LAMPUNG TIMUR, BULATAN TIMES – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur, belum sepenuhnya padam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 40 hektare area masih membutuhkan penanganan hingga Sabtu (24/10/2026).
Tim gabungan terus melakukan pemadaman melalui darat dan udara. Helikopter water bombing dan operasi modifikasi cuaca dikerahkan untuk membantu mengendalikan kebakaran di kawasan konservasi tersebut.
Pada Jumat (23/10/2026), petugas berhasil memadamkan api di area sekitar 10,2 hektare. Namun, sejumlah titik api dan kepulan asap masih terlihat saat Kepala BNPB Kristomei Sianturi bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal melakukan peninjauan udara sehari kemudian.
Baca Juga: Hotspot Karhutla Turun 1.019 Titik, Pemerintah Tetap Waspada karena Sumsel Naik
Helikopter Black Hawk Dikerahkan untuk Pemadaman
BNPB menggunakan helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L dalam operasi pemadaman udara. Helikopter tersebut telah menjalankan dua penerbangan water bombing untuk menjangkau area yang sulit diakses petugas darat.
Selain penyiraman dari udara, operasi modifikasi cuaca kembali dilaksanakan pada Jumat (23/10/2026) menggunakan pesawat Cessna Caravan.
Sebanyak dua penerbangan penyemaian dilakukan di wilayah Taman Nasional Way Kambas dan Kabupaten Lampung Barat. Setiap penerbangan membawa 1.000 kilogram garam atau natrium klorida (NaCl) sebagai bahan penyemaian awan.
BNPB mencatat hujan ringan terjadi di kedua wilayah tersebut setelah pelaksanaan operasi.
Sebelumnya, operasi modifikasi cuaca di Lampung sempat dihentikan pada 18 Oktober karena tidak ditemukan awan yang memenuhi syarat penyemaian.
Sebanyak 350 Personel Gabungan Tangani Kebakaran
Penanganan karhutla Way Kambas melibatkan sekitar 350 personel gabungan dari BNPB, BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, pengelola taman nasional, BMKG, serta sejumlah mitra konservasi.
Petugas di lapangan dibagi menjadi empat tim dengan tugas berbeda. Kegiatan mereka mencakup pemantauan menggunakan drone, pemadaman di kawasan rawa gambut, distribusi air, pemasangan selang, dan penanganan titik api yang masih aktif.
Tim gabungan juga memasang jaringan selang sepanjang sekitar tiga kilometer untuk membantu menyalurkan air menuju lokasi kebakaran.
Pemadaman menghadapi kendala berupa vegetasi rapat dan kering, angin kencang, serta medan yang sulit dijangkau. Sumber air terdekat berada sekitar 1,5 kilometer dari titik kebakaran.
Kondisi rawa gambut menjadi tantangan tambahan karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Bara yang belum sepenuhnya padam berpotensi kembali memicu kebakaran meskipun permukaan lahan terlihat tidak lagi terbakar.
Kerapatan vegetasi juga menghambat air dari helikopter mencapai permukaan lahan secara maksimal.
Baca Juga: Prabowo Prioritaskan Pemadaman Karhutla Tanjung Puting, Asap Hambat Helikopter
Pemadaman Difokuskan pada Titik B dan D
BNPB bersama pemerintah daerah melanjutkan penanganan dengan memprioritaskan titik B, titik D, dan kawasan rawa gambut yang masih menyimpan potensi kebakaran.
Petugas akan menggunakan drone untuk memantau perkembangan titik api sekaligus menentukan lokasi yang membutuhkan pemadaman lanjutan.
Dukungan operasional juga mencakup penambahan peralatan pemadaman, distribusi air, bahan bakar, dan logistik personel agar tim dapat menjangkau area yang belum tertangani.










