Bulatan Times – Kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan akan langsung mengurangi jumlah pekerja ternyata belum sepenuhnya terlihat dalam data terbaru. Perusahaan yang mulai menggunakan AI justru cenderung menambah jumlah karyawan, tetapi pertumbuhannya lebih banyak terjadi pada posisi senior.
Penelitian yang mencakup 41 negara menemukan jumlah pekerja pada level senior di perusahaan pengadopsi AI naik sekitar 6,7 persen. Pada saat yang sama, porsi pekerja junior dalam perusahaan tersebut mengecil.
Yang dimaksud pekerja senior dalam penelitian ini adalah tingkat senioritas pekerjaan, bukan usia. Jadi, temuan tersebut tidak menunjukkan bahwa pekerja berusia lebih tua otomatis lebih diuntungkan oleh AI.
Peneliti menggunakan lebih dari 1,25 miliar data lowongan pekerjaan dan 154 juta catatan pekerjaan untuk melihat perubahan tenaga kerja sebelum dan setelah perusahaan mulai mengadopsi AI generatif.
Perusahaan dianggap mulai mengadopsi AI ketika lowongan mereka menunjukkan penggunaan teknologi seperti ChatGPT, Claude, Gemini, large language model, prompt engineering, copilot, atau teknologi generatif lainnya.
Baca Juga: Tren AI 2026: Agen AI dan Dampaknya bagi Bisnis Indonesia
Posisi junior tidak langsung hilang
Perubahan paling terlihat bukan berupa gelombang pengurangan pekerja junior, melainkan semakin besarnya jumlah pekerja senior.
Jumlah pekerja junior diperkirakan turun sekitar 2,5 persen. Namun, hasil tersebut belum cukup kuat secara statistik untuk menyimpulkan bahwa AI secara langsung menyebabkan penurunan tenaga kerja junior.
Sebaliknya, pertumbuhan pekerja senior sebesar 6,7 persen lebih jelas terlihat dalam data. Kondisi ini ikut menurunkan porsi pekerja junior dalam keseluruhan tenaga kerja sekitar 1,9 poin persentase.
Secara keseluruhan, perusahaan yang mengadopsi AI memiliki sekitar 3,3 persen lebih banyak pekerja dibandingkan perusahaan pembanding. Angka tersebut menunjukkan kemungkinan adanya pertumbuhan setelah penggunaan AI, meski hasilnya masih perlu dibaca dengan hati-hati.
Penelitian ini juga tidak dapat diartikan bahwa setiap perusahaan yang memasang teknologi AI pasti akan menambah karyawan senior atau mengurangi pekerja junior. Pola yang ditemukan merupakan hasil gabungan dari perusahaan dan negara yang masuk dalam data penelitian.
Bidang komputer tetap tumbuh, tetapi lebih banyak di level senior
Pola yang cukup menarik terlihat pada pekerjaan komputer dan matematika. Bidang tersebut termasuk kelompok pekerjaan yang paling banyak bersinggungan dengan AI.
Alih-alih menyusut, proporsi tenaga kerja di bidang komputer dan matematika justru meningkat sekitar 0,8 poin persentase di perusahaan yang mengadopsi AI.
Namun, komposisi pekerjanya berubah. Porsi posisi junior di kelompok pekerjaan tersebut turun, sementara pertumbuhan lebih banyak terjadi pada pekerja dengan tingkat pengalaman yang lebih tinggi.
Temuan ini menunjukkan bahwa munculnya AI tidak selalu berarti suatu bidang pekerjaan menghilang. Sebuah bidang masih dapat tumbuh, tetapi jalan masuk bagi pekerja yang baru memulai karier bisa menjadi lebih sempit.
Dari 31 negara yang memiliki estimasi cukup presisi untuk dibandingkan satu per satu, 23 negara menunjukkan penurunan porsi pekerja junior. Penurunan yang secara statistik lebih jelas ditemukan di tujuh negara, termasuk Amerika Serikat, Brasil, dan Arab Saudi.
Baca Juga: Apa Itu AI Agent? Cara Kerja, Contoh, dan Bedanya dengan Chatbot Biasa
Dampak AI pada pekerja baru masih menjadi perhatian
Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan lain mengenai pekerja yang baru memasuki dunia kerja.
Dalam penelitian terpisah terhadap pasar tenaga kerja Amerika Serikat, pekerjaan kelompok usia 22–25 tahun pada profesi yang sangat terpapar AI berada sekitar 19 persen di bawah tingkat yang diperkirakan jika pertumbuhannya mengikuti pekerjaan yang lebih sedikit terpapar AI.
Pekerja yang lebih berpengalaman tidak menunjukkan kesenjangan serupa dalam penelitian tersebut.
Kedua penelitian menggunakan pendekatan dan kelompok data yang berbeda, sehingga angkanya tidak dapat dibandingkan secara langsung. Namun, keduanya memperlihatkan pola yang sama: perubahan pasar kerja akibat AI sejauh ini lebih terasa pada orang yang berada di tahap awal karier dibandingkan pekerja yang sudah memiliki pengalaman.











