Bulatan Times – Sebanyak 68,5 persen siswa berusia 9–14 tahun yang mengikuti penelitian di empat sekolah dasar negeri (SDN) di Jakarta memiliki fungsi kognitif harian yang kurang baik.
Penelitian terhadap 1.007 siswa tersebut juga menemukan hubungan antara fungsi kognitif harian dan sejumlah faktor kesehatan, termasuk gangguan penglihatan serta risiko masalah kesehatan jiwa.
Temuan ini menunjukkan bahwa kesulitan anak dalam kegiatan belajar sehari-hari perlu dilihat bersama faktor kesehatan yang mungkin berkaitan dengannya.
Berikut hasil penelitian mengenai fungsi kognitif harian siswa dan kaitannya dengan kesehatan mata serta jiwa.
Hasil Penelitian Fungsi Kognitif Anak
Gangguan Penglihatan pada Siswa
Penelitian yang dilakukan Indonesia Health Development Center (IHDC) ini menggunakan PedsQL Cognitive Functioning Scale untuk menilai fungsi kognitif harian anak.
Penilaian tersebut mencakup kemampuan memperhatikan sesuatu, mengingat informasi, dan mengolah hal yang telah dipelajari.
Hasil pemeriksaan penglihatan menunjukkan 303 siswa atau sekitar 30 persen peserta mengalami kelainan refraksi yang memerlukan pemeriksaan lanjutan dan koreksi penglihatan.
Baca juga: Prosedur Operasi Katarak dan Pantangan yang Perlu Dihindari Setelahnya
Analisis penelitian juga menemukan hubungan antara risiko gangguan penglihatan dan fungsi kognitif harian anak.
Kelompok dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi memiliki odds mengalami fungsi kognitif harian kurang baik sekitar 3,1 kali dibandingkan kelompok dengan risiko penglihatan tidak ada hingga rendah.
Risiko Kecemasan dan Depresi
Selain penglihatan, penelitian tersebut menemukan hubungan antara risiko masalah kesehatan jiwa dan fungsi kognitif harian anak.
Kelompok dengan risiko kecemasan tinggi memiliki odds mengalami fungsi kognitif harian kurang baik sekitar 3,3 kali. Sementara itu, kelompok dengan risiko depresi tinggi memiliki odds sekitar 2,5 kali.
Penelitian ini juga mengukur harapan anak terhadap masa depan menggunakan Children’s Hope Scale.
Instrumen tersebut menilai keyakinan anak dalam berusaha dan menemukan cara untuk mencapai tujuan.
Hasilnya, 49,3 persen peserta memiliki skor harapan masa depan yang rendah. Skor ini tidak berarti anak tidak memiliki cita-cita atau kehilangan imajinasi, tetapi menggambarkan penilaian terhadap keyakinan mereka untuk mencapai tujuan.
Peneliti juga mengingatkan, studi ini hanya melibatkan siswa dari empat SD negeri di Jakarta. Karena itu, hasil penelitian tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh siswa di Jakarta maupun Indonesia.










