Bulatan Times – Degradasi ban muncul sebagai salah satu tantangan terbesar Formula 1 GP Bahrain 2026 yang digelar di Sepang International Circuit, Malaysia. Dua sesi latihan Jumat menunjukkan kombinasi aspal kasar, suhu tinggi, dan ban yang mudah overheat dapat membuat strategi pit stop menjadi faktor penting pada balapan Minggu.
Sepang menjadi tuan rumah GP Bahrain tahun ini setelah seri yang semula dijadwalkan berlangsung di Sakhir dipindahkan ke Malaysia. Formula 1 kembali ke sirkuit tersebut untuk pertama kalinya sejak 2017.
Max Verstappen memimpin FP1, sedangkan Charles Leclerc menjadi yang tercepat pada FP2. Namun, pembicaraan setelah sesi Jumat tidak hanya berpusat pada catatan waktu, melainkan pada seberapa cepat performa ban menurun dalam long run.
“Degradasi akan menjadi pembicaraan utama akhir pekan ini,” kata Leclerc, mengutip laman Formula 1.
Baca Juga: GP Bahrain 2026 Digelar di Malaysia, Kenapa Tetap Bernama Bahrain?
Aspal Sepang Membuat Ban Cepat Panas
Pirelli sejak sebelum sesi pertama sudah memperkirakan temperatur dan permukaan aspal menjadi faktor besar. Sepang memiliki karakter permukaan yang abrasif, dengan tingkat kekasaran yang dinilai mendekati Bahrain.
Situasi itu terlihat jelas pada Jumat. George Russell menyebut kombinasi temperatur tinggi dan aspal agresif menghasilkan degradasi ban yang tinggi sepanjang latihan. Mercedes juga menemukan overheating pada ban ikut memengaruhi keseimbangan mobil.
McLaren mendapat gambaran serupa. Tim menemukan permukaan Sepang lebih kasar dan memiliki grip lebih tinggi dibanding perkiraan awal, sedangkan degradasi tetap tinggi sepanjang hari.
Pirelli mencatat penurunan performa berada di kisaran 0,2 hingga 0,3 detik per lap berdasarkan long run pada Jumat. Ban medium C3 dan soft C4 menunjukkan tingkat performa dan degradasi yang relatif berdekatan, sementara ban hard C2 belum banyak digunakan sehingga datanya masih terbatas.
Baca Juga: F1 Kembali ke Sepang, GP Bahrain 2026 Digelar di Malaysia Awal Oktober
Balapan Bisa Membutuhkan Dua atau Lebih Pit Stop
Pirelli membawa tiga kompon ke Sepang: C2 sebagai hard, C3 medium, dan C4 soft. Pemilihan tersebut sedikit lebih agresif dibanding opsi konservatif yang memungkinkan digunakan pada lintasan dengan karakter serupa.
Tujuannya adalah membuka lebih banyak variasi strategi. Sebelum akhir pekan dimulai, Pirelli berharap perbedaan waktu antara strategi satu dan dua pit stop tidak terlalu besar.
Namun, tingkat degradasi Jumat membuat skenario balapan berubah. Data Pirelli menunjukkan dua atau lebih pit stop kini menjadi kemungkinan realistis jika kondisi pada Minggu tidak berubah banyak.
Ferrari juga melihat pengelolaan ban sebagai penentu race pace. Fred Vasseur menilai Sepang sangat berbeda dari beberapa seri sebelumnya yang memiliki degradasi relatif rendah.
Perbedaan kecil dalam cara pembalap melewati tikungan juga dapat memberikan efek besar terhadap usia ban. Leclerc mengatakan Ferrari masih perlu memahami bagaimana menjaga performa ban dalam stint panjang meski mobilnya tampil cepat pada Jumat.
Cuaca Sepang Bisa Membuat Strategi Makin Sulit
Sepang juga terkenal dengan kondisi cuaca yang sulit diprediksi. Prakiraan sempat menunjukkan peluang hujan pada sesi Jumat, tetapi FP1 dan FP2 berlangsung kering.
Kemungkinan hujan tetap menjadi faktor yang harus diperhitungkan untuk Sabtu dan Minggu. Jika kondisi berubah, data long run pada lintasan kering tidak akan menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan strategi.
Tim juga menghadapi keterbatasan data. Meski Sepang pernah rutin menggelar Formula 1, tidak ada tim yang memiliki referensi balapan menggunakan generasi mobil saat ini karena kunjungan terakhir berlangsung sembilan tahun lalu.
Kualifikasi GP Bahrain di Malaysia dijadwalkan berlangsung Sabtu pukul 15.00 WIB. Balapan utama sepanjang 56 lap kemudian dimulai Minggu, 4 Oktober, pukul 14.00 WIB.











