Bulatan Times – Evakuasi korban KM Virgo Transport 8 tidak berhenti ketika jenazah berhasil dikeluarkan dari bangkai kapal. Di tengah Laut Jawa, tim udara masih harus menentukan cara paling aman membawa korban menuju daratan, dengan kondisi angin dan gelombang yang dapat berubah dalam waktu singkat.
Kapten Pilot Helikopter Basarnas HR-3601, Kapten Laut (P) M. Dimas Andromeda, pernah menghadapi kondisi angin sekitar 27 knot saat menjemput korban dari kapal SAR. Gelombang membuat kapal terus bergerak sehingga helikopter tidak dapat mendarat seperti pada penerbangan sebelumnya.
Pilihan akhirnya jatuh pada metode hoist. Helikopter bertahan melayang di atas kapal, sementara korban diangkat menggunakan perangkat evakuasi menuju kabin.
Keputusan itu membuat satu operasi evakuasi udara bisa berbeda dengan penerbangan berikutnya. Ketika cuaca cukup mendukung, HR-3601 dapat mendarat di kapal untuk membawa korban. ANTARA mencatat metode pendaratan sempat digunakan pada evakuasi dua korban setelah kondisi di tengah laut dinilai memungkinkan.
Baca Juga: Pencarian Korban KM Virgo Transport 8, Arus Laut Jadi Tantangan Penyelam Basarnas
Pendaratan Bergantung Kondisi Kapal dan Cuaca
Bagi awak helikopter, persoalannya bukan hanya seberapa kencang angin bertiup. Gerakan kapal akibat gelombang ikut menentukan apakah pendaratan masih berada dalam batas aman.
Pada salah satu operasi, angin sekitar 27 knot dan gelombang yang cukup tinggi membuat pendaratan dibatalkan. Helikopter kemudian menggunakan hoist untuk mengambil korban dari KN SAR Kamajaya.
Dalam penerbangan lain, kondisi lebih bersahabat. Helikopter Basarnas bisa mendarat dan membawa korban dari kapal menuju Lanud Sjamsudin Noor sebelum jenazah diteruskan untuk proses identifikasi.
Perubahan metode tersebut menunjukkan bahwa pola evakuasi tidak dapat ditetapkan sama untuk setiap penerbangan. Awak harus membaca kondisi saat tiba di lokasi dan menyesuaikannya dengan keselamatan pesawat, kapal, serta personel yang terlibat.
Dukungan helikopter menjadi penting karena lokasi operasi berada jauh dari daratan. Setelah penyelam menemukan korban di bangkai KM Virgo Transport 8, jenazah terlebih dahulu dipindahkan ke kapal SAR sebelum diterbangkan menuju Banjarmasin untuk proses berikutnya.
Baca Juga: KM Virgo Transport 8: Kronologi Kecelakaan hingga Evakuasi Korban dari Bangkai Kapal
Kabut Asap Hambat Evakuasi dari Kalimantan Tengah
Tantangan udara muncul pula ketika sejumlah korban ditemukan jauh dari titik utama kecelakaan, di kawasan pesisir Kalimantan Tengah.
Tim SAR sempat merencanakan penggunaan helikopter untuk mempercepat evakuasi. Namun, kabut asap akibat kebakaran hutan membuat rencana penerbangan dibatalkan dan korban akhirnya dibawa melalui jalur darat.
Perjalanan itu juga tidak sederhana. Beberapa titik penemuan berada di kawasan terpencil yang tidak dapat dijangkau kendaraan roda empat. Petugas harus membawa korban dengan kendaraan roda dua sebelum perjalanan dilanjutkan menuju wilayah perkotaan.
Dengan demikian, pola evakuasi korban KM Virgo berkembang mengikuti lokasi penemuan. Korban yang ditemukan di sekitar bangkai kapal dapat dipindahkan melalui kapal dan helikopter, sedangkan temuan di pesisir Kalimantan Tengah membutuhkan kombinasi perjalanan dari daerah terpencil dan jalur darat.
Baca Juga: KMP Virgo Transport 8 Akan Diangkat, Evakuasi Korban Tetap Jadi Prioritas
Operasi SAR Diperpanjang, 71 Orang Masih Dicari
Operasi pencarian masih berlangsung. Data Basarnas hingga Sabtu, 26 September 2026 pukul 20.00 WITA mencatat 172 dari 243 orang dalam manifes telah ditemukan.
Sebanyak 108 orang ditemukan selamat dan 64 orang meninggal dunia. Masih ada 71 orang dalam pencarian. Data itu memperbarui angka-angka sebelumnya yang muncul selama operasi.
Basarnas juga memutuskan memperpanjang operasi SAR selama tujuh hari. Pencarian tetap dilakukan melalui penyelaman, penyisiran laut, dan dukungan unsur udara, dengan evaluasi berkala terhadap perkembangan di lapangan.











