BULATANTIMES.COM — Ketika Gunung Anak Krakatau kembali aktif dan menyemburkan abu vulkanik pekan ini, ingatan publik kerap melayang pada peristiwa kelam lebih dari satu abad silam. Tragedi letusan Gunung Krakatau 1883 tercatat sebagai salah satu bencana geologis paling mematikan sekaligus fenomena atmosfer paling ganjil dalam catatan sejarah modern.
Ledakan puncak pada 26–27 Agustus 1883 itu melenyapkan dua pertiga tubuh pulau vulkanik di Selat Sunda. Jutaan ton batu apung dan debu terlontar menembus langit tinggi, memicu gelombang tsunami raksasa hingga setinggi 40 meter yang meratakan ratusan permukiman di pesisir Banten serta Lampung.
Dahsyatnya Letusan Gunung Krakatau 1883 Setara 200 Megaton Bom
Kalkulasi para vulkanolog dunia memperkirakan daya hancur letusan tersebut mencapai 200 megaton TNT. Angka ini setara dengan daya ledak 13.000 kali bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima pada Perang Dunia Kedua.
Dentuman dahsyatnya mengguncang atmosfer Bumi hingga terdengar jelas dari jarak 4.800 kilometer, mencakup Pulau Rodriguez di Samudra Hindia dekat Mauritius hingga daratan Australia barat. Gelombang kejut tekanannya bahkan tercatat mengelilingi bola dunia sampai beberapa putaran sebelum energinya benar-benar padam.
Lebih dari 36.000 jiwa melayang akibat kombinasi hempasan tsunami, hujan batu pijar, dan aliran piroklastik panas yang menerjang lautan.
“Krakatau 1883 bukan sekadar letusan lokal, melainkan peristiwa global yang mengubah pemahaman manusia tentang dinamika atmosfer Bumi,” tulis catatan sejarah geologi Kompas Tren.
Fenomena Sains di Balik Langit Senja dan Penampakan Bulan Biru
Selain menorehkan duka kemanusiaan, letusan purba ini menyuguhkan anomali optik yang membingungkan masyarakat dunia pada zamannya. Selama berbulan-bulan setelah bencana, penduduk di berbagai penjuru bumi menyaksikan pemandangan langit malam yang tak lazim: Bulan purnama bersinar dengan pendar warna biru kehijauan yang mencolok.
Para ilmuwan fisika atmosfer menjelaskan bahwa keajaiban visual tersebut lahir dari miliaran partikel abu vulkanik halus yang membubung hingga ke lapisan stratosfer setinggi 80 kilometer. Butiran aerosol debu vulkanik itu secara kebetulan memiliki ukuran sangat seragam, yakni sekitar satu mikrometer.
Ukuran partikel mikroskopis ini cocok dengan panjang gelombang spektrum cahaya merah. Melalui fenomena hamburan cahaya (Mie scattering), kabut debu menyaring dan menghalangi warna merah, sementara berkas cahaya biru dibiarkan melenggang bebas menuju mata manusia.
Matahari yang terbenam pun sempat memancarkan warna hijau zamrud berkilau sebelum malam menjemput.
“Bulan biru kala itu benar-benar wujud fisik nyata akibat sebaran partikel aerosol di stratosfer, bukan sekadar kiasan kalender,” ulas laporan astronomi National Geographic.
Jejak Sejarah Letusan Gunung Krakatau 1883 yang Mengubah Iklim Dunia
Efek lanjutan dari tabir abu pekat Krakatau ternyata tidak berhenti pada perubahan warna langit. Selubung aerosol belerang yang memayungi atmosfer memantulkan radiasi sinar matahari kembali ke luar angkasa, memicu pendinginan iklim global secara mendadak.
Catatan meteorologi mencatat suhu rata-rata permukaan bumi anjlok hingga 1,2 derajat Celsius selama bertahun-tahun pasca-erupsi. Pola cuaca musiman di benua Amerika dan Eropa menjadi kacau, ditandai musim dingin ekstrem serta penurunan curah hujan yang drastis.
Kini, dari sisa kaldera laut yang luluh lantak tersebut, tumbuh Gunung Anak Krakatau yang terus melepaskan energinya secara berkala. Sejarah panjang ini menjadi pengingat abadi betapa dahsyatnya kekuatan alam yang tersimpan di bawah perairan Nusantara.
Sumber: Kompas Tren, National Geographic Indonesia.










