Bulatan Times – Tidur larut sesekali tidak serta-merta membuat seseorang sakit. Masalah biasanya muncul ketika kebiasaan tersebut membuat waktu tidur berkurang, jadwal tidur berubah-ubah, atau tubuh harus beraktivitas pada jam yang tidak selaras dengan ritme biologisnya.
Bagi orang dewasa, kebutuhan tidur tidak sama persis pada setiap orang. Namun, American Academy of Sleep Medicine merekomendasikan orang dewasa tidur setidaknya sekitar tujuh jam per malam secara teratur untuk membantu menjaga kesehatan dan fungsi tubuh.
Jika tidur larut membuat durasi tidur terus berkurang, efeknya tidak hanya berupa rasa kantuk pada pagi hari. Kurang tidur yang berlangsung berulang dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, metabolisme, hingga kesehatan jantung.
Baca Juga: Tidur Pakai Bantal atau Tanpa Bantal, Mana yang Lebih Baik untuk Leher?
Konsentrasi dan Reaksi Bisa Menurun
Salah satu efek yang paling cepat terasa adalah menurunnya kemampuan untuk fokus.
Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih lambat bereaksi, lebih sulit mengambil keputusan, dan lebih mudah melakukan kesalahan. Kekurangan tidur juga dapat mengganggu kemampuan belajar, mengingat informasi, memecahkan masalah, dan mengendalikan emosi.
Dampak ini penting diperhatikan pada orang yang harus mengemudi, mengoperasikan alat, atau bekerja dengan tingkat konsentrasi tinggi.
Bahkan kehilangan sekitar satu sampai dua jam tidur selama beberapa malam berturut-turut dapat membuat fungsi harian menurun secara nyata.
Mood Lebih Mudah Terganggu
Tidur juga berperan dalam pengaturan emosi.
Kurang tidur yang berlangsung berulang dikaitkan dengan meningkatnya stres, sulit mengendalikan emosi, serta gejala kecemasan dan depresi. Tinjauan ilmiah terbaru juga menemukan hubungan konsisten antara kurang tidur dengan kecemasan, gangguan regulasi emosi, dan gejala depresi.
Waktu tidur yang terlalu larut juga mendapat perhatian tersendiri. Studi terhadap lebih dari 73 ribu orang dewasa menemukan pola tidur larut berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih buruk, terlepas dari kecenderungan seseorang sebagai tipe pagi atau malam. Temuan ini menunjukkan bahwa waktu tidur itu sendiri dapat ikut berpengaruh, bukan hanya total jam tidur.
Risiko Metabolik Bisa Meningkat
Kurang tidur memengaruhi cara tubuh mengatur energi.
Kekurangan tidur dapat mengubah hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Kurang tidur juga dapat memengaruhi respons tubuh terhadap insulin sehingga kadar gula darah lebih mudah meningkat.
Dalam jangka panjang, bukti dari berbagai systematic review dan meta-analisis menunjukkan kurang tidur berkaitan dengan risiko lebih tinggi terhadap obesitas, diabetes tipe 2, dan gangguan metabolik lainnya.
Hubungan tersebut bukan berarti tidur larut otomatis menyebabkan diabetes atau obesitas. Berat badan, pola makan, aktivitas fisik, genetik, dan kondisi kesehatan lain tetap memiliki peran besar.
Baca Juga: 3 Kebiasaan Sehari-hari yang Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
Jantung dan Tekanan Darah Ikut Terpengaruh
Tidur membantu tubuh menjalankan proses pemulihan yang penting bagi jantung dan pembuluh darah.
Kurang tidur kronis dikaitkan dengan peningkatan risiko tekanan darah tinggi, penyakit jantung koroner, dan stroke. Review terbaru mengenai kurang tidur juga menemukan hubungan yang konsisten dengan berbagai gangguan kardiometabolik.
Waktu mulai tidur juga mungkin berperan. Sebuah studi UK Biobank terhadap lebih dari 100 ribu peserta menemukan waktu mulai tidur yang sangat larut dikaitkan dengan insiden penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang mulai tidur pada kisaran pukul 22.00–22.59. Namun, studi tersebut bersifat observasional sehingga tidak membuktikan bahwa jam tidur tertentu secara langsung menyebabkan penyakit jantung.
Jadwal Tidur yang Berantakan Juga Bermasalah
Masalah tidur bukan hanya soal jumlah jam.
Jadwal tidur yang terus berubah dari hari ke hari dapat mengganggu ritme sirkadian, yaitu sistem biologis yang membantu mengatur kapan tubuh merasa mengantuk, terjaga, lapar, dan menjalankan berbagai fungsi hormonal.
Systematic review pada 2025 menemukan bahwa jadwal tidur yang lebih tidak teratur secara konsisten berkaitan dengan gejala depresi dan kecemasan yang lebih tinggi, indeks massa tubuh lebih tinggi, resistensi insulin, hipertensi, dan kejadian kardiovaskular.
Karena itu, tidur cukup tetapi selalu berpindah-pindah jam setiap malam belum tentu memberikan manfaat yang sama dengan tidur cukup pada jadwal yang relatif konsisten.
Daya Tahan Tubuh Bisa Menurun
Tidur juga berperan dalam respons imun.
Kekurangan tidur berkepanjangan dapat mengubah kemampuan sistem pertahanan tubuh dalam melawan kuman dan penyakit. Orang yang kurang tidur juga dapat lebih sulit mempertahankan respons tubuh yang optimal terhadap infeksi.
Efek ini merupakan salah satu alasan mengapa pemulihan dan tidur yang cukup penting ketika tubuh sedang sakit.
Tidak Ada Jam Tidur yang Sama untuk Semua Orang
Tidak ada satu jam tidur yang pasti ideal untuk setiap orang.
Kebutuhan tidur dipengaruhi usia, aktivitas, kondisi kesehatan, pekerjaan, serta ritme tubuh masing-masing. Yang lebih penting adalah mendapatkan durasi tidur yang cukup, menjaga jadwal yang relatif konsisten, dan memastikan tidur terasa memulihkan.
Jika seseorang harus tidur lebih larut karena pekerjaan, risiko dapat dikurangi dengan menjaga total durasi tidur, menghindari perubahan jadwal ekstrem, dan mempertahankan waktu bangun yang sebisa mungkin konsisten.
Keluhan seperti sulit tidur selama berbulan-bulan, kantuk berat pada siang hari, mendengkur keras disertai henti napas, atau sering tertidur saat mengemudi perlu diperiksa lebih lanjut karena dapat mengarah pada gangguan tidur yang membutuhkan penanganan.











