LABUAN BAJO, BULATAN TIMES – Tim SAR gabungan mengerahkan 16 penyelam pada Rabu (14/10/2026) untuk mencari satu penumpang yang belum ditemukan setelah kapal wisata KM Feronia terbalik dan tenggelam di perairan Pulau Tatawa, kawasan Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Kecelakaan terjadi pada Selasa (13/10/2026) ketika kapal membawa 30 orang, terdiri atas 25 penumpang dan lima awak kapal. Sebanyak 29 orang berhasil dievakuasi menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo, sedangkan satu penumpang masih dalam pencarian.
Korban yang belum ditemukan bernama Veronica Beatrix Jessica (23), warga negara Indonesia yang bertugas sebagai pemandu selam atau dive master dalam pelayaran tersebut.
Sebanyak 16 Penyelam Dikerahkan Cari Korban
Koordinator Pos SAR Labuan Bajo, Arif Rahmadan, mengatakan pencarian pada hari kedua melibatkan penyelam dari unsur SAR, TNI Angkatan Laut, penyelam profesional, dan rekan korban.
Tim terdiri atas dua personel Pos SAR Labuan Bajo, dua personel Pangkalan TNI Angkatan Laut Labuan Bajo, delapan anggota Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM), serta empat rekan korban.
Selain melakukan penyelaman, petugas menyisir permukaan laut di sekitar lokasi kapal tenggelam untuk memperluas pencarian.
Berdasarkan keterangan awal yang diperoleh kepolisian, Veronica diduga berada di dalam toilet kapal ketika KM Feronia tiba-tiba terbalik. Korban dilaporkan tidak sempat keluar sebelum kapal tenggelam.
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto, sebelumnya menyampaikan bahwa seorang penumpang dilaporkan terjebak di dalam badan kapal.
Namun, keberadaan pasti Veronica belum dapat dipastikan melalui hasil pencarian.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere, Fathur Rahman, menjelaskan operasi hari pertama berakhir tanpa menemukan korban.
“Jarak pandang yang terbatas dan arus laut menjadi kendala dalam pelaksanaan operasi SAR hari ini,” kata Fathur, dikutip dari Suara.com, Selasa (13/10/2026).
Kapal Terbalik Setelah Melintasi Arus Kuat
KM Feronia merupakan kapal wisata tradisional jenis pinisi dengan ukuran 51 gross tonnage (GT). Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Marina Labuan Bajo pada Selasa sekitar pukul 08.00 WITA menuju kawasan Pulau Rinca.
Sebelum kecelakaan, para wisatawan telah melakukan aktivitas menyelam di kawasan perairan Manta. Kapal kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo.
Sekitar pukul 14.30 WITA, kapal melintasi perairan di sekitar Pulau Tatawa yang memiliki arus kuat. Kapal kemudian kehilangan keseimbangan, terbalik ke sisi kiri, dan tenggelam.
Nakhoda KM Feronia, Isran, mengatakan arus kuat dari sisi kiri kapal diduga menjadi penyebab awal kapal terbalik.
Ketika kejadian berlangsung, sebagian penumpang berada di geladak atas. Awak kapal berupaya membantu mereka menyelamatkan diri menggunakan rakit penolong.
Proses evakuasi pertama dibantu kapal cepat Red Whale 2 dan Mac Cruise yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Tim SAR kemudian mengerahkan kapal penyelamat tambahan, termasuk rigid inflatable boat (RIB) Pos SAR Manggarai Barat dan Sea Rider KSOP Labuan Bajo.
Dari 25 penumpang, sebanyak 21 orang merupakan wisatawan asing dan empat lainnya warga Indonesia. Seluruh lima awak kapal berhasil dievakuasi.
Polisi juga melaporkan tiga wisatawan asing mengalami luka-luka dan mendapatkan penanganan medis setelah berhasil diselamatkan.
Polisi Selidiki Dugaan Kelalaian
Polres Manggarai Barat mulai menyelidiki kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam kecelakaan KM Feronia.
Kepala Satuan Polisi Perairan dan Udara Polres Manggarai Barat, Iptu Leonardo Marpaung, mengatakan penyidik akan memeriksa sejumlah faktor, termasuk kondisi kapal dan keputusan pengoperasian ketika melintasi kawasan berarus kuat.
Polisi juga menyoroti bentuk konstruksi kapal yang memiliki lambung relatif pendek dengan bangunan kabin cukup tinggi. Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang akan diperiksa dalam kaitannya dengan kestabilan kapal.
Penyidik telah membuat laporan polisi sebagai dasar penanganan perkara. Pemeriksaan direncanakan melibatkan nakhoda, kepala kamar mesin, awak kapal, agen pelayaran, serta pemilik kapal.
Penyelidikan tersebut belum memastikan bahwa kecelakaan terjadi akibat kesalahan nakhoda atau pihak tertentu.
Sementara itu, pencarian terhadap Veronica terus dilakukan oleh tim SAR gabungan dengan mempertimbangkan kondisi arus, jarak pandang, dan keselamatan personel di perairan sekitar lokasi kapal tenggelam.
Baca Juga: OTT KPK di BNPB, 14 Orang Diamankan Termasuk Sekretaris Utama Rustian
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Ganggu Kesehatan Warga dan Sekolah, DPR Desak Perlindungan










