Bulatan Times – Warna urine dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi hidrasi tubuh hingga kemungkinan adanya gangguan kesehatan tertentu. Meski demikian, perubahan warna tidak selalu berarti seseorang sedang sakit karena makanan, obat-obatan, vitamin, dan jumlah cairan yang dikonsumsi juga dapat memengaruhinya.
Pada kondisi normal dan hidrasi yang cukup, urine umumnya berada dalam rentang kuning pucat hingga kuning muda seperti jerami. Semakin sedikit cairan yang masuk ke tubuh, warna urine biasanya menjadi lebih pekat karena konsentrasi pigmennya meningkat.
Berikut sejumlah warna urine dan hal yang dapat memengaruhinya.
1. Urine Bening
Urine yang terlihat sangat bening biasanya menandakan urine dalam kondisi encer akibat banyaknya cairan yang dikonsumsi.
Namun, urine tidak harus selalu transparan untuk menunjukkan bahwa tubuh terhidrasi dengan baik. Warna kuning pucat juga termasuk rentang yang normal.
Karena itu, tidak perlu memaksakan konsumsi air hanya untuk membuat urine terus-menerus terlihat bening. Kondisi hidrasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, aktivitas, suhu lingkungan, dan kondisi kesehatan masing-masing.
2. Kuning Pucat
Kuning pucat atau kuning muda umumnya merupakan warna urine yang normal.
Menurut Cleveland Clinic, warna tersebut biasanya menunjukkan tubuh mendapatkan cairan yang cukup. Warna kuning berasal dari pigmen dalam zat sisa yang disaring ginjal dari darah.
Perubahan intensitas warna kuning dari waktu ke waktu juga dapat terjadi secara normal, terutama dipengaruhi banyak atau sedikitnya cairan yang dikonsumsi.
3. Kuning Pekat atau Amber
Urine berwarna kuning lebih gelap atau amber sering kali berkaitan dengan kurangnya asupan cairan.
Kondisi ini dapat muncul setelah berkeringat banyak, berolahraga, berada di cuaca panas, atau tidak cukup minum.
Cleveland Clinic menjelaskan urine yang lebih pekat dapat menjadi tanda dehidrasi ringan. Setelah kebutuhan cairan terpenuhi, warnanya biasanya kembali menjadi lebih terang.
Namun, perubahan warna yang terus bertahan meski asupan cairan sudah cukup perlu diperhatikan karena penyebabnya tidak selalu dehidrasi.
4. Cokelat Tua atau Seperti Teh
Urine berwarna cokelat tua tidak sebaiknya langsung dianggap sebagai tanda kurang minum.
Dehidrasi berat memang dapat membuat urine menjadi sangat gelap. Namun, Mayo Clinic mencatat warna cokelat juga dapat berkaitan dengan gangguan hati atau ginjal, beberapa jenis infeksi, obat tertentu, hingga cedera otot akibat aktivitas fisik ekstrem.
Jika urine tetap berwarna cokelat setelah kebutuhan cairan terpenuhi, pemeriksaan medis dapat diperlukan untuk mencari penyebabnya.
Perhatian khusus juga diperlukan apabila urine gelap disertai kulit atau bagian putih mata menguning serta feses berwarna pucat, karena kombinasi gejala tersebut dapat berkaitan dengan masalah hati atau saluran empedu.
5. Merah atau Merah Muda
Urine berwarna merah tidak selalu berarti terdapat darah.
Beberapa makanan seperti bit, blackberry, atau pewarna makanan dapat membuat urine tampak merah muda atau kemerahan. Obat tertentu juga dapat menyebabkan perubahan warna.
Namun, apabila tidak ada makanan atau obat yang dapat menjelaskan perubahan tersebut, warna merah dapat menunjukkan adanya darah dalam urine atau hematuria.
Darah dalam urine dapat ditemukan pada sejumlah kondisi, termasuk infeksi saluran kemih, batu ginjal, gangguan prostat, hingga penyakit yang lebih serius. Karena penyebabnya beragam, urine berdarah sebaiknya tidak didiagnosis sendiri hanya berdasarkan warna.
Mayo Clinic menyarankan pemeriksaan tenaga kesehatan apabila terlihat darah dalam urine, termasuk ketika tidak disertai rasa sakit.
6. Oranye, Biru, atau Hijau
Perubahan warna urine menjadi oranye, biru, atau hijau memang tidak umum, tetapi bukan berarti selalu menunjukkan penyakit.
Urine oranye dapat dipengaruhi obat tertentu, vitamin, atau dehidrasi. Dalam kondisi tertentu, warna tersebut juga dapat berkaitan dengan gangguan hati atau saluran empedu.
Sementara urine biru atau hijau dapat muncul akibat zat pewarna yang digunakan dalam makanan atau pemeriksaan medis, serta sejumlah obat.
Mayo Clinic juga mencatat beberapa infeksi saluran kemih tertentu dapat membuat urine tampak hijau. Penyakit genetik langka juga dapat menyebabkan perubahan warna urine menjadi biru.
Karena itu, riwayat obat, makanan, maupun pemeriksaan medis yang baru dijalani perlu ikut dipertimbangkan sebelum menarik kesimpulan.
7. Urine Keruh atau Seperti Susu
Selain warna, kejernihan urine juga dapat memberikan informasi.
Urine yang terlihat keruh dapat berkaitan dengan infeksi saluran kemih atau batu ginjal. Mayo Clinic mencatat kedua kondisi tersebut termasuk penyebab urine tampak keruh atau berkabut.
Meski demikian, penampilan urine saja tidak cukup untuk memastikan diagnosis.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan urine atau urinalisis, dan bila diperlukan pemeriksaan darah, untuk mencari penyebab perubahan warna atau kejernihan urine.
Kapan Perubahan Warna Urine Perlu Diperiksa?
Perubahan sesaat setelah makan makanan tertentu atau mengonsumsi obat biasanya memiliki penjelasan yang relatif sederhana.
Namun, konsultasi dengan tenaga kesehatan sebaiknya dipertimbangkan apabila perubahan warna tidak kunjung hilang atau disertai keluhan lain seperti:
- darah terlihat dalam urine;
- nyeri saat buang air kecil;
- demam;
- nyeri pada pinggang atau sisi tubuh;
- urine terus berwarna cokelat atau oranye;
- kulit atau mata menguning; atau
- perubahan urine terjadi tanpa penyebab yang jelas.
Warna urine dapat menjadi petunjuk awal, tetapi tidak dapat digunakan sendirian untuk menentukan penyakit tertentu. Pemeriksaan lebih lanjut tetap dibutuhkan apabila terdapat perubahan yang menetap atau gejala lain yang mengkhawatirkan.











