Bulatan Times – Perjuangan Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 memasuki fase penting. Setelah beberapa hari mengumpulkan perak dan perunggu, kontingen Merah Putih akhirnya meraih medali emas pertama melalui tim beregu putra bulu tangkis.
Emas tersebut didapat setelah Indonesia menundukkan China 3-2 pada final di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Kamis (24/9/2026). Kemenangan membawa Indonesia menutup pertandingan hari itu di peringkat ke-16 klasemen sementara dengan 1 emas, 4 perak, dan 15 perunggu.
Asian Games masih berlangsung hingga 4 Oktober. Indonesia datang ke Jepang dengan target sedikitnya empat medali emas, sehingga hasil dari cabang-cabang yang belum menyelesaikan pertandingan akan menentukan pencapaian akhir kontingen.
Baca Juga: Timnas Indonesia U-20 Lolos Piala Asia 2027, Kalahkan Australia 2-0
Bulu Tangkis Buka Keran Emas Indonesia
Emas pertama Indonesia lahir dari final beregu putra yang berjalan ketat.
China lebih dahulu unggul 2-0 setelah Jonatan Christie kalah dari Shi Yuqi dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri takluk dari Liang Weikeng/Wang Chang. Indonesia berada dalam posisi harus memenangkan seluruh pertandingan tersisa.
Alwi Farhan membuka kebangkitan dengan mengalahkan Li Shifeng 23-21, 15-21, 21-16. Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin kemudian menyamakan skor menjadi 2-2 setelah menang atas He Ji Ting/Liu Yi 23-21, 21-10.
Penentuan berada di tangan Mohammad Zaki Ubaidillah. Ubed mengalahkan Weng Hongyang dua gim langsung 23-21, 21-13 dan memastikan Indonesia menang 3-2.
Emas tersebut sekaligus menggagalkan China menyapu gelar beregu bulu tangkis setelah mereka sebelumnya menjuarai nomor beregu putri.
Chef de Mission Indonesia Todotua Pasaribu berharap hasil bulu tangkis menjadi dorongan bagi atlet dari cabang lain yang masih bertanding. Target Indonesia belum selesai dengan emas pertama tersebut.
Indonesia Membawa 430 Atlet
Indonesia awalnya mendaftarkan 432 atlet dari 35 cabang olahraga. Setelah proses Delegation Registration Meeting, jumlah kontingen atlet yang berangkat menjadi 430 orang dari 35 cabang.
Asian Games Aichi-Nagoya berlangsung selama 19 September–4 Oktober. Sebanyak 45 NOC berpartisipasi dalam edisi ke-20 Asian Games tersebut.
Sebelum keberangkatan, pemerintah memasang target empat medali emas. Angka tersebut lebih rendah dibanding hasil Asian Games Hangzhou, ketika Indonesia membawa pulang tujuh emas. Salah satu penyebabnya, tiga nomor yang menghasilkan emas bagi Indonesia di Hangzhou tidak lagi dipertandingkan di Aichi-Nagoya: dua nomor running target menembak dan 1.000 meter putra perahu naga.
Kondisi itu membuat Indonesia harus mencari sumber emas dari nomor lain.
Panjat tebing, angkat besi, dan bulu tangkis masuk dalam kelompok cabang yang sejak awal diproyeksikan menjadi tumpuan. Bulu tangkis kini sudah memenuhi sebagian target tersebut melalui nomor beregu putra.
Baca Juga: Pelatih Singapura Singgung Timnas Indonesia Usai Tersingkir dari Piala AFF 2026
Panjat Tebing hingga Angkat Besi Masih Jadi Tumpuan
Panjat tebing membawa sembilan atlet ke Jepang dengan target dua emas dari nomor speed dan lead. Salah satu nama yang menjadi perhatian adalah Veddriq Leonardo.
Veddriq secara terbuka memasang target emas pada nomor speed putra. Peraih emas Olimpiade tersebut belum pernah meraih emas Asian Games pada nomor individu.
Angkat besi juga masuk dalam peta medali Indonesia. Cabang ini memiliki tradisi prestasi internasional dan menjadi salah satu yang diperhitungkan pemerintah dalam mengejar target kontingen.
Peluang Indonesia tidak berhenti pada cabang-cabang tersebut. Esports menjalani persiapan sekitar dua bulan sebelum Asian Games dan Indonesia mengikuti delapan gim.
Cabang lain juga sudah menyumbangkan medali selama pekan pertama. Menembak, rowing, kano, sepak takraw, sepeda gunung, teqball, karate, wushu, dan soft tennis termasuk yang telah menambah koleksi Indonesia pada fase awal kompetisi.
Target Empat Emas Belum Tercapai
Hingga penutupan pertandingan Kamis (24/9), Indonesia memiliki satu emas. Masih dibutuhkan sedikitnya tiga emas lagi untuk mencapai target pemerintah.
Perjalanan masih cukup panjang karena Asian Games baru berakhir pada 4 Oktober. Sejumlah cabang andalan juga masih memiliki agenda pertandingan.
Indonesia datang dengan target yang berbeda dari Hangzhou. Karena sejumlah nomor penyumbang emas sebelumnya hilang dari program pertandingan, ukuran keberhasilan tidak bisa sekadar membandingkan cabang demi cabang dengan edisi sebelumnya.
Persiapan kontingen tidak hanya dilakukan dari sisi pertandingan. CdM sebelumnya melakukan peninjauan ke Jepang untuk memeriksa akomodasi, logistik, transportasi, fasilitas pemulihan, hingga dukungan medis.
Dengan emas pertama sudah diamankan, fokus berikutnya bergeser ke cabang-cabang yang masih memiliki peluang podium selama pekan kedua Asian Games.










