Langsa, Aceh — Warga Aceh kembali memprotes dugaan penyalahgunaan layanan Starlink gratis Aceh disewakan oleh oknum tertentu. Banyak warga mengaku menerima bantuan internet gratis dari Elon Musk, tetapi beberapa orang justru memungut biaya Rp 20 ribu per jam ketika korban banjir ingin mengakses jaringan tersebut. Laporan warga dan unggahan media sosial memperkuat polemik ini.
Akun resmi @Starlink di X menegaskan bahwa perusahaan tersebut memberikan layanan gratis kepada korban banjir di Indonesia. Starlink juga menginformasikan bahwa mereka bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk memasang terminal di daerah banjir terparah.
“For those affected by the severe flooding in Indonesia, Starlink is providing free service to new and existing customers through the end of December.”
Pengumuman Resmi Starlink di X
Pernyataan itu menegaskan bahwa seluruh warga terdampak bencana memiliki hak penuh untuk menggunakan layanan Starlink tanpa pembayaran apa pun.
Layanan Gratis Berubah Menjadi Berbayar
Namun laporan dari lapangan mengungkapkan kondisi yang berbeda tentang korupsi bantuan internet ini. Dalam sebuah tangkapan percakapan WhatsApp yang beredar, seorang warga mengaku harus membayar Rp 20 ribu per jam untuk menggunakan layanan Starlink di Langsa.
Chat WhatsApp warga di Aceh
Percakapan itu memunculkan kekhawatiran publik karena oknum tersebut mengubah bantuan resmi menjadi sumber pemasukan pribadi.
Kasus ini semakin viral setelah pengguna X bernama @narraesya menyampaikan keluhan kepada Elon Musk. Ia menuliskan:
“Elon, info from my friend in Langsa, Aceh: during the Sumatra flood, Starlink service that should be free is being rented out for 20k rupiah per hour. What should we do?”
Unggahan Netizen Menandai Elon Musk
Unggahan itu menyertakan beberapa bukti percakapan dan informasi lokasi pemasangan terminal. Banyak pengguna X menanggapi laporan tersebut dan meminta penjelasan mengenai kasus starlink gratis Aceh disewakan.
Sumber Lapangan Menyebut Oknum Bertindak Sendiri
Beberapa warga di lokasi banjir menjelaskan bahwa oknum tersebut tidak berasal dari tim relawan atau pemerintah. Mereka memasang router Starlink di titik pengungsian, lalu menjual akses internet kepada warga. Praktik ini menyalahi tujuan bantuan yang seharusnya mempercepat:
komunikasi antara warga dan keluarga,
proses evakuasi,
alur distribusi logistik,
serta penyampaian laporan kondisi darurat.
Banyak relawan menilai tindakan oknum tersebut merusak kepercayaan publik terhadap bantuan internasional.
Masyarakat Mendesak Pemerintah Menindak Oknum
RelawanWarga Mendesak Pemerintah Mengambil Tindakan
Relawan dan warga meminta pemerintah daerah untuk turun langsung ke lokasi dan menghentikan praktik pungutan tersebut. Mereka ingin pemerintah menelusuri oknum yang memanfaatkan Starlink untuk keuntungan pribadi.
Seorang relawan menyampaikan:
“Starlink datang sebagai bantuan. Siapa pun yang menjual akses itu jelas menyulitkan korban banjir. Pemerintah perlu turun tangan.”
Starlink belum merilis pernyataan tambahan selain pengumuman resmi mereka di X.