Bandung, Bulatan Times – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memperingatkan soal ancaman kiamat ekologis dan bencana tanah longsor masif di kawasan Bandung Selatan.
Alih fungsi lahan perkebunan teh menjadi tanaman sayuran komersial memicu peringatan tersebut.
Dedi Mulyadi melontarkan peringatan tersebut di Bandung, Kamis. Hal itu menyikapi aksi perusakan sedikitnya 5.000 pohon teh di sekitar 0,4 hektare lahan milik PTPN I Regional 2 Kertamanah, Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Oknum tak bertanggung jawab menggergaji pohon-pohon tersebut sehingga memicu kemarahan Aliansi Petani Pangalengan (APP).
Menjaga Lingkungan dari Ancaman Bencana
Dedi menegaskan bahwa fokus utamanya bukan konflik agraria, melainkan hilangnya tanaman teh yang berakar kuat dan berperan penting dalam menjaga kestabilan tanah serta mencegah longsor di lereng pegunungan.
“Saya tidak ada urusan dengan konflik agrarianya, tapi yang saya tekankan adalah jangan menebang tanaman yang memiliki fungsi konservasi, menjaga lingkungan dari ancaman bencana.
“Kalau masyarakat terus menebang pohon teh dan menggantinya dengan tanaman sayuran, nanti bisa terjadi longsor.” Bandung itu lereng gunung. Kalau kemudian semuanya berubah jadi kebun sayur, sudah, tunggu kehancurannya,” ujar Dedi melalui pernyataan resminya.
Jangan korbankan keselamatan jiwa masyarakat lokal
Dedi mengungkapkan bahwa kelompok berkepentingan sering kali memanfaatkan alih fungsi lahan yang terjadi berulang kali, termasuk di kawasan hutan yang pernah mengalami kebakaran. Kelompok tersebut berorientasi pada pundi-pundi kekayaan pribadi dengan mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat lokal.
Baca Juga: 254 Lokasi Layanan Imigrasi Kini Bernama Beranda Imigrasi, Begini Cara Mencarinya
Dedi menegaskan pihaknya meminta warga perdesaan dan para petani tidak tergiur menjadi instrumen segelintir pihak. Kelompok tersebut bersembunyi di balik bisnis tanaman sayur tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan perkebunan lereng terjal.
“Jangan menjadi alat bagi orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kekayaannya saja, tidak memperhatikan keselamatan lingkungan. Kalau sudah jadi bencana nanti yang repot kita semua. Untuk itu semoga ini menjadi kesadaran, tidak melakukan tindakan berulang,” ucap Dedi.
Dedi mengatakan Pemprov Jabar menegaskan bahwa perlindungan vegetasi kebun teh di Pangalengan dan Ciwidey bersifat absolut. Hal itu sangat penting mengingat dampaknya tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi berpotensi memicu bencana ekologis fatal di masa depan.
Dia menambahkan upaya mempertahankan tutupan lahan dan fungsi konservasi alam di kawasan perbukitan Bandung Selatan menjadi kunci utama pemerintah daerah. Upaya ini dilakukan untuk menekan risiko bahaya tanah longsor serta menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.





