JAKARTA, BULATAN TIMES – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia turun tajam dalam pemantauan terbaru. Meski demikian, pemerintah tetap melanjutkan pemadaman karena sejumlah wilayah masih menghadapi kebakaran dan peningkatan titik panas.
Kementerian Kehutanan mencatat 317 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada Sabtu, 24 Oktober 2026, pukul 21.00 WIB. Jumlah tersebut berkurang 1.019 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.336 hotspot.
Penurunan terbesar di antara enam provinsi prioritas terjadi di Kalimantan Tengah, dari 785 menjadi 60 titik. Kalimantan Barat juga turun dari 184 menjadi 55 titik, sedangkan Jambi berkurang dari 46 menjadi sembilan titik.
Kalimantan Selatan tidak mencatat hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi setelah sehari sebelumnya terdeteksi 30 titik. Riau juga tetap nihil dalam pemantauan tersebut.
Baca Juga: Karhutla Kalimantan: Warga Samarinda Tewas, 200 Brimob Dikirim ke Kalteng
Sumatera Selatan Justru Mengalami Kenaikan
Berbeda dengan sejumlah provinsi lainnya, Sumatera Selatan mencatat peningkatan hotspot dari 58 menjadi 102 titik dalam sehari.
Perkembangan ini membuat wilayah tersebut tetap menjadi salah satu prioritas penanganan karhutla. Pemadaman, patroli, dan pendinginan lahan masih diperlukan untuk menangani lokasi yang berpotensi menyimpan api.
Hotspot merupakan indikasi panas yang terdeteksi satelit. Satu titik panas tidak selalu berarti satu kejadian kebakaran, sehingga petugas perlu memastikan kondisi sebenarnya melalui pemeriksaan langsung di lapangan.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa penurunan jumlah hotspot tidak serta-merta menunjukkan seluruh kebakaran sudah padam. Bara api di bawah permukaan lahan, terutama pada kawasan gambut, masih memerlukan pembasahan dan pendinginan.
Pemadaman Darat dan Udara Tetap Berlangsung
Pemerintah menyiagakan 49 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 32 unit digunakan untuk pemadaman melalui udara atau water bombing, sementara 17 unit lainnya mendukung patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Operasi tersebut melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, serta pihak lainnya.
Di Kalimantan Barat, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla di Ketapang pada Jumat (23/10/2026). Kementerian Kehutanan menyiapkan tambahan 104 personel untuk memperkuat operasi di sejumlah lokasi prioritas.
Baca Juga: Prabowo Prioritaskan Pemadaman Karhutla Tanjung Puting, Asap Hambat Helikopter
Penanganan juga berlangsung di Sumatera Selatan. BMKG bersama instansi terkait menjalankan modifikasi cuaca menggunakan es kering atau dry ice dan natrium klorida (NaCl).
Hingga 22 Oktober, sebanyak 18 penerbangan penyemaian telah dilakukan di wilayah tersebut. Operasi menggunakan dry ice ditujukan untuk membantu mengurai lapisan udara yang menahan asap, sedangkan penyemaian NaCl diarahkan pada awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
BMKG menyatakan pelaksanaan operasi di Sumatera Selatan yang semula direncanakan berakhir pada 25 Oktober diperpanjang hingga 5 November 2026.
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran dapat melapor melalui Posko Karhutla di nomor 021-5704618 atau WhatsApp 08131-00-35000.










