Bulatan Times – Tidur dengan atau tanpa bantal ternyata tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan mana yang terasa lebih empuk atau nyaman. Posisi tidur menjadi salah satu faktor utama yang menentukan apakah kepala dan leher membutuhkan penyangga saat beristirahat.
Bantal pada dasarnya berfungsi membantu menjaga kepala, leher, dan tulang belakang tetap berada dalam posisi yang nyaman. Namun, ketebalan atau penggunaan bantal yang tidak sesuai justru dapat membuat leher berada pada sudut yang kurang alami.
Tidur Tanpa Bantal Bisa Cocok untuk Posisi Tengkurap
Orang yang terbiasa tidur tengkurap mungkin merasa lebih nyaman menggunakan bantal yang sangat tipis atau bahkan tanpa bantal.
Pada posisi tengkurap, kepala biasanya harus diputar ke salah satu sisi. Jika ditambah bantal yang terlalu tinggi, sudut leher dapat semakin besar sehingga meningkatkan tekanan pada leher dan punggung.
Sleep Foundation menjelaskan, penggunaan bantal tipis atau tanpa bantal dapat membantu sebagian orang yang tidur tengkurap menjaga kepala lebih sejajar dengan tulang belakang. Meski demikian, posisi tengkurap sendiri tetap dapat memberikan tekanan pada leher dan punggung.
Cleveland Clinic juga mencatat bahwa tidur tengkurap membuat kepala harus menoleh dalam waktu lama dan dapat meningkatkan ketegangan pada leher, bahu, serta punggung.
Tidur Miring Umumnya Tetap Membutuhkan Bantal
Kondisinya berbeda bagi orang yang tidur menyamping.
Posisi ini menciptakan ruang antara kepala dan kasur akibat lebar bahu. Karena itu, bantal dibutuhkan untuk mengisi ruang tersebut sehingga kepala tidak jatuh terlalu rendah menuju kasur.
Jika tidur miring tanpa bantal, leher dapat berada dalam posisi miring selama berjam-jam. Sleep Foundation menyebut orang yang tidur menyamping umumnya membutuhkan bantal dengan ketebalan yang cukup untuk menjaga kepala, leher, dan tulang belakang tetap sejajar.
Ketebalan yang dibutuhkan tidak selalu sama karena dipengaruhi bentuk tubuh, lebar bahu, serta tingkat kekerasan kasur.
Bagaimana dengan Tidur Telentang?
Tidur telentang juga umumnya lebih cocok menggunakan bantal.
Bantal dengan ketebalan sedang dapat membantu mengisi ruang antara leher dan kasur tanpa mendorong kepala terlalu jauh ke depan.
Sebaliknya, bantal yang terlalu tinggi dapat membuat leher menekuk ke depan. Tanpa bantal sama sekali, sebagian orang juga dapat mengalami posisi leher yang kurang nyaman karena kepala jatuh terlalu jauh ke belakang.
Karena itu, pemilihan bantal untuk posisi telentang lebih berfokus pada tinggi dan tingkat kekerasannya, bukan sekadar memakai atau tidak memakai bantal.
Tidak Ada Aturan Satu Bantal untuk Semua Orang
Pilihan terbaik tidak hanya ditentukan oleh posisi tidur. Bentuk tubuh, kondisi kasur, kebiasaan tidur, serta adanya keluhan pada leher atau punggung juga perlu dipertimbangkan.
Seseorang yang bangun dengan leher kaku, sakit kepala, bahu nyeri, atau punggung terasa sakit dapat mencoba mengevaluasi kembali posisi tidur dan jenis bantal yang digunakan.
Tidur tanpa bantal juga tidak terbukti secara universal dapat memperbaiki postur tubuh. Bukti yang tersedia lebih menunjukkan bahwa manfaatnya kemungkinan hanya berlaku untuk kondisi dan posisi tidur tertentu.
Jika nyeri leher atau punggung terus berulang, disertai kesemutan, mati rasa, kelemahan pada lengan, atau keluhan lain yang menetap, pemeriksaan tenaga kesehatan lebih tepat dibanding hanya mengganti atau menyingkirkan bantal.
Jadi, Mana yang Lebih Baik?
Secara umum:
- Tidur menyamping: biasanya membutuhkan bantal untuk menjaga posisi kepala dan leher.
- Tidur telentang: umumnya lebih nyaman dengan bantal yang tidak terlalu tinggi.
- Tidur tengkurap: sebagian orang dapat merasa lebih nyaman dengan bantal sangat tipis atau tanpa bantal.
Tujuan utamanya bukan sekadar tidur dengan atau tanpa bantal, melainkan menjaga kepala, leher, dan tulang belakang tetap berada dalam posisi netral dan nyaman selama tidur.











