RIYADH, BULATAN TIMES – Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melaporkan pencegatan tiga drone di wilayah timur, selatan, dan Riyadh pada Sabtu (31/10/2026). Insiden tersebut terjadi ketika pertempuran antara koalisi Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali meningkat.
Juru bicara koalisi, Mayor Jenderal Turki al-Maliki, menyatakan pertahanan udara berhasil menghancurkan drone di wilayah timur dan selatan. Koalisi menyebut kedua drone tersebut diluncurkan oleh Houthi.
Dalam pengumuman terpisah, koalisi juga menyatakan telah menghancurkan sebuah drone yang disebut sebagai ancaman di wilayah Riyadh. Serpihan hasil pencegatan jatuh ke darat, tetapi tidak menimbulkan korban luka.
Otoritas Saudi belum memerinci sasaran drone yang dicegat di Riyadh maupun pihak yang meluncurkannya.
Houthi Bantah Tuduhan Serangan ke Mekkah
Ketegangan terbaru berlangsung setelah koalisi Saudi mengumumkan pencegatan drone di wilayah Mekkah pada Jumat (30/10/2026).
Koalisi menuding drone tersebut diluncurkan Houthi. Namun, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, membantah kelompoknya melakukan serangan terhadap wilayah Arab Saudi pada hari itu.
Saree menegaskan bahwa sasaran operasi militer kelompoknya adalah fasilitas minyak dan pangkalan militer Saudi, bukan kota suci Mekkah atau Madinah.
Sehari sebelumnya, Houthi juga mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terhadap fasilitas energi dan bandara Arab Saudi. Klaim mengenai keberhasilan serangan tersebut belum seluruhnya memperoleh konfirmasi independen.
Koalisi Saudi sendiri pada Kamis (29/10/2026) melaporkan pencegatan beberapa rudal balistik, termasuk dua rudal yang diarahkan menuju Riyadh.
Serpihan rudal yang dicegat dilaporkan melukai ringan seorang warga serta merusak sebuah rumah dan kendaraan di ibu kota Saudi.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Bandara Riyadh, Saudi Sebut Dua Rudal Dicegat
Fasilitas Minyak Arab Saudi Jadi Perhatian
Peningkatan serangan juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan fasilitas energi Arab Saudi.
Wilayah timur kerajaan merupakan pusat produksi minyak dan gas yang menampung sebagian besar cadangan energi negara tersebut. Kawasan ini juga menjadi lokasi sejumlah fasilitas penting perusahaan minyak Saudi Aramco.
Pada Kamis, Houthi mengklaim menyerang beberapa fasilitas energi, termasuk kilang Ras Tanura, Rabigh, dan fasilitas Aramco di Abqaiq.
Namun, klaim serangan tidak dapat disamakan dengan kerusakan yang telah dipastikan. Hingga laporan tersebut beredar, belum tersedia konfirmasi Saudi yang membuktikan seluruh fasilitas yang disebut Houthi mengalami gangguan operasional.
Ketidakpastian keamanan di kawasan Teluk terjadi bersamaan dengan gangguan pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur utama pengangkutan minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent kontrak Desember ditutup pada 117,64 dolar AS per barel pada Jumat (30/10/2026), naik sekitar 2,4 persen dalam sehari. Kenaikan tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran terhadap konflik Iran dan keamanan jalur pasokan energi Timur Tengah.
Baca Juga: Arab Saudi Konfirmasi 3 Warganya Tewas dalam Serangan Bandara Riyadh
Ekspor Minyak Saudi Belum Terbukti Terhenti
Meski serangan dan ancaman terhadap fasilitas minyak meningkat, pengiriman minyak mentah dari Arab Saudi masih berlangsung.
Data awal perusahaan pelacak kapal menunjukkan hasil yang berbeda. Dua dari tiga penyedia data memperkirakan ekspor minyak Saudi pada Oktober meningkat dibandingkan September, sedangkan satu penyedia lainnya mencatat penurunan.
Perbedaan tersebut antara lain dipengaruhi keterbatasan pelacakan kapal yang mematikan sinyal identifikasi karena alasan keamanan.
Hasil pelacakan sementara belum cukup untuk menyatakan seluruh pasokan minyak Saudi terhenti. Volume akhir ekspor dan dampak kerusakan fasilitas energi masih bergantung pada data operasional serta pembaruan resmi berikutnya.





