BULATANTIMES.COM — Jumlah pengungsi gempa NTT terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 110.785 jiwa mengungsi hingga Jumat (21/8/2026).
Angka tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan data sehari sebelumnya yang mencapai 92.735 jiwa. Dengan demikian, jumlah pengungsi bertambah sekitar 18 ribu orang dalam satu hari.
Baca Juga:Indonesia Rawan Gempa, Ini Alasannya
Selain jumlah pengungsi, BNPB juga melaporkan korban meninggal dunia akibat gempa NTT bertambah menjadi 83 orang.
Pengungsi Gempa NTT Terus Bertambah
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan perkembangan terbaru penanganan gempa NTT dalam konferensi pers pada Jumat.
Menurut data BNPB, peningkatan jumlah pengungsi menunjukkan masih banyak warga yang memilih meninggalkan rumah dan mencari tempat yang dianggap lebih aman setelah gempa.
Baca Juga:Gibran Temui Pengungsi Gempa NTT, Pemerintah Janji Percepat Bantuan
Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kerusakan bangunan dan kekhawatiran masyarakat terhadap potensi gempa susulan.
BNPB bersama pemerintah daerah terus melakukan pendataan untuk memastikan kebutuhan para pengungsi dapat dipenuhi.
Korban Meninggal Mencapai 83 Orang
Dampak gempa NTT tidak hanya menyebabkan puluhan ribu warga harus mengungsi, tetapi juga menimbulkan korban jiwa.
Hingga Jumat, BNPB mencatat 83 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Data korban masih terus diperbarui seiring proses pencarian, pendataan, dan verifikasi di sejumlah wilayah terdampak.
Baca Juga:Apa Itu Lempeng Tektonik?
Petugas gabungan masih melakukan penanganan di lapangan, termasuk membantu masyarakat yang membutuhkan evakuasi serta menyalurkan bantuan kepada warga terdampak.
Pemerintah Fokus Penuhi Kebutuhan Pengungsi
Dengan jumlah pengungsiyang mencapai lebih dari 110 ribu orang, kebutuhan logistik menjadi salah satu perhatian utama pemerintah.
Bantuan yang dibutuhkan para pengungsi meliputi makanan, air bersih, perlengkapan tidur, obat-obatan, tenda, hingga kebutuhan khusus untuk anak-anak dan kelompok rentan.
Penanganan juga dilakukan secara bertahap dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, BNPB, BPBD, TNI, Polri, relawan, serta berbagai pihak lainnya.
Selain kebutuhan fisik, kondisi psikologis warga terdampak juga menjadi perhatian dalam proses pemulihan pascabencana.
Warga Diminta Tetap Waspada
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak gempa diimbau tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan lembaga terkait.
Warga juga diminta tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, terutama mengenai kondisi gempa, potensi bencana lanjutan, maupun informasi bantuan.
BNPB sebelumnya juga menekankan pentingnya masyarakat memperoleh informasi kebencanaan melalui sumber resmi agar tidak menimbulkan kepanikan.
Kondisi di lapangan masih dapat berubah sehingga data mengenai korban dan pengungsi berpotensi diperbarui kembali.
Penanganan Gempa Masih Berlangsung
Meningkatnya jumlah pengungsi gempa NTT menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam penanganan masa darurat.
Dengan jumlah pengungsi yang sudah mencapai 110.785 jiwa, koordinasi distribusi bantuan harus dilakukan secara cepat agar kebutuhan masyarakat di lokasi pengungsian tetap terpenuhi.
Pemerintah juga perlu memastikan warga yang rumahnya rusak mendapatkan tempat tinggal sementara serta bantuan untuk proses pemulihan.
Penanganan pascabencana tidak hanya berhenti pada masa evakuasi, tetapi juga mencakup pemulihan fasilitas umum dan kehidupan masyarakat yang terdampak.
Sumber: BNPB, Kompas.com, dan detikNews.











