Bulatan Times – Operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa menghadapi persoalan yang lebih kompleks daripada sekadar menemukan posisi kapal. Kondisi kapal yang terbalik, pergeseran titik bangkai, arus laut, jarak pandang bawah air, serta cuaca membuat tim SAR harus menyesuaikan cara menjangkau area pencarian tanpa mengabaikan keselamatan personel.
Basarnas menyiapkan operasi berlapis dengan menggabungkan pencarian dari permukaan dan udara, kemampuan penyelam khusus, serta teknologi bawah laut. Skenario penanganan kapal juga dipertimbangkan apabila kondisi perairan terus membatasi akses langsung ke bangkai KM Virgo Transport 8.
Strategi tersebut menjadi penting karena penyelaman tidak dapat dipaksakan hanya karena lokasi kapal telah diketahui. Kondisi lingkungan bawah laut dan stabilitas bangkai kapal menentukan apakah personel dapat bekerja dengan aman.
Kapal terbalik dan titiknya sempat bergeser
KM Virgo Transport 8 ditemukan dalam kondisi terbalik. Dalam perkembangan operasi SAR, Basarnas mencatat titik kapal sempat bergeser sekitar 1,6 mil laut ke arah barat mengikuti arus.
Perubahan posisi tersebut menambah tantangan pencarian. Kapal yang berada dalam posisi tengkurap juga membuat akses penyelam ke badan kapal memiliki risiko tersendiri.
Basarnas memperkirakan bangkai kapal berada pada kedalaman sekitar 30 meter. Kedalaman itu secara teknis membuka peluang dilakukannya operasi bawah laut, tetapi kedalaman bukan satu-satunya ukuran keamanan.
Baca Juga: Virgo Transport 8 Ditemukan Terbalik dan Masih Mengapung, 129 Orang Dicari
Gelombang di permukaan, arus bawah laut, jarak pandang, posisi kapal, serta kemungkinan perubahan kondisi di sekitar bangkai harus diperhitungkan sebelum penyelam diterjunkan.
Karena itu, mengetahui koordinat bangkai kapal belum otomatis berarti pencarian dapat segera berpindah sepenuhnya ke bawah air.
Teknologi menjadi alternatif saat penyelam belum bisa masuk
Untuk memperluas pencarian bawah laut, KRI Canopus-936 dikerahkan dengan kemampuan survei hidro-oseanografi.
Kapal TNI AL tersebut membawa perangkat yang dapat membantu membaca kondisi di bawah permukaan, termasuk multibeam echosounder dan remotely operated vehicle atau ROV. Perangkat semacam ini memungkinkan tim memperoleh informasi dari area bawah laut tanpa seluruh pekerjaan bergantung pada penyelaman manusia.
Kemampuan itu menjadi bagian penting dari operasi ketika cuaca belum memberikan kondisi aman bagi penyelam.
Basarnas juga menyiapkan personel dengan kemampuan khusus, termasuk Basarnas Special Group (BSG), Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL, serta unsur penyelam lainnya.
Namun, kesiapan personel tidak berarti penyelaman harus dilakukan dalam segala kondisi. Keputusan turun ke bawah air tetap mengikuti evaluasi keselamatan di lapangan.
Baca Juga: Kronologi Kapal Virgo Transport 8 Hilang Kontak di Laut Jawa
Pencarian tidak berhenti ketika operasi bawah air tertunda
Terhambatnya penyelaman juga tidak berarti operasi SAR berhenti.
Sejak awal pencarian, unsur udara dan laut dikerahkan untuk menyisir area kecelakaan. Pola pencarian kemudian berkembang mengikuti informasi posisi kapal, pergerakan arus, temuan korban, dan kondisi cuaca.
Inilah yang membuat pencarian korban kecelakaan kapal di laut dapat menggunakan beberapa metode secara bersamaan. Kapal SAR dan unsur laut melakukan penyisiran permukaan, pesawat atau helikopter memperluas pengamatan dari udara, sedangkan perangkat khusus diarahkan untuk memeriksa area bawah permukaan.
Pada tahap berikutnya, penyelam dapat digunakan ketika persyaratan keselamatan terpenuhi.
Dengan pendekatan tersebut, cuaca buruk dapat membatasi satu metode pencarian tanpa otomatis menghentikan seluruh operasi.
Penanganan bangkai kapal masuk perhitungan
Posisi KM Virgo Transport 8 juga membuka kemungkinan skenario lain apabila akses ke bagian kapal sulit dilakukan.
Basarnas mempertimbangkan penanganan lanjutan terhadap bangkai kapal, termasuk kemungkinan melibatkan kemampuan salvage apabila diperlukan. Salah satu opsi yang dibahas adalah membawa kapal menuju area yang lebih dangkal agar penanganan dapat dilakukan dengan risiko yang lebih terkendali.
Namun, langkah terhadap bangkai kapal bergantung pada hasil penilaian teknis. TNI AL juga memberikan pertimbangan mengenai kondisi kapal apabila telah berada stabil di dasar laut.
Artinya, menggeser, menarik, atau menangani bangkai kapal bukan tindakan otomatis. Setiap pilihan harus mempertimbangkan posisi kapal, kondisi dasar laut, arus, keselamatan personel, serta kebutuhan operasi pencarian.
Manifest Kemenhub mencatat 243 orang
KM Virgo Transport 8 berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sebelum mengalami kecelakaan di perairan Laut Jawa pada Minggu, 13 September 2026.
Kementerian Perhubungan mencatat kapal bertolak dari Surabaya pada 12 September 2026 pukul 06.52. Berdasarkan data manifest yang disampaikan Kemenhub, terdapat 243 orang di kapal.
Data korban kemudian berkembang seiring operasi pencarian. Pada hari kedua, pemerintah mencatat 108 orang telah ditemukan selamat. Basarnas juga melaporkan enam korban meninggal dunia dan 129 orang masih dalam pencarian pada fase tersebut.
Angka dalam operasi SAR dapat berubah setelah proses pencarian, evakuasi, dan verifikasi identitas berlangsung. Karena itu, data tersebut merupakan catatan pada tahap operasi, bukan jumlah akhir yang dapat dianggap tetap selama pencarian masih berjalan.
Sementara operasi SAR berfokus pada pencarian dan evakuasi, penyebab kecelakaan KM Virgo Transport 8 belum semestinya disimpulkan dari kondisi cuaca yang ditemui tim pencari.
Kementerian Perhubungan menyatakan investigasi penyebab kecelakaan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Dengan demikian, cuaca yang menghambat penyelaman dan operasi SAR harus dibedakan dari kesimpulan mengenai penyebab kapal mengalami kecelakaan.
Pemisahan tersebut penting karena operasi penyelamatan dan investigasi kecelakaan mempunyai tujuan berbeda: tim SAR berupaya menemukan serta mengevakuasi korban, sedangkan penentuan penyebab membutuhkan proses investigasi tersendiri.











