JAKARTA, BULATAN TIMES – Indonesia dan Turkiye terus mengembangkan kerja sama industri pertahanan melalui rencana produksi bersama alat utama sistem senjata (alutsista) dan alih teknologi. Kedua bidang tersebut telah masuk dalam kesepakatan bilateral yang ditandatangani sejak Februari 2025.
Kerja sama itu tidak hanya diarahkan pada pembelian perlengkapan pertahanan dari Turkiye. Kedua negara juga membuka peluang pengembangan produk, produksi di dalam negeri, serta peningkatan kemampuan industri pertahanan Indonesia.
Pada 12 Februari 2025, Kementerian Pertahanan Indonesia dan Sekretariat Industri Pertahanan Kepresidenan Turkiye menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama strategis industri pertahanan.
Kesepakatan tersebut mencakup produksi bersama, pengembangan teknologi, pembentukan usaha patungan, hingga penelitian dan pengembangan peralatan pertahanan.
Radar, Rudal, dan Jet Tempur KAAN Masuk Kerja Sama
Kerja sama kedua negara kemudian ditindaklanjuti melalui sejumlah kesepakatan teknis saat Kepala Badan Industri Pertahanan Turkiye berkunjung ke Indonesia pada 10-16 Juni 2025.
Kesepakatan itu meliputi pengadaan dan alih teknologi jet tempur KAAN, pengembangan bersama sistem persenjataan, serta produksi bersama radar dan rudal.
Di luar program tersebut, nota kesepahaman Februari 2025 juga membuka peluang kerja sama pada kendaraan tempur nirawak, teknologi roket, platform udara, dan kapal perang.
Bidang pemeliharaan, perbaikan, dan modernisasi peralatan pertahanan turut masuk dalam cakupan kerja sama.
Baca Juga: TNI AU Kirim Pilot Rafale ke Prancis untuk Perdalam Taktik Tempur dan Penggunaan Senjata
Meski demikian, kesepakatan antarnegara tidak berarti seluruh produk yang dibahas sudah diproduksi bersama. Pelaksanaan masing-masing program masih bergantung pada perjanjian teknis, kesiapan industri, serta tahapan yang disetujui para pihak.
Produksi Bersama Ditujukan untuk Memperkuat Industri Dalam Negeri
Dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Recep Tayyip Erdogan di Istana Bogor pada Februari 2025, kedua negara menyepakati pentingnya memperluas hubungan industri pertahanan melampaui pengadaan barang.
Peluang pembentukan usaha patungan dan kehadiran perusahaan pertahanan Turkiye di Indonesia menjadi bagian dari pembahasan tersebut.
Salah satu bentuk kerja sama yang telah berlangsung sebelumnya adalah pengembangan tank medium Harimau oleh PT Pindad dan perusahaan pertahanan Turkiye, FNSS.
Program kendaraan tempur itu melibatkan pengembangan teknologi dan pembagian pekerjaan manufaktur antara kedua perusahaan.
Baca Juga: Prabowo Pimpin HUT ke-81 TNI, Resmikan 204 Satuan Baru dan Enam Kodam
Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar bagi kerja sama lanjutan yang mencakup pengembangan produk dan kemampuan produksi di Indonesia.
Pelaksanaan Kerja Sama Berlangsung Bertahap
Indonesia dan Turkiye kembali membahas penguatan hubungan pertahanan melalui forum dialog menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara di Ankara pada 9 Januari 2026.
Pembahasan mencakup pengembangan teknologi pertahanan, termasuk pesawat militer dan sistem persenjataan.
Pelaksanaan kerja sama industri pertahanan tetap memerlukan kesiapan teknis, kejelasan pembagian tanggung jawab, dan penyesuaian aturan di kedua negara.
Karena itu, produksi bersama dan alih teknologi dijalankan berdasarkan perkembangan masing-masing proyek, bukan sebagai satu program dengan waktu penyelesaian yang sama.





