Bulatan Times – Low Tuck Kwong kembali menempati posisi teratas dalam daftar orang terkaya Indonesia. Pendiri Bayan Resources itu kembali berada di atas Prajogo Pangestu dan R. Budi Hartono setelah kekayaannya sempat turun tajam pada pertengahan September 2026.
Perubahan tersebut memperlihatkan betapa cepat posisi para konglomerat dapat bergeser dalam Forbes Real-Time Billionaires. Nilai kekayaan mereka banyak terkait dengan kepemilikan saham perusahaan publik sehingga pergerakan pasar dapat mengubah peringkat dalam hitungan hari.
Low menjadi contoh paling jelas bulan ini. Pada awal September, kekayaannya masih berada di kisaran US$19 miliar. Tekanan terhadap saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kemudian memangkas kekayaannya miliaran dolar AS dan membuat posisinya turun.
Posisinya kembali pulih menjelang akhir September. Data Forbes yang menjadi dasar laporan terbaru CNBC Indonesia kembali menempatkan pengusaha batu bara tersebut sebagai orang terkaya di Indonesia.
Kekayaan Low Tuck Kwong sangat terkait Bayan Resources
Sumber utama kekayaan Low berasal dari Bayan Resources, perusahaan batu bara yang didirikannya. Karena kepemilikannya besar, perubahan harga BYAN mempunyai pengaruh langsung terhadap estimasi nilai kekayaan Low.
Hubungan itu terlihat pada pertengahan September. Penurunan saham Bayan dalam dua hari menghapus sekitar US$2,5 miliar dari kekayaannya dan membuat Low turun ke posisi ketiga daftar orang terkaya Indonesia.
Pergerakan berikutnya kembali mengubah susunan papan atas.
Pada 17 September, Low dan Prajogo Pangestu sama-sama tercatat memiliki kekayaan sekitar US$16,4 miliar. R. Budi Hartono berada tidak jauh di belakang dengan sekitar US$16,1 miliar.
Sehari-hari, selisih sekecil itu cukup membuat posisi pertama hingga ketiga bertukar.
Low juga memiliki kepentingan bisnis di luar Bayan. Forbes mencatat portofolionya mencakup Metis Energy di Singapura, sementara sumber lain mengaitkannya dengan investasi di Samindo Resources dan The Farrer Park Company.
Lima orang terkaya Indonesia didominasi pemilik bisnis besar
Susunan lima besar terbaru masih dihuni nama-nama yang selama beberapa tahun terakhir berada di jajaran atas kekayaan Indonesia.
Low Tuck Kwong berada di posisi pertama dengan sumber kekayaan terbesar dari Bayan Resources dan bisnis energi.
Di bawahnya terdapat Prajogo Pangestu, pendiri Barito Pacific. Portofolio kelompok usahanya berkembang dari petrokimia ke energi dan pertambangan. Jaringan bisnis yang terhubung dengannya di Bursa Efek Indonesia mencakup Barito Pacific, Chandra Asri Pacific, Barito Renewables Energy, Petrindo Jaya Kreasi, Petrosea, dan Chandra Daya Investasi.
R. Budi Hartono berada di kelompok berikutnya. Kekayaan keluarga Hartono berasal dari Djarum serta kepemilikan di Bank Central Asia (BCA).
Nama Anthoni Salim juga bertahan di lima besar. Bisnis Salim Group tersebar luas, termasuk sektor makanan melalui Indofood dan jaringan usaha lainnya.
Posisi berikutnya ditempati Tahir dan keluarga, yang dikenal melalui Mayapada Group dengan portofolio antara lain di sektor perbankan, kesehatan, dan properti.
Urutan dan angka kekayaan kelima nama tersebut dapat berubah. Sebagai pembanding, pada 24 September data yang mengacu pada Forbes menempatkan Low sekitar US$17,23 miliar, Prajogo US$16,06 miliar, Budi Hartono US$15,62 miliar, Anthoni Salim US$10,81 miliar, serta Tahir dan keluarga US$9,43 miliar.
Posisi puncak beberapa kali berganti sepanjang September
Perubahan sepanjang September menjadi bagian yang menarik dari daftar kali ini.
Pada 9 September, Low berada di posisi pertama dengan estimasi kekayaan US$18,9 miliar. Prajogo berada di belakangnya dengan sekitar US$17,2 miliar.
Penurunan saham Bayan kemudian mengubah keadaan. Low sempat kehilangan sekitar US$2,5 miliar dan turun ke posisi ketiga pada pertengahan bulan.
Pada 17 September, Low dan Prajogo kembali berdekatan dengan estimasi masing-masing US$16,4 miliar. Sehari-hari posisi keduanya dapat berubah mengikuti valuasi perusahaan yang menopang kekayaan mereka.
Kondisi tersebut juga menjelaskan mengapa angka dalam daftar Forbes tahunan bisa berbeda jauh dari Real-Time Billionaires. Daftar tahunan memakai tanggal penilaian tertentu, sedangkan versi real-time memperbarui estimasi berdasarkan perubahan pasar.
Karena itu, angka kekayaan para konglomerat bukan jumlah uang tunai yang mereka miliki. Nilainya merupakan estimasi kekayaan bersih berdasarkan kepemilikan perusahaan dan aset lain setelah memperhitungkan metodologi Forbes.
Baca Juga: Bulatan Times Buka Layanan Artikel Promosi dan Publikasi Bisnis Mulai Rp75 Ribu
Baca Juga: Biometrik Subsidi BBM dan LPG Mulai Disiapkan Pertamina











