BULATAN TIMES – Foto dan video yang diubah menggunakan kecerdasan buatan (AI) dapat memengaruhi cara seseorang mengingat kejadian. Penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan bahwa orang yang melihat visual hasil manipulasi AI lebih rentan mengingat detail yang sebenarnya tidak ada dalam gambar asli.
Dalam eksperimen terhadap 200 peserta, kelompok yang melihat video AI dari foto yang telah diedit menunjukkan tingkat ingatan keliru 2,05 kali dibandingkan kelompok yang hanya melihat foto asli. Peserta dalam kelompok tersebut juga lebih yakin terhadap ingatan yang tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya.
Penelitian itu diterbitkan dalam konferensi CHI pada April 2025 dan kembali mendapat perhatian setelah MIT Media Lab menyoroti dampak AI terhadap ingatan manusia pada Oktober 2026.
Bagaimana Peneliti Menguji Ingatan Peserta?
Tim peneliti yang melibatkan Pat Pataranutaporn, Chayapatr Archiwaranguprok, Samantha Chan, Elizabeth Loftus, dan Pattie Maes membagi 200 peserta menjadi empat kelompok. Setiap kelompok berisi 50 orang.
Seluruh peserta terlebih dahulu diperlihatkan sejumlah foto asli. Setelah mengerjakan tugas selingan, mereka mendapat materi visual berbeda sesuai kelompok masing-masing.
Kelompok pertama melihat kembali foto yang tidak diubah. Kelompok kedua menerima foto yang telah dimanipulasi menggunakan AI.
Kelompok ketiga melihat video buatan AI berdasarkan foto asli, sedangkan kelompok keempat menyaksikan video AI yang dibuat dari foto yang sebelumnya sudah dimanipulasi.
Peserta kemudian diminta mengingat detail dari materi awal yang mereka lihat.
Dalam contoh perubahan visual yang digunakan peneliti, ekspresi wajah seseorang dapat dibuat berbeda dari foto aslinya. Detail tambahan semacam ini memungkinkan peserta mengingat sesuatu yang sebenarnya tidak mereka lihat pada paparan pertama.
Perbandingan keempat kelompok membantu peneliti menilai apakah perubahan pada foto, animasi video, atau gabungan keduanya berkaitan dengan meningkatnya ingatan yang keliru.
Video AI dari Foto Editan Memberi Pengaruh Terbesar
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa manipulasi foto dan video menggunakan AI dapat meningkatkan jumlah kesalahan dalam mengingat detail.
Pengaruh paling besar ditemukan pada kelompok yang menyaksikan video AI hasil pengembangan foto yang sudah diedit. Tingkat ingatan palsunya mencapai 2,05 kali kelompok kontrol yang melihat foto tanpa perubahan.
Tingkat keyakinan peserta terhadap ingatan keliru tersebut juga tercatat 1,19 kali kelompok kontrol.
Artinya, peserta tidak hanya lebih sering menyebutkan detail yang salah. Dalam kondisi eksperimen tertentu, mereka juga merasa lebih yakin bahwa detail tersebut memang terdapat pada materi awal.
Ingatan palsu dalam penelitian ini merujuk pada kesalahan mengingat detail visual, bukan bukti bahwa seseorang sepenuhnya melupakan pengalaman hidup atau memperoleh ingatan baru yang bertahan selamanya.
Hasil tersebut juga tidak berarti setiap foto hasil editan AI pasti mengubah ingatan orang yang melihatnya. Efek yang dilaporkan muncul dalam kondisi pengujian yang dirancang oleh peneliti.
Ringkasan Video AI Juga Dapat Mengubah Ingatan
Temuan tentang pengaruh AI terhadap ingatan turut diperkuat oleh penelitian berbeda dari Georgetown University dan University of Washington yang diumumkan pada September 2026.
Penelitian ini melibatkan 331 peserta yang menyaksikan video animasi kecelakaan mobil dan pejalan kaki.
Setelah 24 hingga 48 jam, peserta diberi ringkasan video yang dibuat menggunakan AI. Sebagian menerima ringkasan yang akurat, sementara kelompok lain membaca ringkasan dengan informasi keliru mengenai rambu lalu lintas dalam tayangan.
Hasilnya, 83,6 persen peserta yang membaca ringkasan akurat berhasil mengingat rambu tersebut dengan benar.
Angka itu turun menjadi 44,8 persen pada peserta yang membaca ringkasan menyesatkan.
Mengutip keterangan Georgetown University, pemberitahuan bahwa ringkasan dibuat menggunakan AI tidak menghilangkan pengaruh informasi keliru terhadap ingatan peserta.
Penelitian Georgetown berbeda dari eksperimen MIT. Yang diuji bukan foto hasil editan, melainkan pengaruh informasi salah dalam ringkasan tertulis terhadap ingatan seseorang setelah menonton video.
Keduanya menunjukkan bahwa informasi yang diterima setelah melihat suatu peristiwa dapat memengaruhi apa yang kemudian dianggap sebagai ingatan atas peristiwa tersebut.
Baca Juga: Tips Menggunakan ChatGPT untuk Penjualan, dari Promosi hingga Follow Up
Mengapa Temuan Ini Penting untuk Pengguna AI?
Teknologi AI kini memungkinkan foto lama diperjelas, ekspresi wajah diubah, objek ditambahkan, dan gambar diam dibuat seolah bergerak.
Kemampuan tersebut berguna untuk kebutuhan kreatif, tetapi juga dapat mengaburkan perbedaan antara dokumentasi kejadian dan visual yang telah direkayasa.
Dalam penggunaan pribadi, foto keluarga yang telah diedit dapat menampilkan detail yang tidak pernah ada. Jika gambar itu dilihat kembali tanpa mengetahui perubahannya, seseorang berpotensi mencampurkan informasi baru dengan ingatan terhadap foto asli.
Risiko serupa menjadi perhatian ketika foto atau video dipakai untuk menggambarkan peristiwa publik, menyimpan catatan sejarah, atau mendukung keterangan saksi.
Meski demikian, penelitian MIT tidak mengukur seberapa sering dampak tersebut terjadi dalam kehidupan sehari-hari atau berapa lama ingatan keliru bertahan setelah seseorang terpapar visual AI.
Temuan laboratorium itu menunjukkan adanya potensi perubahan ingatan, bukan kepastian bahwa seluruh pengguna media sosial akan mengalami efek yang sama.
Cara Mengurangi Risiko Salah Mengingat Foto dan Video
Pengguna dapat membedakan foto dokumentasi asli dengan gambar yang telah dimodifikasi AI dengan menyimpan versi awal dan mencatat perubahan yang dilakukan.
Jika foto digunakan sebagai arsip keluarga, catatan kegiatan, atau bukti suatu kejadian, file asli sebaiknya tetap disimpan terpisah dari versi editannya.
Pemberian keterangan bahwa visual dibuat atau diubah menggunakan AI juga membantu orang lain memahami asal gambar tersebut.
Namun, label AI saja tidak selalu cukup untuk mencegah pengaruh informasi keliru terhadap ingatan, terutama ketika seseorang sudah menerima detail tambahan sebagai bagian dari kejadian yang dilihatnya.
Untuk informasi penting, pemeriksaan dapat dilakukan dengan membandingkan rekaman asli, waktu pengambilan gambar, keterangan saksi, dan sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Baca Juga: Nvidia Jajaki Investasi Rp. 81 Triliun di Batam, Pemerintah Sebut Belum Final
Dalam konteks hukum dan pemeriksaan kejadian, perbedaan antara rekaman asli, hasil editan, dan ringkasan AI perlu dijaga. Penilaian atas suatu peristiwa tidak seharusnya hanya bertumpu pada ingatan seseorang setelah melihat materi yang sudah dimanipulasi.










