Bulatan Times – Kista ovarium merupakan kantung berisi cairan atau jaringan lain yang terbentuk di dalam atau pada permukaan ovarium. Kondisi ini cukup umum, terutama pada perempuan yang masih mengalami menstruasi.
Mendengar kata “kista” sering kali membuat seseorang langsung khawatir terhadap kanker. Padahal, sebagian besar kista ovarium bersifat jinak dan banyak di antaranya dapat menghilang sendiri tanpa pengobatan dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Meski demikian, kista tidak boleh selalu dianggap sepele. Ukuran, jenis, gejala, usia pasien, serta gambaran kista pada pemeriksaan ultrasonografi menjadi beberapa faktor yang menentukan apakah kista cukup dipantau atau memerlukan penanganan lebih lanjut.
Apa yang Dimaksud Kista Ovarium?
Ovarium merupakan bagian dari sistem reproduksi perempuan yang berfungsi menghasilkan sel telur dan hormon. Dalam proses ovulasi normal, sebuah folikel tumbuh di ovarium dan kemudian pecah untuk melepaskan sel telur.
Pada beberapa kondisi, folikel tidak pecah atau tidak menyusut seperti seharusnya. Cairan kemudian dapat tertahan dan membentuk apa yang disebut kista fungsional.
Kista fungsional merupakan jenis yang paling umum dan biasanya bukan kanker. ACOG menyebut jenis ini sering hilang tanpa pengobatan dalam waktu sekitar enam hingga delapan minggu.
Selain kista fungsional, terdapat pula jenis lain seperti endometrioma yang berkaitan dengan endometriosis, dermoid atau teratoma, serta cystadenoma. Karena jenis dan karakteristiknya berbeda, tidak semua kista dapat ditangani dengan cara yang sama.
Apakah Kista Berbahaya?
Sebagian besar kista ovarium tidak berbahaya dan bahkan tidak menimbulkan gejala. Namun, masalah dapat muncul ketika kista membesar, pecah, mengalami perdarahan, atau menyebabkan ovarium terpuntir.
Salah satu komplikasi yang perlu mendapat perhatian adalah torsio ovarium. Kondisi ini terjadi ketika ovarium berputar sehingga aliran darah ke organ tersebut berkurang atau terhenti. Kista yang berukuran besar dapat meningkatkan kemungkinan ovarium bergerak dan mengalami puntiran.
Komplikasi lainnya adalah kista pecah atau ruptur. Kista yang pecah dapat menyebabkan nyeri hebat dan, pada beberapa kasus, perdarahan di dalam rongga panggul. Risiko pecah dapat lebih besar pada kista berukuran besar.
Kista tertentu juga dapat tumbuh cukup besar dan menimbulkan rasa penuh, tekanan, atau nyeri pada perut bagian bawah.
Adapun kemungkinan keganasan memang ada, tetapi relatif jarang. Sebagian besar kista ovarium bersifat jinak. Risiko kanker menjadi perhatian lebih besar pada perempuan setelah menopause sehingga evaluasi dokter terhadap kista pada kelompok ini menjadi penting.
Baca Juga: Kopi dan Kesehatan Tulang Wanita: Terlalu Banyak Minum Kopi Bisa Berdampak
Gejala Kista yang Perlu Diperhatikan
Banyak penderita tidak menyadari keberadaan kista karena tidak mengalami keluhan. Jika muncul, gejalanya dapat berupa rasa penuh atau tertekan pada perut, kembung, serta nyeri di bagian bawah perut atau panggul yang dapat datang dan pergi.
Keluhan tersebut tidak otomatis berarti seseorang memiliki kista karena berbagai gangguan lain dapat menimbulkan gejala serupa. Diagnosis biasanya membutuhkan pemeriksaan dokter dan, bila diperlukan, ultrasonografi. Pemeriksaan tersebut membantu menilai lokasi, ukuran, bentuk, serta apakah massa berisi cairan, padat, atau campuran.
Ada beberapa tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera:
- nyeri perut atau panggul yang muncul tiba-tiba dan sangat hebat;
- nyeri disertai demam atau muntah;
- pusing berat, lemas atau hampir pingsan; serta
- napas yang menjadi cepat.
Gejala tersebut dapat berkaitan dengan kista pecah, perdarahan, atau torsio ovarium dan perlu dinilai tenaga medis secepatnya.
Bisakah Kista Ovarium Dicegah?
Ini bagian yang penting: tidak ada cara yang terbukti dapat mencegah sebagian besar kista ovarium.
Kista fungsional berkaitan dengan proses ovulasi normal. Office on Women’s Health menyebut kista fungsional tidak dapat sepenuhnya dicegah selama seseorang masih mengalami ovulasi. Mayo Clinic juga menyatakan sebagian besar kista ovarium tidak memiliki metode pencegahan khusus.
Artinya, klaim bahwa makanan, minuman herbal, suplemen, atau pola hidup tertentu dapat menjamin seseorang “bebas kista” perlu disikapi dengan hati-hati.
Pada orang yang berulang kali mengalami kista fungsional, dokter dalam kondisi tertentu dapat mempertimbangkan kontrasepsi hormonal untuk menekan ovulasi sehingga kemungkinan terbentuknya kista baru dapat berkurang. Namun, obat hormonal bukan sesuatu yang sebaiknya digunakan sendiri tanpa evaluasi tenaga kesehatan. Kontrasepsi hormonal juga bukan metode untuk mengecilkan kista yang sudah terbentuk.
Baca Juga: Tidur Pakai Bantal atau Tanpa Bantal, Mana yang Lebih Baik untuk Leher?
Yang Lebih Penting adalah Deteksi Dini
Karena sebagian besar kista tidak dapat dicegah secara langsung, langkah yang lebih realistis adalah mengenali perubahan pada tubuh dan melakukan pemeriksaan ketika muncul keluhan.
Perubahan pola menstruasi yang tidak biasa, nyeri panggul berulang, perut terasa penuh atau membesar, perdarahan vagina yang tidak biasa, atau keluhan yang menetap sebaiknya tidak hanya ditunggu tanpa pemeriksaan.
Pemeriksaan rutin juga dapat membantu dokter menemukan perubahan pada ovarium lebih dini. Namun, pemeriksaan yang dibutuhkan setiap orang dapat berbeda bergantung pada usia, gejala, riwayat penyakit, dan faktor risiko lainnya.
Jika sebuah kista sudah ditemukan, dokter dapat memilih pendekatan observasi dengan pemeriksaan ultrasonografi berulang. Operasi biasanya baru dipertimbangkan pada kondisi tertentu, misalnya kista sangat besar, terus membesar, menyebabkan gejala, tidak menghilang, memiliki gambaran yang mencurigakan, atau terdapat kekhawatiran terhadap keganasan.
Kista Tidak Selalu Berarti Gangguan Kesuburan
Keberadaan kista ovarium juga tidak otomatis membuat seseorang sulit hamil. Sebagian besar kista tidak mengganggu kemampuan untuk mendapatkan kehamilan.
Namun, penyakit yang berada di balik munculnya kista tertentu dapat memengaruhi kesuburan. Contohnya adalah endometriosis yang dapat menyebabkan endometrioma. Karena itu, evaluasi sebaiknya tidak hanya melihat keberadaan kista, tetapi juga penyebab dan kondisi kesehatan reproduksi pasien secara keseluruhan.
Kesimpulannya, sebagian besar kista ovarium bersifat jinak dan dapat menghilang sendiri. Bahaya terutama muncul ketika kista mengalami komplikasi seperti pecah, perdarahan, atau torsio ovarium, maupun ketika terdapat karakteristik yang menimbulkan kecurigaan terhadap keganasan.
Tidak ada metode yang menjamin kista ovarium dapat dihindari sepenuhnya. Mengenali gejala, tidak mengabaikan perubahan pada tubuh, serta mendapatkan pemeriksaan medis ketika diperlukan menjadi langkah yang lebih tepat dibanding mencoba pengobatan atau pencegahan yang belum terbukti.











