfaat maupun risiko efek samping.
Tadalafil Bukan Obat yang Aman Digunakan Sembarangan
Di Indonesia, BPOM memasukkan tadalafil sebagai obat resep. Zat aktif ini digunakan untuk disfungsi ereksi dan pada kondisi tertentu juga untuk indikasi medis lain.
Efek samping yang dapat terjadi antara lain sakit kepala, gangguan pencernaan, wajah terasa panas atau kemerahan, nyeri punggung atau otot, serta keluhan lainnya.
Tadalafil juga tidak boleh digunakan bersama obat golongan nitrat, yang antara lain dipakai untuk mengatasi nyeri dada atau angina. Kombinasi keduanya dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang berbahaya.
Orang dengan penyakit jantung, tekanan darah sangat rendah, atau kondisi kesehatan tertentu perlu berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum menggunakan obat disfungsi ereksi.
Baca Juga: 3 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
Ereksi Lebih dari Empat Jam Bukan Efek Normal
Durasi kerja tadalafil tidak boleh disamakan dengan ereksi yang berlangsung terus-menerus.
Jika ereksi menetap lebih dari empat jam, kondisi tersebut dapat merupakan priapismus dan membutuhkan pertolongan medis segera. Ereksi berkepanjangan dapat merusak jaringan penis bila terlambat ditangani.
Pengguna juga perlu segera mencari pertolongan medis jika mengalami penurunan atau kehilangan penglihatan maupun pendengaran secara mendadak setelah menggunakan obat disfungsi ereksi.
Waspadai Produk “Obat Kuat” Ilegal
Perhatian tidak hanya diperlukan pada zat aktifnya, tetapi juga pada produk yang dibeli.
BPOM pada 2026 masih menemukan obat dan suplemen ilegal yang diduga atau terbukti mengandung tadalafil. Produk tanpa izin edar tidak memiliki jaminan keamanan, mutu, dan khasiat yang sama dengan obat yang melalui proses registrasi resmi.
BPOM juga mencatat tadalafil, sildenafil, dan obat disfungsi ereksi sejenis sebagai obat keras yang penggunaannya memerlukan pengawasan medis. Pemakaian produk ilegal atau penggunaan secara rekreatif dapat meningkatkan risiko kesehatan.



