BULATAN TIMES – Pemerintah kembali menyampaikan bahwa Nvidia tengah menjajaki investasi sekitar US$ 4,5 miliar atau setara Rp. 81 triliun untuk pengembangan infrastruktur pusat data dan kecerdasan buatan (AI) di Batam, Kepulauan Riau. Namun, rencana tersebut hingga kini masih dalam tahap pembicaraan.
Informasi itu tercantum dalam siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bertanggal Sabtu (17/10/2026) yang memuat penjelasan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai prospek investasi digital.
Rencana investasi Nvidia sebenarnya telah diungkap Airlangga pada September lalu. Keterangan terbaru menunjukkan bahwa nilai proyek masih dibahas, bukan investasi yang sudah dinyatakan selesai atau terealisasi.
Investasi Nvidia di Batam Masih Tahap Pembicaraan
Dalam keterangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga menyebut Nvidia sedang menjajaki investasi US$ 4,5 miliar di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam.
Nilai tersebut menjadi salah satu rencana investasi teknologi yang disoroti pemerintah seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur komputasi untuk kecerdasan buatan.
Airlangga sebelumnya mengungkap rencana tersebut dalam Antara Business Forum pada 23 September 2026. Sehari kemudian, ia kembali membicarakannya dalam kegiatan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI).
Dalam pemberitaan September, nilai US$ 4,5 miliar dikonversi menjadi sekitar Rp. 80 triliun. Adapun angka Rp. 81 triliun yang muncul dalam laporan Oktober menggunakan asumsi kurs berbeda.
Perbedaan nominal rupiah itu tidak dengan sendirinya menunjukkan penambahan nilai investasi dalam mata uang dolar AS.
Hingga keterangan terbaru pemerintah disampaikan, belum ada jadwal penyelesaian pembicaraan maupun rincian tahapan realisasi investasi yang diumumkan secara terbuka.
Batam Sudah Menjadi Lokasi Rencana Pusat Data AI Firmus
Di luar pembicaraan investasi senilai US$ 4,5 miliar tersebut, Batam telah menjadi lokasi rencana pengembangan pusat data AI melalui kerja sama Firmus Technologies, Nvidia, dan DayOne.
Pada Juni 2026, perusahaan infrastruktur AI asal Australia, Firmus Technologies, mengumumkan kerja sama komputasi dengan Nvidia hingga 2034.
Salah satu proyek utamanya adalah kampus pusat data Nvidia DSX AI Factory berkapasitas 360 megawatt (MW) di Batam yang dikembangkan bersama DayOne, perusahaan infrastruktur digital berbasis di Singapura.
Menurut pengumuman Firmus, kampus tersebut dirancang untuk mendukung penggunaan hingga 170.000 akselerator AI Nvidia secara bertahap pada 2027–2028.
Akselerator AI merupakan cip komputasi khusus yang digunakan untuk menjalankan pekerjaan berat, seperti melatih dan mengoperasikan model kecerdasan buatan.
Firmus menjelaskan bahwa kerja samanya dengan Nvidia mencakup penyediaan perangkat komputasi serta skema pendapatan dari layanan cloud atau komputasi awan.
Meski melibatkan nama Nvidia dan sama-sama berlokasi di Batam, belum ada penjelasan resmi yang memastikan bahwa seluruh nilai investasi US$ 4,5 miliar yang disebut Airlangga merupakan anggaran untuk kampus Firmus tersebut.
Karena itu, nilai investasi yang masih dijajaki pemerintah tidak dapat langsung disamakan dengan nilai proyek atau pendapatan yang diproyeksikan dalam pengumuman Firmus.
Baca Juga: Proyek Data Center AI 640 MW di Jatiluhur Disetop Sementara, Amdal dan PBG Belum Tuntas
Kebutuhan Pusat Data Indonesia Terus Berkembang
Pemerintah menempatkan pengembangan pusat data sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi digital Indonesia.
Menurut Airlangga, kapasitas pusat data yang sudah beroperasi secara nasional berada pada kisaran 600–700 MW.
Sementara itu, rencana proyek yang masih dalam tahap pengembangan atau pipeline mencapai sekitar 1,3 gigawatt (GW).
Angka 1,3 GW tersebut merupakan kapasitas proyek yang direncanakan, bukan kapasitas tambahan yang seluruhnya sudah beroperasi.
Pemerintah memperkirakan nilai investasi dari rangkaian proyek pusat data itu mencapai US$ 15 miliar hingga US$ 20 miliar.
Nilai tersebut menggambarkan potensi investasi sejumlah proyek secara lebih luas dan tidak boleh dianggap sebagai nilai investasi Nvidia saja.
Peningkatan kebutuhan pusat data berkaitan dengan semakin besarnya kebutuhan pemrosesan informasi dan layanan komputasi. Sistem AI, misalnya, membutuhkan perangkat komputasi berkinerja tinggi untuk menjalankan model, mengolah data, serta melayani permintaan pengguna.
Listrik, Air, dan Lahan Jadi Kebutuhan Penting
Meski menawarkan peluang investasi besar, pembangunan pusat data membutuhkan dukungan infrastruktur fisik yang memadai.
Airlangga menyoroti tiga kebutuhan utama, yakni lahan, pasokan listrik, dan air.
Ketersediaan listrik menjadi penting karena pusat data harus mengoperasikan server, jaringan, serta peralatan pendukung secara berkelanjutan.
Sistem pendinginan juga diperlukan untuk menjaga suhu perangkat komputasi. Kebutuhan listrik dan airnya dapat berbeda sesuai kapasitas fasilitas serta teknologi pendinginan yang digunakan.
Di Batam, BP Batam dan PLN Batam sebelumnya menyambut rencana ekspansi Firmus Technologies bersama Nvidia dan DayOne. Keduanya menyoroti pentingnya dukungan infrastruktur bagi pengembangan pusat data AI tersebut.
Namun, dukungan terhadap rencana proyek belum sama dengan kepastian seluruh fasilitas telah dibangun atau siap beroperasi.
Dalam pengumuman Juni 2026, proyek kampus AI Firmus di Batam ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal pertama 2027. Jadwal itu tetap merupakan target pengembangan perusahaan yang pelaksanaannya bergantung pada kemajuan proyek.
Baca Juga: Gemini 4 Argon Kini Bisa Dicoba di Indonesia, Ini Syarat dan Cara Aksesnya
Pemerintah juga mengaitkan penguatan infrastruktur digital dengan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6 persen pada 2027.
Dalam kerangka tersebut, pembicaraan Nvidia di Batam masih menjadi peluang investasi. Kepastian nilai akhir, bentuk keterlibatan perusahaan, dan jadwal pelaksanaannya menunggu perkembangan dari pihak-pihak yang terlibat.










