JAKARTA, BULATAN TIMES – Aktivitas industri manufaktur Indonesia menguat pada Oktober 2026. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) naik menjadi 53,77, terutama didorong peningkatan pesanan baru dan produksi.
Angka tersebut bertambah 1,84 poin dibandingkan September 2026 yang sebesar 51,93. IKI Oktober juga lebih tinggi daripada periode yang sama tahun lalu sebesar 53,50.
Capaian ini menjadi yang tertinggi sejak Februari 2026. Dengan nilai di atas 50, industri pengolahan nasional masih berada dalam fase ekspansi.
Sekretaris Jenderal Kemenperin Eko S.A. Cahyanto menyampaikan perkembangan tersebut dalam rilis IKI Oktober di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Pesanan Baru dan Produksi Sama-Sama Meningkat
Pesanan baru menjadi salah satu pendorong utama kenaikan IKI. Indeks pesanan mencapai 56,08 pada Oktober, meningkat 2,68 poin dari bulan sebelumnya.
Kenaikan juga terjadi pada indeks produksi yang mencapai 55,38, bertambah 1,60 poin dibandingkan September.
Namun, perbaikan belum terjadi pada seluruh indikator. Indeks persediaan barang hanya naik tipis 0,15 poin menjadi 45,60.
Angka tersebut masih berada di bawah batas ekspansi dan menunjukkan bahwa komponen persediaan mengalami kontraksi selama lima bulan berturut-turut.
Dari sisi pasar, industri berorientasi ekspor mencatat IKI sebesar 53,93, sedangkan industri yang berfokus pada pasar domestik berada di level 53,55. Keduanya masih menunjukkan ekspansi.
Baca Juga: Indonesia Bidik Rantai Nilai Global Kendaraan Listrik, Produksi Baterai dan Komponen Diperkuat
Sebanyak 19 Subsektor Industri Masuk Zona Ekspansi
Penguatan manufaktur juga terlihat dari bertambahnya jumlah subsektor yang berada dalam fase ekspansi.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dinilai, sebanyak 19 subsektor mencatat ekspansi pada Oktober. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan September yang mencapai 15 subsektor.
Industri makanan menjadi salah satu sektor yang menonjol. IKI subsektor ini mencapai nilai tertinggi sepanjang 2026, ditopang kenaikan pesanan, termasuk dari pasar ekspor.
Industri kertas dan barang dari kertas juga kembali memasuki fase ekspansi setelah mengalami kontraksi pada September.
Permintaan kertas kemasan menjelang Natal dan Tahun Baru menjadi salah satu faktor yang mendukung peningkatan pesanan pada subsektor tersebut.
Meski demikian, empat subsektor masih mengalami kontraksi, yakni industri kayu serta barang dari kayu dan gabus, percetakan dan reproduksi media rekaman, karet dan barang dari karet dan plastik, serta furnitur.
Kemenperin mencatat beberapa kendala yang masih dihadapi industri, antara lain melemahnya pesanan ekspor pada subsektor tertentu, gangguan distribusi bahan baku, dan kenaikan biaya produksi.
Baca Juga: Danantara Siapkan Industri Cip untuk Pusat Data AI, Tak Cuma Sewa Lahan
Pelaku Industri Masih Optimistis Menjelang Akhir Tahun
Sejalan dengan kenaikan IKI, sebagian besar pelaku usaha tetap memiliki pandangan positif terhadap kegiatan industri dalam enam bulan mendatang.
Sebanyak 67,4 persen responden menyatakan optimistis, sama dengan persentase pada September 2026. Sementara itu, 27,1 persen memperkirakan kondisi usaha akan stabil.
Porsi responden yang pesimistis turun menjadi 5,5 persen, dari 5,8 persen pada bulan sebelumnya.
Untuk kondisi usaha yang sedang berjalan, sebanyak 80,4 persen responden menyatakan aktivitas bisnisnya membaik atau stabil pada Oktober. Angka tersebut meningkat dari 77,9 persen pada September.
Pelaku industri juga melihat periode Natal dan Tahun Baru serta Ramadan 2027 sebagai peluang meningkatnya permintaan dan kegiatan produksi.
Meski pesanan baru menunjukkan penguatan, tantangan distribusi dan persediaan masih menjadi perhatian, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada kelancaran pasokan bahan baku dan pengiriman produk.





