Bulatan Times – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di Riau. Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah mulai mengganggu aktivitas sekaligus memicu keluhan kesehatan masyarakat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian ketika sebagian wilayah Riau masih menghadapi periode kering pada September 2026.
BMKG dalam prakiraan cuaca periode 15–21 September memperingatkan atmosfer kering masih mendominasi sebagian Indonesia. Kondisi itu meningkatkan risiko muncul dan meluasnya kabut asap akibat karhutla, terutama kebakaran di kawasan gambut.
Pemantauan citra Satelit Himawari-9 pada 14 September pukul 08.00 WIB juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua.
Baca Juga: BNPB Semai 5,6 Ton NaCl di 4 Provinsi Terdampak Karhutla
Warga Riau Mulai Terganggu Kabut Asap
Kabut asap yang semakin terasa membuat masyarakat mulai mengeluhkan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari.
Dalam laporan Kompas pada Minggu (14/9/2026), warga di Kabupaten Siak mengeluhkan kondisi asap yang semakin mengkhawatirkan. Seorang warga bernama Wawan mengatakan dirinya mulai mengalami batuk setelah terpapar kondisi tersebut.
“Saya batuk.”
Keluhan itu disampaikan Wawan, dikutip dari Kompas.com, saat menggambarkan dampak kabut asap yang dirasakannya.
Keluhan kesehatan akibat asap juga ditemukan di Pekanbaru. Pemerintah Kota Pekanbaru sebelumnya mencatat 3.056 kasus gangguan kesehatan, dengan 2.751 di antaranya berupa infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, selama periode memburuknya kualitas udara.
Angka tersebut menggambarkan bahwa karhutla bukan hanya persoalan kebakaran lahan, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan masyarakat ketika asap mencapai kawasan permukiman.
Kualitas Udara Pekanbaru Sempat Tidak Sehat
Pada 9 September, pemantauan BMKG di Pekanbaru menunjukkan kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat.
Pada periode yang sama, kabut asap terlihat cukup tebal di pusat Kota Pekanbaru. Jarak pandang di beberapa lokasi bahkan dilaporkan terbatas hingga sekitar tiga kilometer.
Kondisi udara dapat berubah mengikuti konsentrasi partikulat, arah angin, hujan, dan perkembangan titik kebakaran.
Karena itu, status kualitas udara pada satu waktu tidak dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi sepanjang hari atau seluruh wilayah Riau.
BMKG: September Didominasi Hujan Bawah Normal
Kondisi cuaca menjadi faktor penting dalam perkembangan karhutla.
Prediksi BMKG untuk September 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori sifat hujan bawah normal.
Di Riau, wilayah yang diprediksi mengalami kondisi tersebut mencakup Kampar, Siak, Kuantan Singingi, Pekanbaru, Pelalawan, Indragiri Hulu, Kepulauan Meranti, dan Indragiri Hilir.
Pada Dasarian II September, BMKG kembali memprediksi sifat hujan bawah normal di sejumlah wilayah Riau, termasuk Siak dan Pekanbaru.
Minimnya hujan dapat membuat vegetasi dan lapisan gambut lebih mudah kehilangan kelembapan. Dalam kondisi seperti itu, kebakaran yang muncul juga berisiko lebih sulit dikendalikan.
Hampir 19 Ribu Hektare Lahan Riau Terbakar hingga Awal September
Data BNPB memberikan gambaran mengenai skala karhutla yang sudah terjadi sepanjang tahun.
Sejak 1 Januari hingga 4 September 2026, luas lahan terbakar di Riau tercatat sekitar 18.882,16 hektare. Wilayah terdampak tersebar di 10 kabupaten dan dua kota.
Penanganan dilakukan melalui operasi darat, patroli udara, water bombing, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
BNPB pada periode tersebut mendukung operasi di Riau dengan satu helikopter patroli, satu pesawat untuk patroli dan OMC, serta lima helikopter water bombing.
Baca Juga: BNPB Semai 5,6 Ton NaCl untuk Tekan Karhutla di Empat Provinsi
Riau Jadi Wilayah dengan Tersangka Karhutla Terbanyak
Penanganan karhutla juga dilakukan melalui jalur penegakan hukum.
Data resmi BNPB yang memuat informasi Bareskrim Polri mencatat 167 laporan polisi terkait karhutla pada periode 1 Januari–3 September 2026.
Sebanyak 112 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, seluruhnya disebut sebagai pelaku perorangan. Riau mencatat jumlah tertinggi dengan 42 tersangka.
Dari areal terbakar yang masuk proses hukum kepolisian, Riau juga memiliki luasan terbesar, yakni sekitar 2.112,25 hektare.
BNPB menyebut modus yang dominan berkaitan dengan pembukaan lahan, baik dilakukan dengan sengaja maupun akibat aktivitas perapian.
Penanganan Karhutla Tak Cukup Hanya Water Bombing
Karhutla di lahan gambut mempunyai tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di lapisan bawah permukaan.
Karena itu, pemerintah mengombinasikan pemadaman darat, operasi udara, patroli, dan modifikasi cuaca.
BNPB menyatakan operasi darat dan OMC menjadi bagian penting dari strategi penanganan. Berdasarkan data per 8 September, indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas telah mencapai sekitar 76.922,3 hektare.
Enam provinsi prioritas tersebut adalah Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Hotspot yang terdeteksi satelit juga tidak langsung diperlakukan sebagai kebakaran aktif. Lokasi tersebut perlu diverifikasi melalui patroli udara maupun darat untuk menentukan keberadaan titik api yang benar-benar harus dipadamkan.
Kabut Asap Bisa Meluas Jika Kondisi Kering Bertahan
Peringatan BMKG untuk sepekan ke depan menunjukkan persoalan karhutla belum dapat dianggap selesai.
BMKG menyatakan kondisi kering dapat memicu muncul dan meluasnya kabut asap, khususnya dari kebakaran gambut. Dampaknya bukan hanya penurunan kualitas udara, tetapi juga gangguan kesehatan, berkurangnya jarak pandang, hingga terganggunya transportasi.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
BNPB sebelumnya mengimbau masyarakat di wilayah terdampak menggunakan masker saat beraktivitas dan segera melaporkan apabila menemukan titik api baru.
Dengan kondisi hujan yang masih diprediksi bawah normal di sejumlah wilayah Riau, pengendalian titik api menjadi penting agar kabut asap tidak berkembang semakin luas.












