JAKARTA, BULATAN TIMES – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah diperkuat untuk melindungi kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Sementara itu, Pemerintah Kota Pekanbaru, Riau, menutup sementara tiga ruang publik pada 14–15 Oktober 2026 akibat kabut asap yang masih mengganggu kualitas udara.
Kementerian Kehutanan menyiapkan tambahan sumur bor, pengerahan personel gabungan, dan penyesuaian operasi pemadaman udara di Tanjung Puting. Langkah tersebut dibahas dalam rapat penanganan karhutla yang dipimpin Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Rabu (14/10/2026).
Di Pekanbaru, pembatasan kegiatan luar ruangan diperluas dari lingkungan sekolah hingga taman kota. Pemerintah daerah juga masih menyiagakan layanan kesehatan untuk warga yang mengalami gangguan pernapasan.
Empat Lokasi Kebakaran Jadi Prioritas di Tanjung Puting
Kementerian Kehutanan mengidentifikasi empat lokasi prioritas pemadaman berdasarkan pemetaan menggunakan drone dengan kamera pendeteksi panas.
Salah satu kawasan yang menjadi perhatian adalah Besalat karena berdekatan dengan lokasi pemberian pakan orangutan. Pemerintah berupaya mencegah api meluas ke zona inti taman nasional.
Menurut Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, bentang api di salah satu lokasi prioritas mencapai sekitar dua kilometer. Pemerintah memperkirakan diperlukan sekitar 30 sumur bor dan 160 personel gabungan untuk mendukung penanganan di lapangan.
Sumur bor disiapkan sebagai sumber air bagi petugas, sedangkan kemungkinan pembuatan sekat bakar masih dikaji dengan mempertimbangkan kondisi lahan gambut. Sekat bakar merupakan jalur yang dibuat untuk membatasi penyebaran api ke area lain.
Penanganan juga diarahkan ke kawasan Teluk Pulai, Sungai Bulu Kecil dan Sungai Bulu Besar, serta sekitar Sungai Baung dan Tanjung Rengas.
Untuk lokasi yang sulit dijangkau, petugas direncanakan tinggal sementara di sekitar area operasi dengan dukungan logistik agar pemadaman dapat berlangsung lebih berkelanjutan.
Helikopter Terkendala Asap, Pemerintah Siapkan Jalur Alternatif
Enam helikopter water bombing atau pemadaman menggunakan air dari udara tersedia di Kalimantan Tengah. Namun, penggunaan armada tersebut masih menghadapi kendala jarak pandang akibat asap tebal di sekitar Pangkalan Bun dan Palangka Raya.
Kementerian Kehutanan tengah menyiapkan alternatif operasi melalui Bandara Kuala Pembuang di Kabupaten Seruyan, yang dilaporkan memiliki kondisi jarak pandang lebih memungkinkan.
Pemerintah juga mempertimbangkan pemindahan tambahan helikopter dari Kalimantan Selatan untuk memperkuat pemadaman di Kalimantan Tengah.
Selain itu, operasi modifikasi cuaca menjadi salah satu opsi yang disiapkan dengan memperhatikan potensi pertumbuhan awan hujan pada 15–16 Oktober 2026.
Jika kondisi penerbangan di Kalimantan Tengah masih terhambat asap, pemerintah mempertimbangkan penggunaan Bandara Syamsudin Noor di Kalimantan Selatan sebagai alternatif pangkalan operasi.
Baca Juga: Prabowo Prioritaskan Pemadaman Karhutla Tanjung Puting, Asap Hambat Helikopter
Orangutan Diselamatkan dari Area Bekas Kebakaran di Kotawaringin Timur
Di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama relawan berhasil mengevakuasi seekor orangutan betina dari kawasan bekas karhutla pada Rabu malam (14/10/2026).
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, mengatakan penyelamatan dilakukan bersama Orangutan Foundation International (OFI) dan Komunitas Animal Rescue Sampit di kawasan Jalan Tjilik Riwut Kilometer 9, arah Sampit–Palangka Raya.
Orangutan tersebut diperkirakan berusia 20 tahun dengan berat sekitar 28 kilogram. Satwa itu diberi nama Ira setelah berhasil diamankan petugas.
Proses evakuasi berlangsung dengan akses yang terbatas karena sebagian jalan di sekitar lokasi telah terbakar. Tim harus menggunakan kendaraan roda dua, kemudian berjalan kaki untuk menjangkau satwa tersebut.
Pemeriksaan awal dokter hewan menunjukkan Ira dalam kondisi umum yang baik, tanpa luka atau patah tulang yang ditemukan saat pemeriksaan fisik.
BKSDA mencatat penyelamatan tersebut menambah jumlah orangutan yang dievakuasi di wilayah Kotawaringin Timur sejak Agustus hingga Oktober 2026 menjadi empat individu.
Tiga Taman Pekanbaru Ditutup Sementara akibat Kabut Asap
Sementara itu, Pemerintah Kota Pekanbaru menutup tiga ruang publik selama 14–15 Oktober karena kualitas udara belum membaik.
Lokasi yang ditutup meliputi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kacamayang, RTH Tunjuk Ajar Integritas, dan Taman Kota di Jalan Diponegoro.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Pekanbaru, Reza Aulia Putra, menjelaskan bahwa pembatasan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko paparan kabut asap terhadap warga yang beraktivitas di luar ruangan.
Menurut keterangan Pemerintah Kota Pekanbaru, pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi partikulat halus PM2.5 berada dalam kategori sangat tidak sehat pada periode kebijakan tersebut.
PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang dapat terhirup hingga saluran pernapasan bagian dalam.
Penutupan ruang publik berjalan bersamaan dengan kebijakan pembelajaran jarak jauh bagi siswa PAUD hingga SMP di Pekanbaru pada tanggal yang sama. Dinas Pendidikan sebelumnya mengeluarkan surat edaran agar kegiatan belajar disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.
Baca Juga: Kabut Asap Memburuk, Sekolah di Pekanbaru Kembali Belajar dari Rumah 14–15 Oktober
Ribuan Kasus Gangguan Kesehatan Tercatat di Pekanbaru
Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat 11.707 kasus gangguan kesehatan terkait paparan kabut asap secara kumulatif sejak 25 Agustus hingga 10 Oktober 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Pekanbaru, Hazli Fendriyanto, menyampaikan bahwa 9.816 kasus di antaranya merupakan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Gangguan lain yang tercatat meliputi 892 kasus asma, 498 kasus iritasi kulit, dan 328 kasus iritasi mata atau konjungtivitis.
Data tersebut berasal dari laporan 21 puskesmas dan 30 rumah sakit di Pekanbaru. Angka itu merupakan akumulasi selama periode pemantauan, bukan jumlah kasus baru pada 15 Oktober.
Pemerintah Kota Pekanbaru menyediakan masker gratis melalui puskesmas dan meminta warga mengurangi kegiatan di luar rumah saat kualitas udara memburuk.
Layanan puskesmas juga diperpanjang hingga pukul 21.00 WIB dan tetap dibuka pada Sabtu serta Minggu untuk membantu penanganan warga yang mengalami keluhan kesehatan akibat kabut asap.










