BULATANTIMES.COM – Persaingan teknologi antara Amerika Serikat dan China kini merambah industri drone. Pemerintahan Presiden Donald Trump mulai memberlakukan tarif baru terhadap sejumlah drone dan komponen impor, termasuk produk yang banyak dipasok produsen China.
Kebijakan tersebut mulai berlaku pada 3 September 2026. Besaran tarif berbeda berdasarkan jenis dan spesifikasi drone. Untuk kategori tertentu, tarifnya mencapai 100 persen.
Langkah Washington ini bukan sekadar upaya menaikkan harga produk impor. Pemerintah AS ingin mendorong perusahaan dalam negeri memperbesar produksi drone dan komponen yang selama ini masih bergantung pada rantai pasok luar negeri.
Kenapa Amerika Menyoroti Drone China?
Drone sekarang bukan lagi sekadar perangkat untuk mengambil gambar dari udara.
Teknologi ini digunakan untuk pemetaan, pertanian, pencarian dan penyelamatan, pemantauan lingkungan, penegakan hukum hingga kebutuhan militer. Karena pemakaiannya semakin luas, Washington melihat kemampuan memproduksi drone sendiri sebagai bagian dari kepentingan ekonomi sekaligus keamanan nasional.
Dalam keputusan yang ditandatangani Trump pada Agustus, pemerintah AS menyebut ketergantungan terhadap sumber asing dapat menciptakan kerentanan ketika terjadi gangguan geopolitik atau masalah rantai pasok.
Masalahnya tidak hanya terletak pada drone yang sudah jadi.
Sejumlah produsen AS juga masih menggunakan komponen dari luar negeri, termasuk motor, baterai lithium-ion, pengendali elektronik, dan perangkat pendukung lainnya. Artinya, membuat drone di Amerika belum otomatis berarti seluruh rantai produksinya bebas dari ketergantungan asing.
Tarif Drone Bisa Mencapai 100 Persen
Aturan baru tersebut membagi drone ke dalam beberapa kategori.
Drone dengan berat maksimum lebih dari 25 kilogram dikenai tarif 100 persen. Tarif yang sama juga berlaku untuk drone yang menggunakan kamera termal, docking station tertentu, serta sejumlah komponen yang masuk daftar kebijakan tersebut.
Sementara itu, drone dengan berat maksimal 25 kilogram dikenai tarif 25 persen. Beberapa komponen drone juga mendapat tarif 25 persen, meski penerapannya untuk kategori tertentu ditunda selama 180 hari.
Kebijakan itu mulai berlaku untuk barang yang masuk ke Amerika Serikat sejak 3 September 2026.
Dengan aturan tersebut, Washington berharap perusahaan Amerika memiliki alasan yang lebih kuat untuk membangun fasilitas produksi di dalam negeri.
DJI Jadi Bagian Penting dari Persaingan
Nama DJI sulit dilepaskan dari pembahasan mengenai dominasi China di pasar drone.
Perusahaan asal China tersebut diperkirakan menguasai lebih dari 70 persen pasar drone global. Produk DJI juga selama ini digunakan bukan hanya oleh konsumen, tetapi oleh sejumlah lembaga penegak hukum dan organisasi di Amerika Serikat.
Posisi tersebut membuat upaya Washington mengurangi ketergantungan pada produk China tidak sederhana.
AS tidak hanya harus membatasi produk asing. Mereka juga perlu memastikan produsen dalam negeri mampu menyediakan drone dengan kemampuan, harga, dan jumlah yang bisa memenuhi kebutuhan pasar.
Di sinilah tantangan berikutnya muncul.
Baca Juga: Kepala Intelijen Ekuador dan Lima Warga AS Tewas dalam Kecelakaan Helikopter di Kenya
Amerika Ingin Bangun Industri Drone Sendiri
Kebijakan tarif Trump juga menyediakan jalur insentif bagi perusahaan yang bersedia membangun atau memperluas fasilitas produksi drone di Amerika Serikat.
Pemerintah AS dapat memberikan perlakuan tarif khusus kepada perusahaan yang memiliki rencana membangun fasilitas baru di dalam negeri dan memenuhi sejumlah persyaratan produksi.
Targetnya jelas: bukan hanya mengurangi produk China di pasar Amerika, tetapi menciptakan rantai produksi yang lebih kuat di dalam negeri.
Namun, hasilnya belum tentu langsung terlihat.
Sejumlah saham perusahaan drone AS justru mengalami tekanan setelah kebijakan tarif mulai berlaku. Investor masih mempertanyakan seberapa cepat produsen dalam negeri bisa menggantikan produk asing dan seberapa besar dampak tarif terhadap permintaan.
Perang Drone Masuk Babak Baru
Persaingan Amerika dan China di bidang teknologi sebenarnya sudah berlangsung di banyak sektor. Semikonduktor, kendaraan listrik, kecerdasan buatan hingga perangkat telekomunikasi sebelumnya sudah menjadi medan persaingan kedua negara.
Kini drone ikut masuk ke dalam daftar tersebut.
Bagi Washington, persoalannya bukan hanya siapa yang menjual drone paling banyak. Pemerintah AS ingin memastikan teknologi yang semakin penting untuk kebutuhan sipil dan militer itu tidak membuat negaranya terlalu bergantung pada pemasok asing.
Bagi industri drone Amerika, kebijakan baru Trump sekaligus menjadi peluang dan ujian.
Jika produsen dalam negeri mampu meningkatkan kapasitas dengan cepat, tekanan terhadap produk China bisa membuka pasar yang lebih besar bagi perusahaan AS. Namun jika kapasitas produksi belum siap, tarif tinggi justru berpotensi membuat biaya bagi pengguna meningkat.
Dengan begitu, pertarungan drone China dan Amerika Serikat belum selesai hanya dengan pemberlakuan tarif. Pertanyaan besarnya sekarang adalah apakah industri AS benar-benar mampu mengambil alih ruang yang selama ini ditempati produsen China.
Sumber: Gedung Putih, Semafor, Barron’s.











