Bulatan Times – Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Seseorang bisa merasa sehat meskipun tekanan darahnya sudah berada di atas batas normal.
Karena itu, pemeriksaan tekanan darah menjadi cara penting untuk mengetahui kondisi tersebut. WHO menyebut sebagian besar penderita hipertensi tidak merasakan gejala, sementara hipertensi yang tidak dikendalikan dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal.
Selain faktor yang tidak dapat diubah seperti usia dan riwayat keluarga, kebiasaan sehari-hari ikut memengaruhi risiko seseorang mengalami tekanan darah tinggi.
Beberapa di antaranya terlihat sederhana dan dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa disadari.
Baca Juga: 5 Makanan Enak Penurun Darah Tinggi
1. Terlalu banyak mengonsumsi garam
Asupan natrium yang terlalu tinggi merupakan salah satu faktor yang berhubungan erat dengan peningkatan tekanan darah.
Garam menjadi sumber utama natrium dalam makanan. Namun, natrium yang dikonsumsi sehari-hari tidak hanya berasal dari garam yang ditambahkan ketika memasak.
Makanan olahan, makanan kemasan, daging olahan, keju, camilan asin, roti, saus, kaldu, dan makanan dari restoran juga dapat menyumbang natrium dalam jumlah besar. Seseorang sering tidak menyadari seberapa banyak garam yang dikonsumsinya.
WHO merekomendasikan orang dewasa membatasi asupan natrium hingga kurang dari 2.000 miligram per hari, setara dengan kurang dari 5 gram garam atau sekitar satu sendok teh dari seluruh makanan yang dikonsumsi dalam sehari.
Angka tersebut bukan berarti seseorang dapat menambahkan satu sendok teh garam ke makanan kemudian mengabaikan natrium dari sumber lain.
Garam yang sudah terkandung dalam makanan tetap masuk dalam perhitungan harian.
Natrium tersembunyi sering berasal dari makanan olahan
Makanan tidak harus terasa sangat asin untuk mengandung natrium dalam jumlah berarti.
CDC menjelaskan sebagian besar natrium dalam pola makan masyarakat Amerika berasal dari makanan kemasan dan restoran, bukan semata-mata garam yang ditambahkan dari tempat garam di meja makan. Prinsip membaca kandungan natrium tetap relevan ketika memilih produk kemasan di negara lain, meskipun pola sumber makanan dapat berbeda antarwilayah.
Karena itu, mengurangi natrium dapat dimulai dengan membandingkan informasi nilai gizi pada produk sejenis.
Mengurangi penggunaan saus dan bumbu tinggi natrium, memilih makanan segar lebih sering, serta tidak otomatis menambahkan garam sebelum mencicipi makanan juga dapat membantu mengendalikan konsumsi natrium.
2. Terlalu lama tidak aktif bergerak
Kebiasaan berikutnya adalah kurang melakukan aktivitas fisik.
Rutinitas kerja di depan komputer, perjalanan panjang dengan kendaraan, kemudian menghabiskan waktu luang sambil duduk dapat membuat aktivitas fisik harian semakin sedikit.
WHO memasukkan kurang aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi. Aktivitas fisik teratur juga dikaitkan dengan penurunan risiko munculnya hipertensi pada orang dewasa.
Aktivitas fisik tidak selalu berarti harus berolahraga berat.
Berjalan kaki, bersepeda, berenang, menari, maupun aktivitas lain dengan intensitas sesuai kemampuan dapat menjadi pilihan.
WHO merekomendasikan orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau sekitar 75 menit aktivitas intensitas berat. Latihan penguatan otot juga dianjurkan sedikitnya dua hari dalam seminggu.
Aktivitas fisik juga membantu mengendalikan berat badan
Manfaat bergerak lebih banyak tidak hanya berhubungan langsung dengan tekanan darah.
Aktivitas fisik membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah serta mendukung pengelolaan berat badan. Kelebihan berat badan dan obesitas sendiri merupakan faktor risiko hipertensi.
Aktivitas fisik secara rutin dapat membantu menurunkan tekanan darah sekaligus mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.
Bagi orang yang sebelumnya jarang bergerak, peningkatan aktivitas dapat dilakukan bertahap sesuai kondisi kesehatan dan kemampuan fisik.
Baca Juga: 8 Tanaman Obat Diabetes Alami
3. Terlalu banyak minum alkohol
Konsumsi alkohol berlebihan juga berkaitan dengan tekanan darah tinggi.
WHO memasukkan penggunaan alkohol berlebihan sebagai faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi. CDC juga menyatakan konsumsi alkohol terlalu banyak dapat meningkatkan tekanan darah.
Risikonya menjadi penting diperhatikan karena kebiasaan minum dapat berlangsung rutin tanpa seseorang menghubungkannya dengan perubahan tekanan darah.
Bagi orang yang memang mengonsumsi alkohol, pembatasan jumlah menjadi bagian dari upaya mengendalikan faktor risiko.
Namun, seseorang yang tidak minum alkohol tidak perlu mulai mengonsumsinya dengan alasan kesehatan.
Hipertensi tidak hanya disebabkan tiga kebiasaan
Mengurangi garam, lebih aktif bergerak, dan membatasi alkohol dapat membantu mengurangi faktor risiko yang dapat diubah. Namun, hipertensi mempunyai penyebab dan faktor risiko yang lebih luas.
WHO juga mencantumkan kelebihan berat badan atau obesitas, pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, kurang konsumsi buah dan sayuran, serta penggunaan tembakau sebagai faktor yang dapat dimodifikasi.
Sementara itu, usia dan faktor genetik tidak dapat diubah.
Risiko juga dapat meningkat pada orang dengan kondisi tertentu seperti diabetes dan penyakit ginjal.
Karena itu, seseorang yang menjalani gaya hidup sehat tetap tidak dapat memastikan tekanan darahnya normal hanya berdasarkan perasaan atau tidak adanya gejala.
Tekanan darah perlu diukur, bukan ditebak dari gejala
Hipertensi sering tidak menimbulkan keluhan.
Pemeriksaan tekanan darah merupakan cara untuk mengetahui apakah seseorang mengalami tekanan darah tinggi. Pengukuran dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan, sementara alat otomatis juga memungkinkan pemantauan dilakukan di rumah.
Teknik pengukuran juga perlu diperhatikan.
Merokok, mengonsumsi kafein atau alkohol, dan berolahraga dalam 30 menit sebelum pemeriksaan dapat memengaruhi hasil pengukuran. Posisi tubuh dan lengan yang tidak tepat juga dapat membuat angka yang terbaca berbeda.
Satu hasil pengukuran yang tinggi tidak selalu cukup untuk menetapkan diagnosis.
WHO menggunakan pengukuran pada hari yang berbeda dalam menentukan hipertensi, sedangkan pedoman klinis di negara tertentu dapat menggunakan ambang dan prosedur diagnosis yang berbeda.
Jangan menghentikan obat hanya karena tekanan darah membaik
Perubahan gaya hidup merupakan bagian penting dalam pencegahan dan pengelolaan hipertensi, tetapi tidak selalu menggantikan pengobatan.
Sebagian orang tetap membutuhkan obat untuk mengendalikan tekanan darah dan menurunkan risiko komplikasi.
Karena itu, orang yang sudah mendapat obat hipertensi sebaiknya tidak mengurangi dosis atau menghentikannya sendiri hanya karena hasil pengukuran terlihat lebih baik.
Perubahan pengobatan perlu dibicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan yang menangani.
Jika tekanan darah sangat tinggi dan disertai keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, sakit kepala berat, gangguan penglihatan, kebingungan, atau gejala serius lainnya, pertolongan medis perlu segera dicari. WHO menyebut tekanan darah sekitar 180/120 mmHg atau lebih dapat disertai gejala berat dan membutuhkan perhatian segera.
Pada akhirnya, kebiasaan sederhana seperti memperhatikan natrium dalam makanan, rutin bergerak, dan menghindari konsumsi alkohol berlebihan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga tekanan darah. Namun, pemeriksaan berkala tetap penting karena hipertensi tidak selalu memberi tanda sebelum menimbulkan masalah kesehatan.











