Bulatan Times – Pilihan mobil listrik dengan harga yang semakin kompetitif mulai ikut mengubah pertimbangan konsumen dalam membeli kendaraan. Perubahan tersebut juga mulai terlihat pada bisnis pembiayaan kendaraan listrik di Indonesia.
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), misalnya, mencatat pembiayaan kendaraan listrik sebesar Rp 345 miliar sepanjang semester I 2026. Sekitar 95 persen dari nilai tersebut berasal dari pembiayaan mobil listrik.
Perkembangan ini berlangsung ketika semakin banyak kendaraan listrik masuk ke pasar dengan pilihan model dan rentang harga yang lebih beragam. Bagi konsumen, harga kendaraan yang lebih terjangkau dapat membuat perhitungan uang muka hingga cicilan semakin masuk dalam pertimbangan pembelian.
Baca Juga: Harga Mobil Listrik Bekas September 2026 Mulai Rp 124 Jutaan, Ini Daftarnya
Pembiayaan EV Tumbuh, Mobil Listrik Mendominasi
Pertumbuhan pembiayaan kendaraan listrik sebenarnya sudah terlihat sejak tahun lalu. Sepanjang 2025, Adira Finance mencatat pembiayaan EV sekitar Rp 748–750 miliar, melonjak sekitar 97 persen secara tahunan.
Mobil listrik menjadi penyumbang terbesar. Adira sebelumnya menyebut lebih dari 90 persen pembiayaan EV pada 2025 berasal dari mobil listrik, bukan sepeda motor listrik.
Tren tersebut berlanjut pada 2026. Di tengah semakin luasnya pilihan kendaraan, perusahaan pembiayaan juga mulai menyediakan produk yang secara khusus dapat digunakan untuk mobil listrik. Situs resmi Adira, misalnya, sudah menempatkan mobil listrik sebagai salah satu pilihan dalam layanan kredit mobilnya.
Saat IIMS 2026, Adira bahkan menawarkan program pembiayaan mobil listrik dengan bunga khusus melalui kolaborasi dengan Bank Danamon serta paket perlindungan asuransi untuk EV.
Harga Bukan Satu-satunya Pertimbangan
Meski harga mobil listrik makin kompetitif, keputusan konsumen untuk beralih ke EV tidak hanya ditentukan harga kendaraan atau besarnya cicilan.
Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani sebelumnya mengatakan keputusan konsumen juga dipengaruhi ketersediaan infrastruktur pengisian daya, insentif pemerintah, serta kesiapan layanan purna jual.
Faktor-faktor tersebut membuat pertumbuhan pembiayaan EV diperkirakan berlangsung secara bertahap mengikuti perkembangan ekosistem kendaraan listrik.
Pada saat bersamaan, kendaraan bermesin konvensional belum kehilangan pasar. Hingga Juli 2026, pembiayaan mobil bekas Adira Finance masih mencapai Rp 3,3 triliun. Perusahaan menilai angka tersebut menunjukkan permintaan terhadap kendaraan konvensional, termasuk mobil bekas, tetap kuat meskipun pembiayaan EV berkembang.
Baca Juga: Tarif Listrik PLN September 2026 Dipastikan Tidak Naik
Kondisi serupa terlihat dari perusahaan pembiayaan lain. CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) menilai semakin banyaknya mobil listrik baru dengan harga kompetitif mulai menjadi salah satu faktor yang memengaruhi preferensi konsumen dan bisnis pembiayaan kendaraan bekas.
Industri Pembiayaan Ikut Menyesuaikan
Perubahan pasar membuat perusahaan multifinance tidak hanya berhadapan dengan pertumbuhan EV, tetapi juga perubahan cara konsumen membandingkan kendaraan.
Harga beli, besaran uang muka, cicilan, tenor, biaya penggunaan hingga nilai kendaraan menjadi bagian dari pertimbangan sebelum konsumen menentukan pilihan antara mobil listrik, hybrid, maupun kendaraan konvensional.
Data industri sebelumnya juga memperlihatkan ruang pertumbuhan tersebut. OJK mencatat pembiayaan mobil listrik roda empat oleh industri multifinance mencapai Rp 20,06 triliun per Mei 2026, tumbuh 29,16 persen secara tahunan. Angka itu setara 3,69 persen dari total pembiayaan multifinance pada periode tersebut.
Dengan semakin banyaknya model EV yang masuk ke Indonesia pada rentang harga berbeda, kompetisi berikutnya bukan hanya terjadi di antara produsen kendaraan. Perusahaan pembiayaan juga menghadapi kebutuhan untuk menawarkan skema yang sesuai dengan kemampuan dan profil risiko konsumen.











