LOMBOK TENGAH, BULATAN TIMES – Pedro Acosta menentang kebijakan denda sebesar €5.000 bagi pembalap MotoGP yang tidak memenuhi kewajiban menghadiri kegiatan promosi. Pembalap Red Bull KTM Factory Racing itu meminta penyelenggara lebih mempertimbangkan kondisi fisik dan kebutuhan pemulihan para pembalap.
Kritik tersebut disampaikan Acosta seusai Grand Prix Indonesia di Sirkuit Mandalika, Minggu (11/10/2026), menyusul laporan bahwa tim-tim MotoGP telah menerima pemberitahuan mengenai pengetatan kehadiran pembalap dalam acara bersama penggemar.
Acosta khawatir tuntutan yang terus bertambah akan membuat tekanan terhadap pembalap semakin besar. Ia bahkan memperingatkan bahwa sejumlah legenda balap bisa enggan kembali ke lingkungan MotoGP setelah pensiun.
MotoGP Siapkan Denda €5.000 untuk Acara Hero Walk
Menurut laporan Motorsport.com, penyelenggara MotoGP mengirimkan pemberitahuan kepada tim pada Sabtu (10/10/2026) mengenai kewajiban menghadiri kegiatan promosi sepanjang akhir pekan Grand Prix.
Penerapannya dimulai dari acara MotoGP Hero Walk di Mandalika pada Minggu, ketika pembalap bertemu penggemar untuk berfoto dan memberikan tanda tangan.
Acara tersebut berlangsung sekitar 20 menit. Berdasarkan ketentuan yang dilaporkan kepada tim, setiap pembalap diwajibkan hadir sekurang-kurangnya 10 menit.
Pembalap yang tidak memenuhi waktu kehadiran tersebut terancam denda €5.000 untuk pelanggaran pertama. Jumlah denda disebut dapat meningkat apabila pelanggaran kembali terjadi.
Penyelenggara juga memperingatkan kemungkinan sanksi olahraga bagi pelanggaran yang terus berulang. Namun, bentuk sanksi tersebut belum dijelaskan secara terperinci.
Kebijakan ini muncul di tengah kekhawatiran penyelenggara mengenai berkurangnya keterlibatan pembalap dalam kegiatan yang ditujukan untuk penggemar.
Acosta Minta Kondisi Fisik Pembalap Diperhatikan
Mengutip Crash.net, Acosta menyatakan ketidaksetujuannya terhadap pendekatan yang mengandalkan hukuman finansial untuk memastikan kehadiran pembalap.
Menurutnya, setiap pembalap memiliki kondisi berbeda yang belum tentu diketahui penyelenggara. Karena itu, kewajiban promosi seharusnya tetap mempertimbangkan kebutuhan pemulihan fisik setelah menjalani aktivitas di lintasan.
Acosta mencontohkan situasi Raúl Fernández yang tetap membalap di Mandalika meski mengalami cedera pada jari tangannya.
Fernández menyelesaikan balapan utama di posisi kedua, tepat di belakang Marco Bezzecchi, setelah bertanding dengan kondisi dua jari mengalami retak tulang.
Acosta menilai pembalap dalam kondisi tersebut perlu memiliki kesempatan untuk mendapatkan perawatan. Terlebih, jari tangan merupakan bagian penting dalam mengoperasikan rem motor MotoGP.
Ia khawatir kewajiban tambahan di luar lintasan dapat menjadi persoalan ketika pembalap membutuhkan waktu untuk menangani cedera atau beristirahat.
Baca Juga: Bezzecchi Juara MotoGP Mandalika 2026, Martin Kembali Puncaki Klasemen
Acosta Dukung Sikap Marc Márquez di Jepang
Acosta juga menyinggung keputusan Marc Márquez yang tidak mengikuti sebuah kegiatan balap kart promosi menjelang Grand Prix Jepang.
Márquez sebelumnya menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan waktu istirahat untuk bahu dan memilih memprioritaskan kondisi fisik serta persaingan kejuaraan.
Acosta mendukung keputusan tersebut. Menurutnya, penyelenggara perlu memberikan ruang bagi pembalap untuk menentukan kebutuhan mereka di tengah padatnya jadwal kompetisi.
Márquez turut menyampaikan kritik terhadap kewajiban promosi setelah menyelesaikan GP Indonesia di posisi keenam.
Pembalap Ducati Lenovo Team itu menegaskan keinginannya membantu perkembangan MotoGP, tetapi menganggap kegiatan sponsor, pertemuan tim, parade, dan agenda bersama penggemar telah menyita banyak waktu selama akhir pekan balap.
Márquez menilai pertunjukan utama MotoGP tetap berlangsung di lintasan. Karena itu, ia berharap penyelenggara mencari cara mengembangkan kejuaraan tanpa terus menambah beban pembalap.
Acosta Khawatir Legenda MotoGP Enggan Kembali
Kekhawatiran Acosta tidak hanya berkaitan dengan denda, tetapi juga tekanan yang menurutnya semakin berat sepanjang karier seorang pembalap.
Ia memperkirakan masa karier pembalap bisa semakin pendek apabila tuntutan tersebut terus meningkat.
Acosta bahkan mengkhawatirkan kemungkinan munculnya pembalap-pembalap besar yang memilih menjauh dari paddock dan enggan kembali setelah mengakhiri karier.
Dalam wawancara yang sama, Acosta juga mempertanyakan kemampuan para pembalap untuk menyuarakan kepentingan bersama.
Ia menilai pembentukan organisasi yang benar-benar mewakili seluruh pembalap akan sulit terwujud karena setiap pembalap dan tim memiliki kepentingan masing-masing.
Baca Juga: Luca Marini dan Pedro Acosta Jagokan Aprilia di MotoGP Mandalika 2026
Acosta berharap hubungan antara penyelenggara dan pembalap dapat membaik. Baginya, dukungan terhadap perkembangan MotoGP tetap penting, tetapi kebutuhan promosi harus mempertimbangkan keselamatan, kondisi tubuh, serta tekanan yang dihadapi pembalap selama musim berlangsung.










