Jumat, September 4, 2026
  • Login
Bulatan Times
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
    • MOTOGP
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • ENTERTAINMENT
  • KULINER
  • GAME
  • OTOMOTIF
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
    • MOTOGP
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • ENTERTAINMENT
  • KULINER
  • GAME
  • OTOMOTIF
No Result
View All Result
Bulatan Times
No Result
View All Result
Home HEALTH

Resiko Sering Konsumsi Fast Food

admin by admin
Oktober 6, 2025
in HEALTH
0
makanan cepat saji

Gambar ilustrasi makanan cepat saji. Sumber gambar: partstown.com

1
SHARES
15
VIEWS

Bulatan Times – Mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan tidak sehat secara sering dapat menyebabkan individu mengalami penurunan daya ingat dengan cepat.

Riset terkini yang dilakukan oleh University of Sydney mengindikasikan bahwa pola konsumsi makanan yang kaya akan lemak dan gula dapat mengganggu fungsi otak. Ini terutama pada area yang bertanggung jawab dalam memori dan orientasi arah.

“Kita sudah lama tahu jika mengonsumsi terlalu banyak gula olahan dan lemak jenuh bisa meningkatkan risiko obesitas, penyakit metabolik, penyakit kardiovaskular, dan beberapa jenis kanker. Semua orang juga tahu kebiasaan makan yang tidak sehat dapat mempercepat timbulnya penurunan kognitif terkait usia. Ini terutama pada orang dewasa tengah dan lanjut usia,” jelas pemimpin studi ini, Dr. Dominic Tran dari Faculty of Science’s School of Psychology, melansir Science Daily, Sabtu (4/10/2025).

Tran menambahkan, studi ini menunjukkan bahwa pola makan mempunyai peran penting dalam kesehatan otak selama masa awal kedewasaan. Ini adalah suatu waktu di mana fungsi kognitif biasanya masih dalam kondisi baik.

Penelitian ini, yang diterbitkan dalam jurnal International Journal of Obesity, mengevaluasi korelasi antara pola konsumsi tinggi lemak dan tinggi gula (dikenal juga sebagai HFHS) dengan kemampuan otak untuk melakukan navigasi spasial.

Studi mengenai efek konsumsi fast food secara rutin terhadap otak

Dalam studi ini, 55 mahasiswa yang berusia antara 18 hingga 38 tahun turut serta. Mereka ditugaskan untuk menyelesaikan kuesioner yang berkaitan dengan pola konsumsi makanan mereka sehari-hari, termasuk makanan tinggi gula dan berlemak tinggi.

Setelahnya, diharapkan para peserta untuk melalui tes memori dan navigasi menggunakan realitas maya.

Dalam simulasi itu, peserta dituntut untuk mencari harta karun dalam labirin virtual sampai dengan enam kali. Titik awal dan tempat harta karun berada tetap tidak berubah dalam setiap percobaannya.

Orang-orang yang sering mengonsumsi makanan dengan kandungan lemak dan gula yang tinggi, cenderung memiliki kesulitan yang lebih sering dalam mengenang letak harta. Ini dibandingkan dengan orang-orang yang jarang mengonsumsi jenis makanan tersebut.

Dalam uji coba yang ketujuh, tempat harta karun dihilangkan dari peta dan para peserta ditugaskan untuk menandainya berdasarkan memori mereka. Ternyata, peserta yang biasa mengkonsumsi makanan cepat saji dan makanan manis cenderung lebih sering melakukan kesalahan dalam menentukan lokasi tersebut.

Tran menjelaskan bahwa makanan cepat saji yang kaya akan lemak jenuh dan gula dapat mempengaruhi fungsi hipokampus. Bagian otak ini berperan penting dalam memori dan penentuan arah.

Apakah kerusakan memori yang terjadi akibat sering mengonsumsi makanan cepat saji dapat dipulihkan?

Situasi ini tidak bersifat tetap. Jika Anda mulai mengurangi asupan fast food dan meningkatkan konsumsi makanan sehat, termasuk sayuran, buah, serta protein yang seimbang, fungsi otak dapat dipulihkan.

“Kabar bagusnya, kami sangat yakin ini mudah dipulihkan. Perubahan pola makan mampu meningkatkan kesehatan hipokampus. Kemampuan kita untuk menavigasi lingkungan sekitar juga dapat kembali. Ini terutama ketika saat kita menjelajahi kota baru atau mempelajari rute pulang yang baru,” ujarnya. 

Ia mengungkapkan, ada kemungkinan hasil penelitian ini akan lebih signifikan jika diaplikasikan pada populasi yang lebih luas.

Alasan peneliti memilih mahasiswa sebagai subjek penelitian karena mereka umumnya memiliki gaya hidup yang lebih sehat. Ini dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya.

Via: Kompas
Tags: Fast FoodGulaKesehatanLemakMakanan Cepat SajiObesitas

Related Posts

Ini Jumlah Kopi yang Tepat untuk Mengurangi Stres
HEALTH

Ini Jumlah Kopi yang Tepat untuk Mengurangi Stres

September 3, 2026
Tanda-Tanda Gejala Stroke
HEALTH

Tanda-Tanda Gejala Stroke, Kenali dengan Metode FAST

September 1, 2026
Fobia
HEALTH

Fobia: Pengertian, Jenis, Gejala, dan Cara Mengatasinya

Agustus 26, 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Cara Daftar dan Mendapatkan Uang dari Bilibili

Cara Daftar dan Mendapatkan Uang dari Bilibili

Agustus 31, 2026
Jadwal MotoGP Misano 2026

Jadwal MotoGP Misano 2026 Waktu Indonesia dan Siaran Langsung

September 2, 2026
Ini Jumlah Kopi yang Tepat untuk Mengurangi Stres

Ini Jumlah Kopi yang Tepat untuk Mengurangi Stres

September 3, 2026
Jerman Kekurangan Prajurit Rekrut Gamer Jadi Tentara

Jerman Kekurangan Prajurit Rekrut Gamer Jadi Tentara

September 2, 2026
Audi Marissa dan Anthony Xie

Audi Marissa dan Anthony Xie Sepakat Cerai, Hak Asuh Anak di Tangan Anthony

Build Tersakit Hero Zilong 2026

Build Tersakit Hero Zilong 2026 Bikin Musuh Kocar-Kacir

Bocoran Apple Event 9 September 2026

Bocoran Apple Event 9 September 2026: iPhone dan Watch Baru

Santri Keracunan MBG Sidoarjo

Kasus Santri Keracunan MBG Sidoarjo: BGN Ungkap Fakta Baru

Audi Marissa dan Anthony Xie

Audi Marissa dan Anthony Xie Sepakat Cerai, Hak Asuh Anak di Tangan Anthony

September 4, 2026
Build Tersakit Hero Zilong 2026

Build Tersakit Hero Zilong 2026 Bikin Musuh Kocar-Kacir

September 3, 2026
Bocoran Apple Event 9 September 2026

Bocoran Apple Event 9 September 2026: iPhone dan Watch Baru

September 3, 2026
Santri Keracunan MBG Sidoarjo

Kasus Santri Keracunan MBG Sidoarjo: BGN Ungkap Fakta Baru

September 3, 2026

Tentang Kami

BulatanTImes.com

Situs berita digital yang meliput peristiwa dan menuliskannya secara berimbang.

Halaman

  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Penghapusan Data Pengguna
  • Ketentuan Layanan
  • Kebijakan Privasi
  • Indeks
  • Pedoman Media Siber

Newsletter

© 2026 BulatanTimes.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Kelola Persetujuan

Kami Menggunakan Cookie
Bulatan Times menggunakan cookie dan teknologi serupa untuk membantu menjalankan situs, memahami penggunaan website, meningkatkan pengalaman pembaca, serta mendukung penayangan iklan yang relevan. Anda dapat menerima, menolak, atau mengatur preferensi cookie.

Fungsional Always active
Penyimpanan atau akses teknis yang diperlukan untuk menjalankan layanan dan fungsi dasar website.
Preferences
The technical storage or access is necessary for the legitimate purpose of storing preferences that are not requested by the subscriber or user.
Statistik
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk memahami penggunaan website dan meningkatkan layanan. The technical storage or access that is used exclusively for anonymous statistical purposes. Without a subpoena, voluntary compliance on the part of your Internet Service Provider, or additional records from a third party, information stored or retrieved for this purpose alone cannot usually be used to identify you.
Pemasaran
Penyimpanan atau akses yang digunakan untuk mendukung penayangan iklan dan mengukur efektivitasnya.
  • Manage options
  • Manage services
  • Manage {vendor_count} vendors
  • Read more about these purposes
Lihat Preferensi
  • {title}
  • {title}
  • {title}
No Result
View All Result
  • Beranda
  • NEWS
    • BISNIS
    • EKONOMI
    • DUNIA
    • NASIONAL
  • SPORT
    • BOLA
    • MOTOGP
  • TRAVEL
  • TEKNO & SAINS
    • GADGET
  • HEALTH
  • ENTERTAINMENT
  • KULINER
  • GAME
  • OTOMOTIF

© 2026 Bulatan Times