Bulatan Times – Pemerintah mulai menyiapkan langkah untuk mengangkat bangkai KMP Virgo Transport 8 dari dasar Laut Jawa. Namun, proses tersebut tidak akan dilakukan tergesa-gesa karena pencarian dan evakuasi korban masih menjadi prioritas utama.
Kementerian Perhubungan mempercepat koordinasi terkait proses salvage atau pengangkatan kapal setelah KMP Virgo Transport 8 ditemukan dalam kondisi tenggelam di perairan Masalembo.
Rencana tersebut berjalan bersamaan dengan operasi SAR yang hingga Kamis (24/9/2026) masih berlangsung.
Pertimbangannya bukan hanya persoalan teknis mengangkat kapal berukuran besar dari dasar laut. Kondisi korban yang diduga masih berada di dalam bangkai kapal juga harus diperhitungkan sebelum posisi kapal diubah.
Baca Juga: KM Virgo Transport 8: Kronologi Kecelakaan hingga Evakuasi Korban dari Bangkai Kapal
Pengangkatan kapal tidak dilakukan sebelum evakuasi diperhitungkan
Proses salvage membutuhkan perencanaan tersendiri.
Bangkai kapal tidak dapat langsung ditarik atau dibalik ketika tim penyelam masih melakukan pencarian di bagian dalam.
Perubahan posisi kapal berpotensi mengubah kondisi ruang-ruang yang selama ini menjadi lokasi penyisiran penyelam.
Karena itu, pencarian korban dan rencana pengangkatan kapal harus berjalan dalam koordinasi yang sama.
Kementerian Perhubungan menyatakan sedang mempercepat koordinasi salvage sembari terus mendukung operasi SAR dengan armada dan fasilitas tambahan.
Penyelam menemukan sembilan korban dalam sehari
Alasan pencarian di dalam bangkai kapal tetap diprioritaskan terlihat dari perkembangan operasi Rabu (23/9).
Tim gabungan Basarnas Special Group dan TNI AL berhasil menemukan serta mengevakuasi sembilan jenazah dari KMP Virgo Transport 8 dalam satu hari.
Penyelaman dilakukan beberapa kali dari KN SAR Pacitan.
Korban yang ditemukan kemudian dievakuasi dari lokasi operasi untuk menjalani proses penanganan dan identifikasi.
Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa pencarian di dalam kapal masih mempunyai peluang menemukan korban lainnya.
Karena itu, perubahan terhadap posisi bangkai kapal harus mempertimbangkan keselamatan penyelam sekaligus proses evakuasi.
Baca Juga: Pencarian Korban KM Virgo Transport 8, Arus Laut Jadi Tantangan Penyelam Basarnas
Basarnas tambah dukungan tiga helikopter
Operasi pada hari ke-12 diperkuat dari udara.
Basarnas menyiagakan tiga helikopter untuk mendukung evakuasi korban KMP Virgo Transport 8.
Dua helikopter Basarnas, HR-3601 dan HR-3604, sebelumnya sudah digunakan. Helikopter Panther milik TNI AL kemudian disiapkan untuk menambah kekuatan udara.
Helikopter menjadi penting karena lokasi bangkai kapal berada jauh dari daratan.
Setelah korban ditemukan penyelam dan dibawa ke kapal SAR, perjalanan menuju fasilitas identifikasi dapat dipercepat melalui jalur udara.
Kecepatan evakuasi juga menjadi perhatian karena kondisi jenazah semakin dipengaruhi lamanya berada di laut.
Kemenhub kirim tiga peti kemas pendingin
Selain dukungan armada, pemerintah menyiapkan fasilitas untuk penanganan jenazah.
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menyiapkan tiga reefer container atau peti kemas berpendingin yang dikirim dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Banjarmasin.
Fasilitas tersebut digunakan sebagai tempat penampungan sementara jenazah yang dievakuasi dari lokasi kecelakaan.
Langkah ini dilakukan karena operasi pencarian menghasilkan penemuan sejumlah korban dalam waktu berdekatan.
Semakin banyak korban ditemukan, semakin besar pula kebutuhan fasilitas pendukung sebelum proses identifikasi dan penyerahan kepada keluarga dilakukan.
Bangkai kapal menjadi fokus pencarian
Pada fase awal operasi, pencarian dilakukan dalam wilayah laut yang luas.
Setelah posisi KMP Virgo Transport 8 ditemukan, strategi pencarian berkembang.
Tim penyelam dapat memeriksa bagian dalam kapal secara langsung.
Pada 21 September, Basarnas Special Group menemukan dua korban laki-laki di dalam kapal. Keduanya ditemukan hanya berselang beberapa menit sebelum dievakuasi menggunakan helikopter HR-3601 menuju Banjarmasin.
Sehari kemudian, tim gabungan kembali menemukan tiga jenazah.
Kemudian pada 23 September, sembilan korban berhasil dievakuasi dalam operasi penyelaman.
Rangkaian temuan tersebut menjadikan bagian dalam bangkai kapal sebagai salah satu titik penting operasi SAR.
Arus laut membuat penyelaman tidak sederhana
Penyelaman pada bangkai kapal mempunyai risiko berbeda dibanding pencarian di permukaan.
Selain kedalaman, penyelam harus menghadapi kondisi struktur kapal, jarak pandang bawah air, arus, akses menuju ruangan, serta potensi benda yang dapat menghambat pergerakan.
Tim juga harus memastikan jalur masuk dan keluar tetap aman.
Karena itu, operasi dilakukan oleh personel khusus dari Basarnas Special Group bersama unsur penyelam TNI AL.
Setiap temuan korban kemudian membutuhkan tahapan pengangkatan dari dalam kapal, pemindahan ke kapal SAR, dan evakuasi menuju daratan.
Rencana salvage berjalan paralel
Sementara operasi SAR berlanjut, Kementerian Perhubungan mulai mempersiapkan penanganan kapal.
Dalam terminologi maritim, salvage dapat mencakup pekerjaan untuk mengangkat, memindahkan, atau menangani kapal yang mengalami kecelakaan.
Kemenhub menyatakan koordinasi untuk salvage KMP Virgo Transport 8 dipercepat.
Namun, tahap tersebut berbeda dari operasi pencarian korban.
Artinya, adanya rencana mengangkat kapal tidak berarti operasi SAR langsung dihentikan atau kapal segera ditarik dari dasar laut.
Kedua pekerjaan harus diatur agar tidak saling mengganggu.
Kondisi korban menjadi pertimbangan penting
Pertimbangan kemanusiaan menjadi bagian utama dalam menentukan waktu pengangkatan kapal.
Selama masih ada kemungkinan korban berada di dalam bangkai, perubahan posisi kapal harus dilakukan secara hati-hati.
Tim SAR membutuhkan akses yang cukup aman untuk melakukan penyisiran.
Di sisi lain, kondisi bangkai kapal juga tidak dapat dibiarkan tanpa rencana penanganan dalam jangka panjang.
Karena itu, keputusan salvage perlu mempertimbangkan perkembangan pencarian, keselamatan penyelam, kondisi struktur kapal, serta hasil koordinasi antarlembaga.
Operasi Virgo Transport 8 masih tercatat aktif
Penanganan kecelakaan Virgo Transport 8 pada 24 September masih berada dalam operasi aktif pencarian dan pertolongan.
Hal tersebut menegaskan bahwa fokus saat ini belum bergeser sepenuhnya menuju pengangkatan kapal.
Tim SAR masih bekerja mencari korban.
Data korban juga dapat berubah seiring penemuan baru dan proses rekonsiliasi manifest, sehingga angka terbaru harus mengikuti pembaruan resmi Basarnas.
Kecelakaan terjadi di Laut Jawa
KMP Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan ketika melayani pelayaran Surabaya menuju Banjarmasin.
Kapal dilaporkan kehilangan kontak setelah menghadapi kondisi cuaca buruk di Laut Jawa pada 13 September 2026.
Pencarian kemudian melibatkan kekuatan besar dari Basarnas, TNI AL, Kementerian Perhubungan, kepolisian, pemerintah daerah, nelayan, serta unsur lainnya.
KN SAR Kamajaya termasuk kapal yang dikerahkan untuk memperkuat operasi sejak fase awal pencarian.
Operasi kemudian semakin terfokus setelah bangkai kapal ditemukan.
Investigasi kecelakaan berjalan terpisah
Selain operasi SAR dan rencana salvage, kecelakaan KMP Virgo Transport 8 juga memerlukan investigasi.
Tujuan investigasi berbeda dengan pencarian korban.
Operasi SAR berfokus menyelamatkan dan menemukan korban, sementara investigasi keselamatan diperlukan untuk mengetahui rangkaian faktor yang menyebabkan kecelakaan.
Karena itu, kondisi bangkai kapal juga dapat mempunyai nilai penting dalam pemeriksaan teknis.
Penanganannya perlu mempertimbangkan kebutuhan dokumentasi sebelum kapal dipindahkan.
Pengangkatan kapal menjadi tahap berikutnya
Rencana mengangkat KMP Virgo Transport 8 menunjukkan penanganan kecelakaan mulai memasuki persiapan fase berikutnya.
Namun, operasi pencarian belum selesai.
Selama penyelam masih menemukan korban di dalam kapal, evakuasi tetap mempunyai prioritas tinggi.
Kementerian Perhubungan dapat mempersiapkan perusahaan, peralatan, metode dan koordinasi salvage secara paralel tanpa harus langsung mengubah posisi kapal.
Dengan pendekatan tersebut, waktu tidak terbuang ketika operasi SAR nantinya memasuki tahap berikutnya.
Untuk saat ini, perkembangan di lapangan masih menjadi penentu.
Semakin lengkap penyisiran bangkai kapal dan semakin jelas kondisi korban, semakin kuat pula dasar untuk menentukan kapan KMP Virgo Transport 8 dapat mulai diangkat dari dasar Laut Jawa.











