Bulatan Times – Tekanan kenaikan harga komponen memori mulai membayangi pemilik maupun calon pembeli ponsel premium. Samsung dilaporkan tengah meninjau kembali harga jajaran Galaxy S26 setelah biaya memori smartphone meningkat tajam sepanjang 2026.
Penyesuaian yang sedang dipertimbangkan dapat menyentuh Galaxy S26, Galaxy S26+, hingga Galaxy S26 Ultra. Untuk pasar Korea Selatan, kenaikannya dilaporkan berpotensi mencapai sekitar 149.600 won per perangkat atau sekitar Rp1,9 juta.
Namun, angka tersebut belum menjadi keputusan harga final Samsung. Perusahaan masih menimbang pilihan antara menyerap sebagian kenaikan biaya produksi atau meneruskannya kepada konsumen.
Baca Juga: Harga HP Samsung September 2026, Galaxy Z Fold8 Tembus Rp 40 Jutaan
Harga memori melonjak tajam
Persoalan yang dihadapi Samsung tidak berdiri sendiri. Industri smartphone secara global sedang menghadapi kenaikan biaya DRAM dan NAND yang mengubah struktur ongkos produksi perangkat.
Counterpoint Research mencatat harga memori untuk smartphone naik lebih dari 80 persen secara kuartalan pada kuartal II 2026. Pada ponsel premium, DRAM bahkan telah menggeser system-on-chip atau SoC sebagai komponen tunggal dengan biaya terbesar.
Dampaknya cukup besar. Biaya komponen atau bill of materials ponsel premium pada periode tersebut meningkat hampir 50 persen dibandingkan perangkat sekelas pada tahun sebelumnya. Kondisi ini membuat produsen semakin sulit mempertahankan margin tanpa melakukan penyesuaian harga.
Tekanan tersebut bukan hanya terjadi pada perangkat kelas atas. Counterpoint sebelumnya telah melihat kenaikan harga pada berbagai merek Android, termasuk Samsung, Xiaomi, OPPO, vivo, realme, dan Transsion sepanjang 2026.
Galaxy S26 ikut terdampak
Galaxy S26 menjadi salah satu contoh bagaimana kenaikan biaya komponen dapat memengaruhi harga smartphone premium.
Referensi MerahPutih menyebut Samsung mempertimbangkan tambahan harga sekitar 149.600 won untuk jajaran Galaxy S26 di Korea Selatan. Jika diberlakukan, perubahan tersebut direncanakan mulai 1 Oktober 2026.
Samsung sebelumnya memang telah mengubah strategi harga pada generasi Galaxy S26. Analisis Counterpoint menunjukkan harga peluncuran seri Galaxy S26 mengalami kenaikan pada seluruh model, sejalan dengan tren yang juga terjadi pada sejumlah produsen Android akibat tekanan biaya memori.
Strategi Samsung pada lini premium juga berubah. Perusahaan menghilangkan sejumlah pilihan penyimpanan berkapasitas rendah sehingga harga masuk produknya menjadi lebih tinggi, sekaligus mempertahankan konfigurasi yang lebih premium.
Baca Juga: Di Balik iPhone Lipat Apple, Teknologi Samsung Ikut Berperan
Galaxy S26 Ultra berpotensi ikut naik
Apabila penyesuaian terbaru benar-benar diterapkan, Galaxy S26 Ultra sebagai model tertinggi dalam keluarga S26 juga akan terkena dampaknya.
Model Ultra memiliki posisi penting bagi bisnis premium Samsung. Counterpoint mencatat Galaxy S26 Ultra memperoleh pemesanan awal yang lebih tinggi dibandingkan pendahulunya dan menjadi salah satu pendorong performa lini flagship Samsung pada kuartal I 2026.
Kenaikan biaya memori menjadi tantangan tersendiri bagi perangkat seperti S26 Ultra karena smartphone premium mengandalkan konfigurasi RAM dan penyimpanan berkapasitas besar.
Counterpoint memperkirakan biaya komponen perangkat premium pada Q2 2026 naik hampir 50 persen secara tahunan. Pada segmen ini, kenaikan harga jual mulai menjadi salah satu cara produsen meneruskan sebagian tekanan biaya kepada konsumen.
Krisis memori belum cepat berakhir
Persoalan tersebut berpotensi berlangsung lebih lama daripada satu siklus peluncuran smartphone.
Reuters melaporkan produsen ponsel dan laptop mulai mempersiapkan diri menghadapi kelangkaan memori yang dapat berlangsung setidaknya sampai 2027. Sejumlah proyeksi bahkan melihat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan bisa berlangsung lebih lama.
Tekanan tidak hanya berasal dari harga. Ketersediaan komponen juga menjadi persoalan karena permintaan memori dari industri kecerdasan buatan dan pusat data tetap tinggi.
Counterpoint memperkirakan mobile DRAM masih mengalami kenaikan harga pada kuartal III 2026. Pada saat bersamaan, investasi pusat data oleh perusahaan teknologi besar terus menopang permintaan memori untuk kebutuhan AI.
Dampaknya telah terlihat pada pasar smartphone global. Pengiriman smartphone pada kuartal II 2026 turun 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mencapai level kuartal kedua terendah sejak 2013 menurut estimasi Counterpoint. Krisis memori disebut menjadi salah satu tekanan utama bagi industri.
Bagi konsumen, kondisi tersebut berarti harga ponsel baru berpotensi tetap tinggi selama tekanan pasokan belum mereda. Untuk Galaxy S26, pertanyaan terdekatnya kini bukan lagi apakah biaya produksinya meningkat, melainkan seberapa besar Samsung akan meneruskan kenaikan tersebut ke harga yang dibayar konsumen.











