Bulatan Times – Operasi pencarian rombongan peliput erupsi Gunung Anak Krakatau membuahkan titik terang pada hari ketiga. Tim penyelamat gabungan menemukan sebuah rompi pelampung yang mengapung di perairan Selat Sunda.
Temuan barang ini memberi petunjuk baru mengenai arah hanyutnya kapal motor cepat para korban. Petugas terus memfokuskan penyisiran di sekitar lokasi penemuan guna mencari keberadaan delapan orang yang hilang.
Temuan Life Jacket dan Barang Diduga Milik Rombongan Kapal
Armada patroli TNI Angkatan Laut mengamankan satu unit pelampung di perairan sekitar kawasan Anyer. Rompi pelampung berwarna oranye tersebut tampak terombang-ambing di tengah sapuan ombak laut lepas.
Selain rompi pelampung, petugas juga mendapati sebuah tabung dan wadah botol putih terapung. Barang-barang temuan tersebut kuat dugaan merupakan perlengkapan keselamatan milik kapal cepat rombongan wartawan.
Petugas langsung membawa seluruh benda ke posko darurat guna proses identifikasi silang pihak keluarga. Penemuan serpihan ini semakin mempertegas dugaan bahwa perahu motor sempat mengalami insiden di laut.
“Tim SAR gabungan menemukan pelampung keselamatan dan sejumlah benda yang mengapung di perairan Anyer,” tulis laporan resmi Kompas Regional.
Ratusan Nelayan Pulau Sebesi dan Kapal Perang TNI AL Sisir Laut
Upaya pencarian delapan korban kini melibatkan kekuatan armada gabungan dalam skala jauh lebih besar. Solidaritas masyarakat pesisir mengalir deras membantu proses penyisiran di jalur perairan rawan.
Sebanyak 130 nelayan lokal dari Pulau Sebesi ikut mengerahkan perahu motor menyisir laut. Para pelaut tradisional tersebut sangat memahami karakteristik arus bawah dan pola pusaran air setempat.
Presiden Prabowo Subianto secara khusus memerintahkan TNI Angkatan Laut menerjunkan tiga kapal perang KRI. Basarnas turut mengoperasikan kapal penyelamat berteknologi canggih KN SAR Basudewa membelah ombak Selat Sunda.
“Pencarian terus berjalan maksimal dengan memperluas sektor penyisiran ke arah perairan Lampung,” tutur petugas SAR Banten, dilansir Antara News.
Kesaksian Nelayan dan Tantangan Cuaca Buruk di Sekitar Krakatau
Sejumlah nelayan pesisir mengaku sempat berpapasan dengan perahu motor jurnalis sebelum hilang kontak. Pertemuan di tengah laut itu terjadi beberapa jam sebelum perahu cepat kehilangan komunikasi.
Para nelayan sempat mengingatkan nakhoda kapal mengenai potensi cuaca buruk dan gelombang laut tinggi. Angin kencang dan arus deras kawasan pulau gunung kerap membahayakan perahu berukuran sedang.
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang masih berstatus Siaga mempersulit proses pencarian di lapangan. Kabut debu tebal membatasi jarak pandang regu penyelamat saat memacu perahu karet cepat.
Keluarga kelima pewarta berita dan tiga awak kapal terus memanjatkan doa menanti mukjizat. Seluruh tim pencari berpacu dengan waktu menyelamatkan para korban dari ganasnya ombak samudera.











