Bulatan Times – Windows masih menjadi sistem operasi utama untuk bermain game di PC. Dukungan game yang luas, driver yang matang, DirectX, hingga kompatibilitas dengan berbagai launcher membuat posisinya belum mudah digantikan.
Namun, Linux kini bukan lagi pilihan yang hanya menarik bagi pengguna teknis. Perkembangan Proton, SteamOS, dan perangkat seperti Steam Deck membuat semakin banyak game Windows bisa dimainkan tanpa memasang Windows secara langsung.
Kondisi tersebut membuat pilihan sistem operasi untuk gaming menjadi lebih menarik. Sebagian pengguna mulai mempertimbangkan Linux karena ingin kontrol yang lebih besar terhadap sistem, sementara Windows sendiri terus berkembang dengan pembaruan, layanan terhubung, dan fitur berbasis AI.
Meski demikian, berpindah sistem operasi belum tentu menjadi keputusan yang tepat untuk semua gamer.
Windows Masih Mendominasi PC Gaming
Data Steam Hardware & Software Survey Agustus 2026 menunjukkan Windows digunakan oleh 93,95 persen peserta survei Steam.
Linux berada di angka 3,90 persen, sedangkan macOS sekitar 2,14 persen. Di dalam kelompok pengguna Windows, Windows 11 menjadi versi yang paling banyak digunakan.
Angka tersebut menunjukkan satu hal penting: pembicaraan mengenai Linux sebagai alternatif gaming belum berarti Windows kehilangan posisi dominannya.
Mayoritas developer juga masih menjadikan Windows sebagai target utama untuk game PC. Hal ini membuat pengalaman instalasi, driver, launcher, mod, dan perangkat tambahan umumnya lebih sederhana di Windows.
Linux justru menarik karena jarak kompatibilitasnya dengan Windows mulai mengecil.
Baca Juga: Build Chou 2026 Mobile Legends, Item, Emblem dan Combo untuk EXP Lane
Proton Membuat Linux Lebih Ramah untuk Game Windows
Salah satu perubahan terbesar datang dari Proton.
Proton merupakan compatibility tool yang dikembangkan Valve agar game yang dibuat untuk Windows dapat berjalan di Linux melalui Steam. Teknologi ini menggunakan Wine bersama sejumlah komponen tambahan untuk menangani kebutuhan game Windows.
Artinya, developer tidak selalu harus menyediakan versi Linux khusus agar sebuah game bisa dimainkan.
Valve juga terus memperbarui Proton. Catatan pengembangannya menunjukkan perbaikan kompatibilitas masih rutin dilakukan, termasuk untuk game yang bermasalah setelah mendapat update.
Bagi pemain yang koleksi gamenya sebagian besar berada di Steam, perkembangan ini mengurangi salah satu hambatan terbesar ketika mempertimbangkan Linux.
Namun, “bisa dijalankan” tetap tidak selalu berarti pengalaman setiap game identik dengan Windows.
Anti-Cheat Masih Menjadi Masalah
Game kompetitif menjadi bagian yang lebih rumit.
Valve menyatakan Proton mendukung middleware anti-cheat seperti Easy Anti-Cheat dan BattlEye, tetapi developer game tetap perlu mengaktifkan dukungan yang diperlukan untuk build mereka.
Karena itu, dua game yang menggunakan teknologi anti-cheat serupa belum tentu mempunyai hasil kompatibilitas yang sama.
Data kompatibilitas yang dihimpun GamingOnLinux masih menunjukkan sejumlah game dengan anti-cheat yang tidak dapat dimainkan melalui Linux atau SteamOS. Di sisi lain, ada pula game multiplayer yang sudah berjalan melalui Proton.
Game berbasis Riot Vanguard seperti VALORANT dan League of Legends, misalnya, masih tercatat tidak kompatibel dengan Linux dalam basis data tersebut.
Bagi pemain yang menghabiskan sebagian besar waktunya pada game kompetitif tertentu, satu game yang tidak kompatibel saja bisa menjadi alasan untuk tetap menggunakan Windows.
Kontrol Sistem Menjadi Daya Tarik Linux
Linux menawarkan pendekatan yang berbeda terhadap sistem operasi.
Pengguna dapat memilih distribusi, desktop environment, layanan yang dijalankan, hingga banyak bagian antarmuka sesuai kebutuhan. Fleksibilitas tersebut menarik bagi gamer yang senang mengatur sendiri PC mereka.
Windows mengambil pendekatan yang lebih terintegrasi. Banyak layanan disediakan langsung oleh Microsoft dan sebagian terhubung dengan layanan online.
Microsoft sendiri menjelaskan bahwa Windows 11 mengumpulkan required diagnostic data untuk kebutuhan keamanan, pembaruan, pemecahan masalah, dan pengoperasian sistem. Pengguna juga dapat memilih mengirim optional diagnostic data yang lebih luas.
Bagi sebagian pengguna, model ini tidak menjadi masalah. Bagi pengguna yang menginginkan kontrol lebih rinci terhadap sistem dan data yang berjalan di dalamnya, Linux menawarkan pendekatan yang berbeda.
Windows Update Kadang Dianggap Mengganggu
Windows Update dirancang untuk mengunduh dan memasang pembaruan secara otomatis ketika tersedia.
Beberapa pembaruan membutuhkan restart. Microsoft menyediakan pengaturan Active Hours agar Windows dapat menghindari restart pada jam ketika PC biasanya digunakan.
Artinya, anggapan bahwa Windows selalu tiba-tiba melakukan restart ketika seseorang bermain game terlalu luas jika dijadikan fakta umum.
Namun sistem pembaruan otomatis tetap menjadi perbedaan penting dibanding sejumlah distribusi Linux, tempat pengguna bisa mempunyai kontrol lebih besar terhadap waktu pemasangan update.
Untuk PC yang juga digunakan bekerja, streaming, atau bermain kompetitif dalam sesi panjang, kendali terhadap waktu pembaruan bisa menjadi pertimbangan tersendiri.
Baca Juga: Hero Meta Mobile Legends Season 42 untuk Push Rank, Khufra hingga Masha Menonjol
Bagaimana dengan AI di Windows 11?
Integrasi AI juga menjadi salah satu perubahan besar dalam arah pengembangan Windows.
Microsoft telah membawa Copilot serta fitur lain berbasis AI ke ekosistem Windows. Salah satu fitur yang sempat memicu perhatian adalah Recall pada Copilot+ PC, yang dapat menyimpan snapshot aktivitas agar pengguna bisa mencari kembali sesuatu yang pernah dilihat.
Namun ada detail penting yang sering terlewat.
Recall hanya tersedia pada perangkat Copilot+ PC yang memenuhi persyaratan dan penyimpanan snapshot bersifat opt-in. Jika pengguna tidak mengaktifkannya, snapshot tidak disimpan. Microsoft juga menyediakan opsi untuk menjeda, memfilter aplikasi dan situs, menghapus snapshot, atau menonaktifkan fitur tersebut.
Karena itu, keberadaan AI di Windows bisa menjadi alasan preferensi pribadi, tetapi tidak tepat menyimpulkan bahwa setiap PC Windows otomatis menjalankan seluruh fitur AI tersebut dengan cara yang sama.
Linux Juga Belum Bebas Masalah
Berpindah dari Windows tidak otomatis membuat pengalaman gaming menjadi lebih sederhana.
Selain anti-cheat, pengguna Linux masih dapat menemui game yang membutuhkan versi Proton tertentu, masalah setelah update game, launcher pihak ketiga, atau kebutuhan driver tertentu.
Valve sendiri mencatat bahwa beberapa game membutuhkan perbaikan Proton setelah pembaruan dari developer mengubah kompatibilitas sebelumnya.
Daftar anti-cheat pada GamingOnLinux juga menunjukkan situasi kompatibilitas dapat berubah. Sebuah game bisa bekerja, membutuhkan Proton tertentu, hanya bekerja pada mode tertentu, atau tidak dapat dimainkan sama sekali.
Karena itu, mengecek beberapa game utama yang benar-benar dimainkan lebih berguna daripada menentukan sistem operasi hanya berdasarkan perbandingan fitur.
Windows atau Linux untuk Gaming?
Untuk gamer yang ingin memasang game tanpa banyak mengurus kompatibilitas, memainkan banyak judul kompetitif, atau membutuhkan software yang hanya tersedia di Windows, Windows masih menjadi pilihan yang paling mudah.
Linux mulai masuk akal bagi pemain yang mayoritas bermain melalui Steam, koleksi gamenya sudah kompatibel dengan Proton, dan menginginkan kontrol lebih besar terhadap sistem.
Steam Hardware Survey juga memperlihatkan realitas saat ini: Linux sudah memiliki basis pengguna gaming yang nyata, tetapi masih jauh di bawah Windows. Pada Agustus 2026, pangsa Linux di survei Steam berada di 3,90 persen dibanding Windows 93,95 persen.
Pilihan akhirnya lebih bergantung pada game yang dimainkan. Gamer yang tertarik mencoba Linux dapat memeriksa kompatibilitas koleksi game terlebih dahulu tanpa harus langsung menghapus instalasi Windows dari PC.











