Bulatan Times – Presiden China Xi Jinping membawa pesan rekonsiliasi ketika memulai kunjungan kenegaraan di Amerika Serikat. Ia menyatakan kebangkitan China dan agenda Presiden Donald Trump untuk “Make America Great Again” tidak harus saling bertentangan.
Dalam pernyataan tertulis setelah tiba di Washington, Xi mengatakan China dan Amerika Serikat seharusnya menjadi mitra, bukan rival.
Ia menilai kepentingan kedua negara telah saling terhubung dan kerja sama dapat membantu masing-masing mencapai tujuan pembangunan nasionalnya.
Pesan tersebut menarik karena Xi secara langsung menggunakan slogan politik yang identik dengan Trump.
Namun, pernyataan itu tidak berarti Beijing menyatakan dukungan terhadap agenda politik domestik Trump.
Dalam konteks diplomatik, Xi menggunakannya untuk menyampaikan pandangan bahwa kebangkitan China tidak harus berlangsung dengan mengorbankan Amerika Serikat.
Baca Juga: Xi Jinping Tiba di AS, Disambut Trump dan Komunitas China di Washington
Xi: Kebangkitan China dan MAGA bisa berjalan bersama
Xi mengaitkan dua agenda nasional yang selama ini sering dipandang berada dalam persaingan.
Di China, pemerintah Xi menggunakan konsep great rejuvenation of the Chinese nation atau kebangkitan besar bangsa China sebagai salah satu tujuan nasional jangka panjang.
Sementara Trump menggunakan “Make America Great Again” sebagai slogan utama agenda politiknya di Amerika Serikat.
Dalam pernyataannya di Washington, Xi mengatakan kedua tujuan tersebut dapat berjalan beriringan, saling melengkapi, serta memberikan manfaat yang lebih luas.
Pesannya adalah bahwa kemajuan salah satu negara tidak harus berarti kemunduran negara lainnya.
Bukan pertama kali Xi menggunakan slogan Trump
Pernyataan di Washington sebenarnya melanjutkan pesan yang sudah disampaikan Xi beberapa bulan sebelumnya.
Ketika Trump melakukan kunjungan kenegaraan ke China pada Mei 2026, Xi juga mengangkat slogan MAGA dalam pertemuan pribadi mereka di Zhongnanhai, Beijing.
Menurut catatan resmi Kementerian Luar Negeri China, Xi ketika itu mengatakan Trump ingin membuat Amerika kembali hebat, sementara dirinya berkomitmen memimpin rakyat China menuju kebangkitan besar bangsa China.
Xi kemudian mengatakan peningkatan kerja sama dapat membantu pembangunan dan revitalisasi kedua negara.
Dengan demikian, penggunaan slogan MAGA di Washington bukan perubahan mendadak dalam posisi Beijing.
Xi justru mengulang formula diplomatik yang sudah digunakannya dalam pertemuan Mei.
Baca Juga: Trump Tekan Dominasi Drone China, AS Perketat Impor
Xi ingin AS dan China menjadi mitra
Bagian lain dari pesan Xi adalah ajakan agar Washington dan Beijing tidak mendefinisikan hubungan mereka semata-mata melalui persaingan.
Xi mengatakan China dan AS seharusnya menjadi mitra dan bukan rival.
Menurutnya, masyarakat kedua negara telah lama melakukan pertukaran dan kepentingan ekonomi mereka juga terhubung erat.
Xi menginginkan hubungan yang stabil dengan kerja sama sebagai unsur utama, persaingan yang tetap berada dalam batas, serta perbedaan yang dapat dikelola.
Formulasi tersebut tidak berarti persaingan AS-China berakhir.
Kedua negara tetap berbeda dalam sejumlah persoalan strategis, mulai dari perdagangan, teknologi hingga Taiwan.
Pesan damai di tengah persaingan yang belum selesai
Kunjungan Xi berlangsung ketika hubungan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia relatif lebih stabil dibandingkan periode ketika perang tarif meningkat.
Namun, sejumlah sumber perselisihan masih ada.
Perdagangan, Taiwan, kecerdasan buatan, dan persoalan geopolitik termasuk isu yang membayangi hubungan kedua negara.
Karena itu, pernyataan Xi tentang MAGA lebih tepat dibaca sebagai gambaran mengenai arah hubungan yang ingin dibangun Beijing.
China ingin menunjukkan bahwa peningkatan kekuatan ekonomi dan politiknya tidak harus diperlakukan Washington sebagai permainan zero-sum.
Trump dan Xi sebelumnya sepakat menjaga stabilitas
Pertemuan di Washington merupakan kelanjutan dari pertemuan Trump dan Xi di Beijing pada Mei.
China menyatakan kedua pemimpin ketika itu sepakat mendorong hubungan bilateral yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis.
Xi kembali merujuk kesepahaman tersebut ketika tiba di AS.
Menurutnya, kesepakatan tingkat pemimpin harus memberikan arahan bagi perkembangan hubungan kedua negara.
Kunjungan Washington kemudian menjadi kesempatan untuk melihat apakah pesan politik tersebut dapat diterjemahkan menjadi kemajuan dalam persoalan yang lebih konkret.
Perdagangan tetap menjadi ujian
Salah satu bidang yang paling mudah menguji hubungan tersebut adalah perdagangan.
AS dan China masih mempunyai kepentingan ekonomi yang besar satu sama lain, tetapi Washington berupaya mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah rantai pasok China.
Trump juga menjadikan pembangunan kembali industri manufaktur AS sebagai bagian penting agenda ekonominya.
Sementara itu, China masih memiliki mesin ekspor yang sangat besar.
Surplus perdagangan China tetap kuat menjelang pertemuan Xi-Trump meskipun Washington telah melakukan berbagai langkah untuk membatasi sebagian impor dan ketergantungan terhadap China.
Kondisi tersebut membuat slogan mengenai kemajuan bersama menghadapi ujian nyata ketika menyentuh kebijakan perdagangan.
Gencatan dagang memberi ruang negosiasi
Menjelang pembicaraan kedua pemimpin, Washington dan Beijing juga berupaya mencegah perselisihan dagang kembali meningkat.
Pejabat kedua negara telah mempertahankan mekanisme gencatan perdagangan yang memberi waktu bagi negosiasi lanjutan.
Tujuannya bukan menghapus seluruh perselisihan, tetapi menjaga agar tarif dan pembatasan ekonomi tidak kembali meningkat tanpa kendali.
Stabilitas tersebut penting bagi kedua negara.
China membutuhkan akses pasar global untuk mempertahankan pertumbuhan, sedangkan AS mempunyai kepentingan menjaga harga barang, rantai pasok, dan akses perusahaan Amerika ke pasar China.
Persaingan teknologi belum hilang
Teknologi menjadi persoalan yang lebih sulit.
Amerika Serikat dan China bersaing dalam pengembangan kecerdasan buatan, semikonduktor, pusat data, telekomunikasi, hingga teknologi manufaktur.
Washington selama beberapa tahun menggunakan kontrol ekspor untuk membatasi akses China terhadap sejumlah chip dan peralatan semikonduktor canggih.
Beijing pada saat yang sama berusaha mempercepat kemampuan industri domestiknya.
Karena itu, gagasan bahwa kedua negara dapat membantu keberhasilan satu sama lain mempunyai batas ketika menyentuh teknologi yang dianggap strategis bagi keamanan nasional.
Pertemuan Trump-Xi belum otomatis menghapus pembatasan tersebut.
Taiwan tetap menjadi persoalan paling sensitif
Pesan mengenai kemitraan juga berhadapan dengan perbedaan mendasar mengenai Taiwan.
Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayah China.
Amerika Serikat mempertahankan hubungan tidak resmi dengan Taipei dan menjadi pemasok utama persenjataan bagi Taiwan.
Persoalan ini sudah muncul dalam pertemuan Trump dan Xi sebelumnya.
Karena itu, hubungan “mitra bukan rival” yang ditawarkan Xi tetap mempunyai batas politik dan keamanan yang jelas.
Xi ingin persaingan tetap terkendali
Pernyataan Xi tidak meminta agar seluruh kompetisi dihentikan.
Formulasi yang digunakan Beijing justru mengakui keberadaan persaingan.
Xi menyerukan hubungan yang menempatkan kerja sama sebagai unsur utama, persaingan tetap terkendali, perbedaan dapat dikelola, dan prospek perdamaian tetap dijaga.
Perbedaan ini penting.
China tidak menyatakan bahwa AS dan China akan mempunyai kepentingan yang sama dalam seluruh persoalan.
Pesannya lebih kepada mencegah persaingan berkembang menjadi konfrontasi.
Kedatangan Xi mendapat perlakuan khusus dari Trump
Nada diplomatik Xi juga muncul setelah ia memperoleh sambutan yang tidak biasa dari Trump.
Trump dan Ibu Negara Melania Trump datang langsung ke Joint Base Andrews untuk menyambut Xi dan Peng Liyuan pada Rabu, 23 September.
Gedung Putih sebelumnya mengonfirmasi Trump akan melakukan penyambutan tersebut sebelum rangkaian acara kenegaraan di Gedung Putih pada hari berikutnya.
Upacara kedatangan mencakup karpet merah, lagu kebangsaan kedua negara, penghormatan militer, 21 tembakan meriam dan atraksi udara.
Penyambutan tersebut memberi latar simbolik bagi pesan Xi mengenai hubungan yang lebih kooperatif.
Trump juga menekankan pentingnya hubungan AS-China
Trump sebelumnya beberapa kali menggambarkan hubungannya dengan Xi secara positif.
Dalam pertemuan mereka di Beijing pada Mei, Trump menyebut hubungan AS-China sangat penting dan mengatakan dirinya ingin mempertahankan komunikasi langsung dengan Xi.
Namun hubungan personal kedua pemimpin tidak menghilangkan perbedaan kebijakan pemerintah masing-masing.
Washington masih menjalankan kebijakan yang dirancang untuk melindungi industri dan teknologi strategis AS.
Beijing juga tetap mempertahankan kebijakan yang dianggap penting bagi kepentingan nasional China.
MAGA digunakan Xi sebagai bahasa diplomasi
Karena itu, penggunaan istilah MAGA oleh Xi mempunyai nilai simbolik lebih besar daripada konsekuensi kebijakan langsung.
Xi mengambil slogan yang sangat identik dengan Trump lalu memasangkannya dengan proyek nasional China.
Pesannya sederhana: Washington tidak harus memilih antara Amerika yang kuat dan China yang berkembang.
Menurut Beijing, keduanya dapat berlangsung bersamaan.
Pernyataan tersebut tentu merupakan posisi diplomatik China, bukan kesimpulan bahwa seluruh kepentingan kedua negara benar-benar selaras.
Fakta bahwa kedua negara masih berselisih dalam perdagangan, teknologi, keamanan, dan Taiwan menunjukkan adanya batas yang nyata.
Pertemuan Trump-Xi menjadi ujian berikutnya
Xi mengatakan dirinya ingin melakukan pembicaraan mendalam dengan Trump mengenai hubungan bilateral dan situasi internasional.
Kunjungan berlangsung pada 23–25 September dan merupakan kunjungan kenegaraan pertama Xi ke Washington dalam lebih dari satu dekade. Gedung Putih menjadwalkan upacara kenegaraan serta pertemuan kedua pemimpin pada 24 September.
Hasil pembicaraan tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai seberapa jauh retorika kemitraan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan.
Untuk saat ini, pernyataan Xi menunjukkan satu hal yang cukup jelas.
Beijing ingin meyakinkan Washington bahwa “Make America Great Again” dan kebangkitan China tidak harus dipandang sebagai dua proyek yang saling meniadakan.
Apakah gagasan tersebut dapat bertahan ketika menyentuh perdagangan, teknologi dan Taiwan menjadi pertanyaan yang jauh lebih sulit.











