Bantul, Bulatan Times – Perajin topeng tradisional Sanggar Warnowaskito di Desa Diro, Pendowoharjo, Kabupaten Bantul, Ki Supono, membekali diri dengan kemampuan seni tari, tembang Jawa, dan pedalangan.
Ia menghidupkan setiap karakter topeng klasik dengan memanfaatkan berbagai kemampuan seni yang ia kuasai. Kemampuan tersebut membuat masyarakat luas mengenal perajin seperti Supono di dunia seni.
“Bukannya untuk terus menjadi penari atau dalang profesional, keterampilan saya tetap pembuat topeng.
“Namun, saya harus menguasai kemampuan tersebut agar menghasilkan karya yang unik,” ujar Supono di sanggarnya, Bantul, Kamis (29/10). Sebagai Perajin, kemampuan tersebut menjadi nilai tambah tersendiri baginya.
Memproduksi Beragam Karya Perlengkapan Seni
Di sanggar warisan keluarganya tersebut, Supono memproduksi beragam karya perlengkapan seni pertunjukan. Produk utamanya mencakup topeng kayu tradisi lakon cerita Panji gaya Yogyakarta, topeng pertunjukan kontemporer, hingga topeng alternatif berbahan daur ulang kertas sak semen.
Selain topeng, dia juga memproduksi mahkota penari atau irah-irahan. Selain itu ia membuat set lengkap busana tari tradisi beserta keris dan kain batik, wayang golek pesanan, hingga instrumen keprak jinjing berbahan kayu nangka untuk penari teater.
Memahami Gerak dan Karakter Tokoh
Supono menilai setiap perajin topeng wajib memahami gerak dan karakter tokoh secara mendalam karena ia membuat karya untuk kebutuhan pertunjukan panggung. Perajin harus mengenali berbagai karakter, mulai dari kesatria halus, tokoh jenaka, raja, hingga raksasa. Perajin sejati harus mengenal seluruh proses ini.
“Harus tahu karakternya seperti apa. Kalau tahu gerakannya, otomatis nanti kalau memproses akan tersalur ke dalam karya. Kalau (pengrajin) tidak bisa joget, ya cuma sekadar halus, tapi, karakternya kurang,” ujar Supono.
Baca Juga: Prabowo Bahas UU Satu Data Indonesia, Tekankan Keamanan dan Layanan Publik
Selain gerak tari, Supono juga membiasakan diri memahat kayu sambil melantunkan tembang macapat Jawa seperti Dhandhanggula, Pocung, dan Mijil. Tujuannya untuk melatih kepekaan rasa dan kesabaran saat membentuk detail mimik muka topeng. Dengan demikian, Perajin juga turut melestarikan budaya.
“Nembang itu sangat lembut, artinya di dalam proses membuat topeng itu perlu kesabaran. Makanya saya kalau berkarya ya sambil nembang,” tutur dia.
Membangun Ikatan Emosional
Supono meyakini perpaduan seni tari dan tembang mampu membangun ikatan emosional tersendiri ketika para penari mengenakan topeng di panggung pertunjukan.
“Setiap topeng punya ikatan batin karena lahir dari proses emosional. Tulang dan dagingnya adalah kayu, sedangkan karakternya adalah rohnya,” kata Supono.
Karakter kuat pada setiap karyanya menarik minat penikmat seni dari berbagai benua. Supono memasarkan produk seninya hingga Australia, Amerika, dan Eropa.
Supono menekuni seni pembuatan topeng sejak 1971 setelah mewarisi keahlian tersebut dari kakeknya, Ki Warno Waskito. Perajin seperti Supono hingga kini masih aktif mengabdi sebagai abdi dalem (pekerja) Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak 1976.





