BULATANTIMES.COM — Aktivitas vulkanik gunung api di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan peningkatan intensitas kegempaan yang cukup signifikan. Pasalnya, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi sejak Jumat malam hingga Sabtu (5/9/2026) pagi hari.
Oleh karena itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan tingkat aktivitas pada status Level III Siaga. Petugas pos pengamatan terus memantau rekaman seismograf guna mengantisipasi eskalasi lontaran material vulkanik berbahaya.
Kondisi Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi Sejak Tengah Malam
Awalnya, sensor pemantau mencatat getaran letusan pertama mulai bergejolak pada Jumat malam pukul 23.07 WIB. Letusan tersebut menghasilkan fenomena air mancur lava pijar (lava fountain) yang membubung dari kawah utama.
Terlebih, pancaran sinar api berwarna merah menyala terlihat cukup jelas melatari langit malam perairan laut. Lontaran batu pijar berhamburan jatuh di sekitar lereng tubuh gunung api aktif tersebut.
Bahkan, suara gemuruh dan dentuman letusan terdengar jelas dari Pos Pengamatan Pasauran di Kabupaten Serang.
“Letusan berulang ini teramati melontarkan lava pijar dengan intensitas gemuruh yang berulang-ulang,” tulis laporan resmi Magma Indonesia.
Rekomendasi Zona Bahaya Radius Lima Kilometer
Sementara itu, pihak berwenang melarang masyarakat mendekati kawasan kawah aktif dalam jarak dekat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama aparat keamanan memperketat penjagaan pada pesisir pantai terdekat.
Para nelayan tradisional diimbau menahan diri melaut melintasi zona perairan sekitar Kepulauan Krakatau. Langkah kehati-hatian tersebut penting demi mencegah kecelakaan laut akibat terpaan material letusan vulkanik panas.
Selain itu, wisatawan dilarang melakukan aktivitas pendaratan kapal di pulau gunung api tersebut.
Lebih lanjut, otoritas kebencanaan meminta masyarakat pesisir Banten dan Lampung tetap bersikap tenang.
“Warga harus menjauhi radius bahaya lima kilometer dari pusat kawah aktif,” tegas perwakilan pejabat BNPB, dikutip dari Kompas.com.
- Baca Juga: Indonesia Rawan Gempa, Ini Alasannya
Imbauan Menghindari Kabar Bohong Seputar Potensi Tsunami
Di sisi lain, Badan Geologi memastikan peralatan deteksi muka air laut bekerja secara optimal. Petugas tidak menemukan indikasi penurunan badan lereng gunung yang berpotensi memicu gelombang tsunami.
Masyarakat wajib menyaring setiap informasi dari media sosial dan menghindari penyebaran rekaman video hoaks. Pengelola pos pemantau selalu menyiarkan pembaruan kondisi seismik secara berkala setiap enam jam sekali.
Kendati demikian, warga yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menyiapkan masker penutup hidung. Antisipasi tersebut berguna melindungi saluran pernapasan dari potensi sebaran abu vulkanik tipis.
Dengan demikian, kepatuhan bersama terhadap arahan mitigasi bencana menjaga keselamatan seluruh masyarakat pesisir pantai.
Sumber: Magma Indonesia ESDM, Kompas.
Baca berita nasional terkini hari ini hanya di bulatantimes.com










