BANDA ACEH, BULATAN TIMES – Wisata kuliner Banda Aceh menawarkan beragam makanan khas yang kaya rempah, mulai dari mi Aceh, ayam tangkap, sate matang, hingga kuah beulangong. Pilihannya tersebar di sejumlah kawasan kota, termasuk Peunayong, Ulee Kareng, Lueng Bata, dan Meuraxa.
Selain makanan berat, Banda Aceh memiliki tradisi warung kopi yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Kopi sanger, minuman berbahan kopi saring dan susu, menjadi salah satu sajian yang menarik dicoba saat berkunjung.
Kementerian Pariwisata melalui Indonesia Travel turut memperkenalkan mi Aceh, sate matang, dan aneka masakan tradisional sebagai bagian dari daya tarik kuliner daerah ini.
Berikut tujuh tempat makan di Banda Aceh yang menawarkan pengalaman kuliner berbeda, beserta menu khas dan lokasinya.
Menikmati Mie Aceh dan Nasi Goreng di Peunayong
1. Mie Razali, Kuliner Legendaris Sejak 1967
Mie Razali menjadi salah satu tempat makan yang dikenal luas di Banda Aceh. Rumah makan ini berada di Jalan T. Panglima Polem No. 81–82, kawasan Peunayong.
Berdasarkan informasi Indonesia Travel, Mie Razali telah berdiri sejak 1967. Salah satu cirinya adalah penggunaan mi yang diproduksi sendiri dan racikan bumbu berempah.
Pengunjung dapat memilih mi Aceh goreng, tumis, atau berkuah. Pilihan isiannya beragam, mulai dari daging sapi hingga makanan laut seperti udang dan kepiting.
Untuk pengunjung yang baru pertama kali mencoba mi Aceh, versi tumis bisa menjadi pilihan karena memiliki sedikit kuah yang menyatu dengan bumbu. Sementara itu, mi kuah menawarkan sajian dengan kuah rempah lebih banyak.
2. Nasi Goreng Daus, Pilihan Kuliner Malam
Masih di kawasan Peunayong, terdapat Daus Nasi Goreng Khas Aceh yang berlokasi di Jalan T. Panglima Polem No. 87–89.
Tempat makan ini dikenal dengan sajian nasi goreng khas Aceh yang menggunakan bumbu rempah bercita rasa kuat. Karakternya berbeda dari nasi goreng kecap yang umum ditemukan di daerah lain.
Nasi goreng menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menikmati makanan berat pada malam hari setelah berkeliling pusat Banda Aceh.
Lokasinya yang berada di jalan yang sama dengan Mie Razali juga memberi pilihan bagi pengunjung yang ingin menentukan menu makan sesuai selera.
Baca Juga: 8 Tempat Wisata di Kota Banda Aceh dan Alamatnya
Ayam Tangkap dan Kopi Khas Ulee Kareng
3. Warung Nasi Hasan 3, Mencicipi Ayam Tangkap
Ayam tangkap merupakan salah satu masakan tradisional Aceh yang memiliki cara penyajian khas. Potongan ayam digoreng bersama daun kari, pandan, serta bahan aromatik lainnya hingga menghasilkan perpaduan rasa gurih dan tekstur renyah.
Salah satu tempat untuk menikmati menu tersebut adalah Warung Nasi Hasan 3 di Jalan Prof. Ali Hasyimi, kawasan Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng.
Selain ayam tangkap, rumah makan ini dikenal menyediakan aneka masakan Aceh, termasuk hidangan berbahan makanan laut dan gulai pliek u, yaitu olahan sayuran dengan bumbu khas berbahan kelapa fermentasi.
Ayam tangkap umumnya disantap bersama nasi putih dan sambal. Daun rempah yang digoreng bersama ayam juga menjadi bagian dari sajian, bukan sekadar hiasan.
4. Kopi Solong, Menikmati Kopi Sanger di Ulee Kareng
Bagi pencinta kopi, kawasan Ulee Kareng menjadi salah satu tujuan yang menarik untuk dikunjungi.
Di kawasan Lamglumpang terdapat Solong Coffee Ulee Kareng, warung kopi yang dikenal dengan sajian kopi tradisional Aceh.
Salah satu minuman yang bisa dicoba adalah kopi sanger. Minuman ini dibuat dari kopi saring yang dipadukan dengan susu kental manis dan gula, tetapi tetap mempertahankan karakter rasa kopi.
Selain sanger, pengunjung dapat memilih kopi hitam tradisional. Budaya menikmati kopi di Aceh juga berkaitan dengan kebiasaan berkumpul dan berbincang di warung kopi.
Baca Juga: Ayam Tangkap Khas Aceh, Resep Gurih dan Harum yang Bisa Dibuat di Rumah
Sate Matang, Kuah Beulangong, dan Olahan Bebek Aceh
5. Sate Matang D’Wan, Sate dengan Kuah Kaldu
Banda Aceh juga memiliki tempat makan yang menyajikan sate matang, salah satunya Sate Matang D’Wan di kawasan Blang Cut, Kecamatan Lueng Bata.
Sate matang merupakan hidangan yang berasal dari kawasan Matang, Kabupaten Bireuen. Ciri khasnya terletak pada penggunaan bumbu rempah serta penyajian sate bersama kuah kaldu.
Berbeda dari sate yang hanya menggunakan saus kacang atau kecap, sate matang lazim disajikan bersama kuah tersendiri. Nasi dapat menjadi pelengkap untuk menikmati daging bakar dan kuahnya.
Sate Matang D’Wan dikenal menyediakan sate daging sapi dengan pelengkap kuah dan bumbu kacang. Tempat ini dapat menjadi pilihan untuk makan sore atau malam.
6. Jambô Beulangong, Menikmati Masakan Tradisional Aceh
Wisatawan yang ingin mencoba hidangan berkuah dapat mengunjungi Jambô Beulangong di Jalan Rama Setia, Lampaseh Aceh, Kecamatan Meuraxa.
Salah satu menu yang dikenal dari tempat makan ini adalah kuah beulangong, masakan tradisional Aceh berbahan daging dengan racikan rempah.
Nama beulangong merujuk pada kuali besar yang digunakan dalam proses memasak. Hidangan ini memiliki hubungan erat dengan tradisi kenduri dan acara masyarakat Aceh, ketika makanan dimasak untuk disantap bersama.
Selain kuah beulangong, tempat makan tersebut juga dikenal menawarkan masakan tradisional lain, seperti kuah pliek u dan sie reuboh, olahan daging berbumbu khas Aceh.
7. Bu Sie Itek Bireuen, Nasi Bebek Berempah
Pilihan kuliner lainnya adalah Bu Sie Itek Bireuen Ustadz Heri di kawasan Geuceu Kayee Jato, Kecamatan Banda Raya.
Bu sie itek merupakan sajian nasi dengan olahan daging bebek khas Aceh. Bebek dimasak bersama bumbu dan rempah hingga menghasilkan kuah dengan cita rasa kuat.
Hidangan ini menawarkan pengalaman berbeda dari ayam tangkap maupun sate matang karena menonjolkan olahan bebek dengan kuah berbumbu.
Pengunjung yang menyukai masakan berempah dapat menjadikan bu sie itek sebagai salah satu pilihan makan siang atau malam di Banda Aceh.
Sebelum berkunjung ke tempat-tempat tersebut, wisatawan sebaiknya memeriksa kembali jam operasional dan ketersediaan menu. Harga hidangan juga dapat berbeda menurut pilihan lauk, jenis makanan laut, serta ukuran porsi yang dipesan.











